KEUTAMAAN DAN KEKUATAN DZIKRULLAH

Saudaraku sesama muslim.
Alhamdulillah ! Jumpa lagi kita sidang pembaca, kali ini dakwah saya (lewat tulisan) adalah pembahasan setentang dzikrullah. Saudaraku, seperti kita ketahui bahwa di dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT berfirman :
 
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kamu (dengan menyebut nama Allah) dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab : 41 – 42)
Kemudian di dalam sebuah Hadist yang cukup panjang dari Abi Hurairah ra dan diriwayakan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad dan An-Nasai dimana diterangkan bahwa ada 7 (tujuh) macam golongan di padang Mahsyar yang tidak kepanasan karena mendapat naungan dari Allah.
            Saudaraku, dzikir adalah salah satu dari 7 (tujuh) macam golongan yang tidak kepanasan di padang Mahsyar karena mendapat naungan Allah SWT. Subhanallah ! Saudaraku, keutamaan dzikir memang tidak diragukan lagi.
Kemudian Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, dimana Rasulullah SAW ditanya oleh Sahabat :
“Manakah hamba yang paling tinggi derajatnya disisi Allah pada hari Kiamat ? “Rasulullah bersabda : “Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Turmudzi)
Kemudian dari Abdullah bin Bushir, pernah seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW :
Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya syariat-syariat Islam terhadap diriku itu banyak sekali, maka tunjukkanlah aku mengenai sesuatu yang akan aku jadikan pegangan. Jawab Rasul : “Hendaklah mulut kamu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Saudaraku, demikian kelebihan dan ketinggian derajat orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah SWT. Kembali kita harus mengakui bahwa keutamaan dan kekuatan dzikir memang tidak pantas untuk diragukan.
         
Disini sebaiknya kami (penulis) akan menukilkan beberapa penafsiran dari beberapa Ahli Tafsir yang kenamaan (cukup populer) yang menekankan betapa pentingnya kedudukan dan martabat dzikir itu dalam hubungannya dengan ibadah kepada Allah SWT.
·                    Al-Allamah Jamaluddin Al-Qasimi mengatakan : “Bahwa ayat (Firman Allah SWT) yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat 41 – 42, bersifat perintah yang menyuruh kita untuk senantiasa mengingat dan menyebut nama Allah yang berhak dipuji dan dibesarkan. Dzikran Katsiiraa adalah maksudnya pada setiap waktu dan keadaan.”
·                    Ibnu Abbas ra seorang ahli tafsir yang terkenal semenjak zaman Rasul dan zaman Sahabat, beliau mengemukakan : “Sesungguhnya Allah SWT tidak mewajibkan sesuatu kewajiban kepada hamba-Nya, melainkan Ia tetapkan batasnya yang tertentu. Kemudian Ia berikan kelonggaran, bila ada udzur atau halangan, kecuali dzikir. Maka Allah SWT tidak memberikan batas tempat berhenti. Dan tidak memberikan ma’af atas orang yang meninggalkannya, kecuali orang yang tidak waras lagi akalnya. Dan Allah SWT menyuruh mereka (orang-orang yang beriman) supaya berdzikir dalam segala keadaan.”
·                    Perhatikan Firman-firman Allah SWT berikut ini :
 
“Maka sebutlah Allah dalam keadaan berdiri dan di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa : 103)
  •  
“Dzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41)
  •  
“Dan bertasbihlah kepada Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab : 42)
Menurut Ibnu Abbas ra :
Arti dari di awal siang dan di akhirnya adalah supaya  pengaruh tasbih itu tetap meresap sepangjang siang dan sepanjang malam. Karena dzikirnya dan tasbihnya memberi Faedah mendatangkan nur ke dalam hati, ketika lapang dan bebas dari segala kesibukan.
·       
 

