BAGAIMANA BERIMAN KEPADA TAKDIR ALLAH ITU ?

Sidang pembaca, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Tulisan saya sesuai judul tersebut diatas semoga mendapat tempat dihati sidang pembaca, menyejukkan, menjadi sebagai tambahan ilmu dan yang paling saya berharap sebagai sarana syiar dakwah artikel religius ini mengena pada sasaran satu titik, yaitu menjadi tersebar luaskannya nilai-nilai Islam. Beriman kepada takdir Allah SWT yang berlaku bagi semua makhluk. Kesemuanya itu sebagai bukti akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

  • Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini:

Artinya : Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid : 22)

    Maksud dari ayat tersebut diatas adalah bahwa apapun yang terjadi di alam fana ini dan menimpa diri kita, semua atas kehendak Allah SWT. Allah berkuasa memberlakukan keteguhan iman kita dan Allah berkuasa memberlakukan ketentuanNya (takdirNya) tentu saja sebagai muslim kita harus meyakini semua itu, apapun yang menimpa diri kita apakah itu kesenangan ataupun kesedihan kita tawakal dan mengembalikan kepada Allah SWT.

    Saudaraku, orang yang beriman kepada takdir Allah tidak akan putus asa ketika tertimpa suatu musibah ataupun kegagalan. Tetapi juga tidak sombong ketika sukses dan bukankah itu semua dari Allah? Ikhtiar dan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh hasil terbaik adalah merupakan langkah awalan yang sangat dianjurkan. Setiap kita jangan heran kalau masih ada yang terkebelakang. Mengapa? Karena kita tidak mau merobah sifat malas, sembrono dan tidak disiplin. Kalau kita mau maju, kita harus merobah sifat malas, kita harus disiplin, tidak sembrono dan kita harus bersemangat, harus berusaha dengan keras untuk dapat maju. Sebab hanya dengan semangat, disiplin dan teliti kepada usaha keras kita maka insya Allah kita bisa menjadi yang tidak terkebelakang.

  • Perhatikan Firman Allah SWT :

Artinya : ”…. sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kamu (mereka) mengubah keadaan (nasib) diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’da : 11)

    Dengan demikian seorang muslim harus bergembira dan selalu optimis menatap masa depannya. Sebab Allah SWT akan memberikan takdirNya yang baik kepada para hambaNya yang berperangsangka baik kepadaNya yang dengan sungguh-sungguh berikhtiar. Yang penting kita berusaha dan berusaha sedangkan hasilnya kita tawakal (berserah diri) kepadaNya, kepada Allah SWT. Bukankah dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW pernah menyuruh Sahabat untuk mengikat untanya terlebih dahulu baru setelah itu bertawakal kepada Allah SWT?
    Saudaraku sidang pembaca, berbicara mengenai iman kepada takdir Allah tentunya tidak terlepas dari pembicaraan setentang rukun iman yang keenam atau rukun yang terakhir, yaitu percaya (iman) kepada Qodo dan Qodar. Qodo dan Qodar dalam pembicaraan sehari-hari disebut juga takdir. Qodo artinya Ketentuan atau ketetapan Allah SWT yang belum terjadi. Bahkan Qodo ini telah ditentukan sejak zaman azali (zaman sebelum diciptakannya alam semesta ini) dan ketentuan Allah ini tertulis di Lauh Mahfuz. Qadar adalah ketentuan Allah yang sudah terjadi. Takdir merupakan Rahmat Allah dan tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya. Takdir baru bisa diketahui setelah terjadi. Dengan mempelajari iman kepada takdir Allah diharapkan kita memperoleh banyak manfaat. Diantaranya adalah memperkuat iman yang melekat didada dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sabar, syukur dan tawakal serta menumbuhkan akan gairah (bersemangat) berikhtiar. Sementara apa yang dimaksud dengan pengertian iman itu?

  • Perhatikan Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

Telah bersabda Rasulullah SAW :
Artinya : “yang dimaksud beriman yaitu bahwa kamu percaya kepada Allah, para malaikanNya, kitab- kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim)

    Sekarang bagaimana pula, itu setentang ketentuan baik dan buruk? Warna kulit kita, kebangsaan kita, tempat kelahiran kita adalah takdir Allah yang sudah tidak dapat ditawar dan dihindari lagi. Kesemuanya itu diluar kesadaran dan pemikiran kita. Inilah takdir dan pemikiran kita. Inilah takdir Allah yang tetap dan sudah kita ketahui bersama.

    Sebuah contoh lain, Yudasmantho sudah lama menderita sakit, ia sudah berusaha berobat ke dokter, ke tabib bahkan ke berbagai pengobatan alternatif. Namun penyakit Yudasmantho tidak kunjung sembuh, ia mulai putus asa dan tak tahan menderita sakit yang berkepanjangan seperti ini dan ia ingin mati saja. Suatu saat ia mencoba bunuh diri dengan terjun ke sungai yang dalam dan deras airnya, Yudasmanto terbawa arus sungai dan tersangkut di akar-akar kayu. Kebetulan ada orang yang melihat lalu menolongnya. Akhirnya nyawa Yudasmanto dapat diselamatkan.

    Sementara pak Burhandoyo orang kaya dan hidupnya senang. Badannya sehat wal afiat. Pada suatu pagi dirumah pak Burhandoyo terdengar ribut-ribut dan terlihat semua anggota keluarga pak Burhandoyo menangis. Gerangan apa yang terjadi? Rupanya pak Burhandoyo sudah tiada. Inna Lillahi Wainnaa lillahi rooji’uun. Sekujur tubuh pak Burhandoyo dingin dan kaku dan jantungnya telah berhenti berdenyut. Pak Burhandoyo benar-benar telah meninggal dunia. Padahal semalam ketika pak Burhandoyo akan pergi tidur beliau terlihat begitu segar bugar. Sementara Yudasmanto yang sudah lama sakit bahkan yang mencoba bunuh diri sampai sekarang masih tetap hidup. Saudaraku, inilah yang disebut takdir Allah atau Qodo dan Qodar Allah.