Kemudian ahli tafsir Zamakhsyari dalam tafsir AL-KASYSYAAF menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan udzkurullah, pujilah Allah itu dengan segala macam pujian, terdiri dari taqdis, tahmid, takbir dan lain-lain sebagainya. Dan perbanyaklah dzikir yang demikian (Bukratan wa ashiilaa) artinya dalam segala waktu. Selanjutnya beliau (Zamakhsyari) menekankan : “Tasbih adalah sebagian dari dzikir. Akan tetapi khusus disebutkan dari jenis-jenis dzikir lainnya adalah sama dengan mengkhususkan menyebut malaikat Jibril, Mikail dari kalangan malaikat untuk menyatakan kelebihannya, dibandingkan dengan dzikir lainnya. Karena maksudnya untuk mensucikan Dzat Allah SWT dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak, dan membersihkan-Nya dari segala yang keji. Dimaksud dengan dzikir dan membanyakkannya ialah dengan membanyakkan keta’atan dan kebaikan adalah tergolong dzikir. Kemudian dikhususkan dan ditekankan kepada tasbih karena pentingnya.”

 
Saudaraku, demikian beberapa penafsiran dari beberapa ahli tafsir kenamaan yang menekankan betapa pentingnya setentang kedudukan dan martabat dzikir di dalam hubungannya dengan ibadah kepada Allah SWT. Lantas bagaimana kepada orang-orang yang tidak pernah ingat dan tidak pernah berdzikir kepada Allah SWT ?
Allah SWT memberikan ancaman kepada mereka, sesuai Firman-Nya :
  •  
“Dan barang siapa yang berpaling dari mengingat Aku (dzikir kepada Ku) maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha : 124)
            Maksudnya orang yang tidak berdzikir mengingat Allah, niscaya Allah akan mempersempit kehidupan dan penghidupan mereka, baik yang bersifat material, maupun yang berbentuk mental spiritual. Kesempitan dan kepicikan hidup material dengan rezeki mereka. Sedangkan kepicikan dan kesempitan hidup mental spiritual, misalnya walaupun mereka memiliki kebutuhan kebendaan yang cukup, tetapi disusahkan hatinya, tidak pernah tentram batin dan jiwanya.
            Saudaraku sesama muslim.
Sebenarnya apa pengertian dzikir itu ? Dikemukakan oleh ahli ilmu agama bahwa dzikir itu ialah menyebut Allah dengan membaca tasbih (Subhanallah), membaca tahlil (Laa ilaaha illallaah), membaca tahmid (Alhamdulillaah), membaca taqdis (Quddusuun), membaca takbir (Allahu Akbar), membaca hauqalah (Laa haula wala quwwata illa billaah), membaca hasbalah (Hasbiyallah), membaca basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim), membaca Al-Qur’anul Karim dan membaca do’a-do’a yang ma’tsur (yang diterima atau yang bersumber) dari Rasulullah SAW.
            Selain itu digolongkan juga dengan dzikir, yaitu mengerjakan segala jenis keta’atan kepada Allah SWT. Oleh karena itu segala kegiatan pertemuan yang diadakan untuk mengaji dan memperbincangkan masalah agama, dinamakan majlis dzikir (majlis ilmu). Hal ini pernah ditegaskan oleh ATHA demikian : “Majlis-majlis yang dibentuk membahas soal halal dan haram dianggap sebagai majlis dzikir (majlis menyebut nama Allah) karena majlis-majlis yang demikian itu dapat memindahkan kita dari kelalaian (kelengahan) kepada keinsyafan dan kesadaran.”
            Sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqallani dalam kitab FATHUL BARI menjelaskan : “Dzikir itu ialah : Segala lafadz (ucapan) yang disukai oleh umat membacanya serta membanyakkan membacanya untuk menghasilkan jalan mengingat dan mengenang Allah, misalnya lafadz-lafadz Al Baa Qiyaatush Shaalihaatu,yaitu :
  •  

“Maha Suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah, tidak ada Tuhan yang lain (yang berhak disembah) kecuali Allah dan Allah itu Maha Besar.”

 
  •  

“Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah.”

  •  

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.”

  •  

 “Cukuplah Allah itu untuk kami / aku.”

  •  
  “Aku mohon ampun kepada Allah.”
            Pada bagian lain dari kitab : Fathul Bari, Imam Al-Hafizh menegaskan lagi : “Juga dinamakan dzikir, mengerjakan segala tugas agama yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala larangan yang sudah diperintahkan-Nya hamba untuk meninggalkannya. Karena itu membaca Al-Qur’an, mempelajari Al-Hadist, mempelajari ilmu-ilmu agama, melaksanakan shalat tathawwu dinamakan juga dzikir.”
·                    Imam Nawawi, menurut yang dikutip oleh tafsir Al-Qasimi menyatakan : “Bahwa kelebihan dzikir itu tidak hanya terbatas pada tasbih saja, tahlil dan takbir dan yang seumpamanya, tetapi mencakup semua orang yang beramal dengan ketha’atan kepada Allah, maka orang itu adalah juga berdzikir kepada Allah.” Selanjutnya beliau (Imam Nawawi) menegaskan lebih jauh : “Sesungguhnya dzikir yang disyariatkan di dalam shalat atau diluarnya, dzikir yang wajib atau yang sunnat tidak diperhitungkan sesuatu pun dari padanya dan tidak masuk bilangan, sebelum dilafadzkan sehingga didengarnya sendiri, apabila pendengarannya masih sehat dan tidak ada rintangan.”
·                   
 

Sementara Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab : ZAADUL MA’AD menjelaskan : “Adalah Nabi Muhammad SAW orang yang paling sempurna dzikirnya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Bahkan perkataannya semua merupakan dzikir kepada Allah dengan segala sangkut pautnya. Dan adalah perintahnya dan larangannya serta pensyari’atnya bagi umat juga dzikir.” Selanjutnya dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim. “Pemberitaannya tentang asma Tuhan, sifat-Nya, hukum-hukum Nya, janji baik, dan janji buruk-Nya, semuanya adalah dzikir kepada Allah. Pujiannya kepada Allah dengan segala macam ragam nikmat-Nya, tamjid dan tasbihnya adalah dzikir. Permohonan dan do’anya, kesukaan dan ketidaksukaannya juga dzikir. Diamnya juga adalah dzikir di dalam hatinya. Dengan demikian maka Rasulullah SAW senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala waktu (ketika dan dalam segala situasi kondisi). Dan adalah dzikir Rosul itu berlaku bersama tarikan nafasnya pada waktu berdiri, duduk dan di tempat pembaringan (waktu tidur). Dan pada waktu berjalan kaki, menunggangi kendaraan dan waktu dalam perjalanan, waktu berhenti, waktu berangkat pergi dan waktu menetap di tempat (muqim).”

 
 