    Lantas bagaimana dengan orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat? Apakah perbuatan mereka itu juga termasuk takdir Allah? Dan apakah Allah yang menciptakan perbuatan atas manusia? Kalau begitu layakkah orang yang berdosa karena takdir Allah mendapat siksa di Neraka? Jawabannya : Betul! Ini takdir Allah juga. Takdir yang satu ini belum kita ketahui dan belum kita lakukan. Bukankah kita tidak tahu apa yang akan kita kerjakan esok? Kalau kita tidak tahu apa yang akan kita kerjakan esok nanti, kenapa kita merencanakan berbuat jahat? Bukankah manusia diberi otak oleh Allah untuk berpikir? Dengan otaknya manusia dapat memilih untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan menghindari yang jahat. Jika ternyata manusia itu memilih berbuat jahat, bukankah itu namanya lari dari takdir yang baik? Tidak bisa dikatakan bahwa orang yang berbuat jahat itu karena memang ditakdirkan Allah berbuat jahat. Dan orang yang berbuat baik itu karena memang ditakdirkan Allah berbuat baik. Jadi manusia itu diberi kebebasan untuk memilih. Apakah ia memilih jalan taqwa atau jalan menuju dosa?

    Sedangkan Allahlah yang mentakdirkan manusia untuk dapat melakukan sesuatu perbuatan misalnya seseorang yang telah bekerja dengan begitu giat. Berusaha dan berupaya sekuat tenaga dan pikiran dengan tidak mengenal lelah siang dan malam terus saja bekerja. Tetapi hidupnya masih tetap saja miskin. Sebaliknya banyak orang yang mendapat keberuntungan tanpa usaha yang sungguh-sungguh malahan dapat dikatakan hanya dengan berpangku tangan atau goyang-goyang kaki saja.

Tetapi keberuntungan demi keberuntungan diperoleh oleh mereka dan jadilah mereka orang-orang yang sukses, orang-orang yang kaya. Mengapa? Karena ini adalah Qodo dan Qodar Allah SWT. Kalau begitu untuk apa kita belajar, kita bekerja dengan giat? Toh hasilnya pasti akan sia-sia. Bukankah Allah sudah menentukan nasib manusia? Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Anggapan orang yang seperti ini adalah anggapan yang salah. Sebagai insan beriman kita jangan sampai terpengaruh dengan pemikiran yang keliru dan salah besar ini.

    Beriman kepada Qodo dan Qodar tidak berarti kita pasrah menunggu nasib. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi atas diri kita bukan? Kerena kita tidak tahu maka seyogyanya yang kita harus lakukan adalah berusaha agar yang terjadi atas diri kita adalah hal-hal yang baik. Allah memang telah menentukan nasib kita yaitu baik atau buruk. Tentunya kita berharap agar kita memperoleh yang baik dan terhindar dari yang buruk. Untuk itu kita harus berusaha. Artinya jika ingin menjadi orang pandai maka kita harus rajin belajar. Begitu pula jika kita ingin menjadi orang kaya maka kita harus giat bekerja dan berusaha. Bukankah Allah dan RasulNya menyuruh kita agar giat bekerja?

  • Perhatikan Firman-Nya :

Artinya : “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.” (QS. At-Taubah : 105)

    Setelah berusaha hendaknya kita berdo’a, memohon kepada-Nya agar apa yang kita cita-citakan (inginkan) menjadi kenyataan. Adapun dalam kehidupan sehari-hari kita harus menerima kenyataan bahwa Allah menciptakan nasib manusia berbeda-beda. Ada yang menjadi pejabat, guru, petani, pedagang dan buruh atau kuli panggul. Tidak mungkin manusia ditakdirkan semuanya mempunyai nasib yang sama. Jika semua manusia menjadi pegawai lantas siapa yang akan menanam padi di sawah? Jadi sebagai insan beriman yang harus kita lakukan adalah bertawakal kepada Allah. Berusaha dan berdo’a meraih prestasi yang terbaik, sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT. Beriman kepadas Qodo dan Qodar pastinya mempunyai pengaruh yang sangat besar pada kehidupan seorang mukmin yakni sebagai berikut : Keberanian pantang mundur dan tidak tunduk kepada kekuatan siapapun di dunia ini, terbebas dari penyakit tinggi hati sebab ia cuma mampu berusaha, sedangkan memberi keberhasilan adalah Allah SWT, sabar dan tidak putus asa, tenang dalam mengarungi kehidupan sebab segala sesuatu berjalan sesuai takdir Allah. Dia Maha Mengetahui sementara manusia tidak mengetahuinya. Dan yang paling besar adalah pengaruh semangat dalam beramal, bekerja dan bertawakal kepada Allah SWT.

    Akhir dari tulisan ini, ingin penulis menyampaikan Firman Allah SWT dalam surat AN-Nisa ayat 78, seperti berikut :
Artinya : “Dimanapun kamu berada kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan : Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan : Ini dari Engkau (Muhammad) Katakanlah : Semua (datang) dari sisi Allah. Maka kenapa orang-orang itu (munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)? (QS. An-Nisa : 78)

    Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wabillahitaufik Walhidayah Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

                                                              ? ? ?
(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku :Amanah (Akidah Akhlak) semester ganjil, Penerbit : Swadaya Mumi dan buku : Aqidah Akhlak oleh : Drs. Masan Alfat dan Drs. Abdul Rasyid, Penerbit : CV. Toha Putra Semarang.)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.