Saudaraku sesama muslim.
Di dalam kitab suci Al-Qur’an kalau kita simak secara teliti menurut catatan : Fathur Rahmaan Lithaalibi Aayatil Qur’aan terdapat 265 (dua ratus enam puluh lima) ayat yang menyentuh masalah dzikir :
·        Diantaranya ayat yang ke 45 surat Al-Ankabut :
“Bacalah  apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan  yang keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Ankabut : 45)
·        Kemudian ayat ke 200 surat Al-Baqarah :
“Maka apabila sudah kamu tunaikan manasikmu, maka ingatlah (sebutlah) nama Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapak kamu atau lebih lagi (dari pada itu).” (QS. Al-Baqarah : 200)
·        Ayat ke 198 surat Al-Baqarah :
“Maka apabila kamu berduyun-duyun berpisah dari Arafah, hendaklah kamu berdzikir (menyebut nama Allah) di Masy’aril haram dan hendaklah kamu sebut (ingat) Dia, karena Allah itu telah memimpin kamu.” (QS. Al-Baqarah : 198)
·        Kemudian ayat ke 103 surat An-Nisa’ :
“Maka apabila telah kamu tunaikan shalat itu maka hendaklah kamu dzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, sambil duduk dan waktu berbaring di atas rusukmu.” (QS. An-Nisa’ : 103)
·        Sementara ayat ancaman bagi orang-orang yang lalai daripada mengingat Allah (dzikir) :
“Maka barang siapa yang berpaling dari mengingat Aku (dzikir kepada Ku), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan kumpulkan mereka di Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta.” (QS. Thaha : 124)
·        Dan misalnya ayat ke 29 surat An-Najmi :
“Maka berpalinglah kamu dari orang yang telah berpaling dari mengingat Kami dan tidak menghendaki melainkan kehidupan di dunia.” (QS. An-Najmi : 29)
·        Sementara itu terdapat berpuluh Hadist Nabi SAW yang berkaitan dengan masalah dzikir, di dalam kitab At Targhib Wat Tarhib Imam Al-Mundziri mencatat 30 (tiga puluh) Hadist.
·        Antara lain Hadist dari Abu Hurairah ra, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Turmudzi, An-Nasai dan Imam Ibnu Majah sebagai berikut :

·        Hadist dari Abi Sa’id Al-Khudlriy diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

·        Bersabda Nabi SAW :

 
”Dan Allah menyuruh kamu dengan berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan perumpamaan orang yang demikian seperti orang yang dikejar musuh. Jejaknya dengan cepat, hingga ia sampai kepada suatu bentuk yang kokoh, yang dapat membentenginya (melindunginya). Demikianlah seorang hamba tidak akan lepas dari gangguan syetan kecuali dengan dzikrullah.(HR. Turmudzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah)
 
   

 

 
 
        Rosulullah SAW bersabda :
  
”Perumpamaan orang yang dzikir (ingat) kepada Allah dan orang yang tidak dzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·        Kembali Hadist dari Abu Hurairah ra :
 
Tujuh golongan dilindungi oleh Allah SWT pada hari Kiamat, dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Yaitu : Pemimpin yang adil dan pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah, dan orang yang hatinya terpaut di Masjid apabila ia keluar dari dalamnya sehingga ia kembali lagi (masuk ke dalamnya). Dan dua orang yang saling mencintai pada (jalan) Allah, mereka berkumpul pada jalan demikian dan berpisah juga di atasnya. Dan orang yang dzikir (ingat) kepada Allah ditempat yang sunyi maka meneteslah air matanya dan laki-laki yang dirayu oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan maka ia berkata : Aku takut kepada Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam. Dan orang yang bersedekah lantas disembunyikannya sedekahnya itu sehingga tidak diketahui oleh tangan kirinya apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan An-Nasai)
·              Hadist yang disampaikan oleh Muadz secara marfu :
 
“Tidak ada satu amalan pun yang diamalkan oleh keturunan Adam ini yang dapat melepaskannya dari adzab selain dzikrullah.” (HR. Malik dan Turmudzi)
Saudaraku, bagaimana dan apa saja faedah-faedah dzikrullah itu ?
Di dalam kitab Attarghiib Wat Tarhib Al-hafiz Imam Al-Mundziriy menulis sebanyak 20 (dua puluh) point keterangan setentang faedah dzikir. Sementara Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Waabilush Shayyibu menjelaskan setentang faedah-faedah dzikir lebih dari 100 (seratus) point. Di sini kami (penulis) tidak akan mengutip (menyampaikan) seluruh point setentang keterangan faedah dzikir tetapi hanya beberapa point saja yang akan kami tulis sebagai perbandingan wawasan dan sebagai tambahan ilmu bagi sidang pembaca, antara lain :
            
  • Orang yang berdzikir itu akan datang di hari Kiamat secara terhormat, dibesarkan dan dimuliakan. (Tidaklah mereka datang kepada Allah dengan sesuatu yang lebih disukai Allah selain dari dzikrullah).
  • Orang yang berdzikir itu berada pada derajat yang paling tinggi, dekat dengan Rahmat Allah dan kebaikan-Nya yang diinginkan oleh Nabi-nabi dan para Mujahidin (pejuang) guna mencari ridho Allah sebanyak-banyaknya. Bersinar wajah mereka dengan Nur dan Jiwa mereka merasa gembira dan bersuka ria. (Iri hati kepada mereka Nabi-nabi dan Syuhada, Al-Hadist)
  • Seorang hamba jika mengenal Tuhan (dzikir) pada waktu lapang. Allah akan mengenalnya waktu sempit. Di dalam atsar dijumpai bahwa seorang hamba yang tha’at yang selalu ingat kepada Allah, bila ia ditimpa oleh kesukaran atau bila ia meminta sesuatu hajat kepada Allah SWT berkatalah Malaikat : ”Suara yang dikenal dari seorang hamba yang sudah dikenal”. Dan orang yang lalai (dari dzikir) yang selalu berpaling dari Allah Azza Wa Jalla, bila ia berdo’a dan meminta kepada Allah, berkata Malaikat : ”Ya Tuhan, suara yang tidak dikenal”. Maksudnya permintaannya tidak akan diperkenankan oleh Allah SWT.
  • Dzikir menyebabkan lidah selalu sibuk dengan mengingat Allah, karena itu lidah tidak akan terlibat lagi dalam pergunjingan, kedustaan, kata-kata yang kotor dan yang bathil. Karena seorang hamba (menurut pembawaannya) harus berbicara. Jika ia tidak berbicara dengan dzikrullah dan dengan mengingat perintah-perintah Allah, pasti ia akan berbicara dengan segala yang diharamkan atau sebagian yang haram. Dan tidak ada jalan selamat dari yang demikian, kecuali dengan dzikrullah. Orang yang membiasakan lidahnya dengan berdzikir, maka terpeliharalah ia dari yang bathil dan yang tidak berguna. Sedang orang yang kering lidahnya dari dzikir, ia akan basah dengan yang bathil, yang kotor dan yang keji.
  • Orang yang terus menerus berdzikir akan masuk ke dalam Syurga dengan gembira menurut riwayat Ibnu Abid Dun-Ya dari Abi Darda ra, katanya :
 
”Orang yang senantiasa lidahnya basah karena dzikir kepada Allah Azza wa Jalla masing-masing akan masuk ke dalam Syurga dengan gembira.” (HR. Ibnu Abid Dun-Ya)
  • Sesungguhnya dzikir itu adalah tanaman Syurga. Menurut Hadist dari Abi Zubair dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda :
 “Barang siapa yang mengucapkan : Subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dengan memuji-Nya) akan ditanamlah untuknya pohon Kurma di dalam Syurga.” (HR. Turmudzi)
Saudaraku, demikian beberapa point faedah dzikir yang kami (penulis) kutip dari tulisan Imam Al-Mundziriy  dan  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang terdapat dalam kitab-kitab beliau, yaitu kitab Attaghrib Wat Tarhib  dan kitab:  Al Waabilush Shayyibu.

Sekarang pembicaraan kita tiba pada apa yang menjadi judul artikel (tilisan) kita kali ini yaitu setentang keutamaan dan kekuatan  dzikrullah.

Hadist dari Abi Huariroh ra bahwa bersabda Rasulullah SAW

”Siapa mengucapkan Laa ilaahaillallahu wahdahu laa syarika lahu, lakulmulku wa lahul hamdu wa huwa ’alaa kulli syai’in qodiir, pada setiap hari 100 (seratus) kali sama dengan memerdekakan sepuluh budak dan dituliskan untuknya seratus kebajikan, dihapuskan dari padanya seratus kejahatan. Ia terpelihara dari syetan pada hari itu hingga malam. Tidak ada seorangpun yang lebih baik lagi dari orang yang lebih banyak lagi mengamalkannya. Dan barang siapa yang mengucapkan: Subhanallahi wabihamdih pada satu hari sebanyak seratus kali, dihapuskanlah dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih dilautan.” (HR.Bukhari dan Muslim)

·        Sebuah hadist Qudsy, Rasulullah SAW menegaskan:
Aku, kata Tuhan, bersama hamba-Ku selama ia ingat kepada-KU dan bergerak dengan Aku kedua bibirnya.” (HR. Bukhari)
·        Bersabda Rasulullah SAW :

“Maukah kamu aku ceritakan tentang ‘amal yang lebih baik dan lebih bersih disisi Tuhanmu dan lebih meninggikan derajat kamu. Lebih baik dari pada infaq uang dan emas. Lebih baik dari pada bertempur melawan musuh, kamu memukul mereka dan mereka juga memukul leher kamu?” Para Sahabat menjawab: “Ya, tentu saja ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Dzikirlah kamu untuk mengingat Allah.(HR. Ibnu Majah dan Turmudzi)

·        Nabi Muhammad SAW berkata kepada Mu’adz : “Wahai Muadz aku sangat sayang kepadamu, sebab itu janganlah engkau lupa mengucapkan dibelakang setiap shalat “

 
“Ya Allah, tolonglah aku untuk mensyukuri (nikmat)Mu dan membaikkan ibadat kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

·        Menurut Baihaqi dari Muhammad bin Ka’ab Al Qardly, Nabi Musa AS pernah bertanya:

 
”Ya Tuhanku, siapakah makhluk-Mu yang paling mulia disisi-Mu? Allah menjawab: ”Orang yang lidahnya senantiasa basah menyebut (mengingat) nama-Ku.” (HR.Baihaqi)
·        Dari Jabir bin Abdullah, katanya: Rasulullah SAW pernah bersabda:

”Hai manusia bersenang-senanglah kamu di taman Syorga!” Kami, (Para Sahabat) bertanya:” Apakah taman syorga itu ya Rasulullah ?” Jawab beliau: ”Majelis Dzikir” Kemudian beliau melanjutkan: ”Berpagi-pagi, berpetang-petanglah dan berdzikirlah. Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya disisi Allah SWT hendaklah ia perhatikan bagaimana kedudukan Allah disisinya (didalam hatinya). Karena Allah SWT menempatkan amal seseorang bagaimana orang itu menempatkan Allah didalam jiwanya.” (HR.Ibnu Abid Dun-ya)
·        Perhatikan Hadist tersebut ini, bahwa Rasulullah SAW keluar menjumpai sekelompok Sahabatnya. Lalu Nabi SAW bertanya:
 
Apakah yang menyebabkan kamu duduk disini ? Para Sahabat menjawab : ”Kami duduk disini untuk berdzikir kepada Allah dan memuja-Nya karena petunjuk yang telah diberikan-Nya kepada kami untuk Islam dan Rahmat yang dicurahkan-Nya untuk kami dengan sebab engkau. ”Rasul bertanya: ”Demi Allah, tidakkah kamu duduk disini karena sebab yang lain?” Jawab Sahabat: ”Demi Allah, tidak lah kami duduk disini kecuali hanya karena itu. ”Rasul lantas menegaskan: ”Aku tidak bersumpah untuk menjadi tuhmah bagi kamu, tetapi aku didatangi Jibril dan menyampaikan bahwa Allah SWT membanggakan diri kamu dihadapan para Malaikat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, sesuai hadist tersebut diatas, suatu bukti lagi bahwa Allah SWT merasa bangga dengan orang-orang yang berdzikir dan kebanggaan Allah ini menunjukkan betapa mulianya dzikir itu dan betapa cinta-Nya (Allah) kepada orang yang berdzikir itu. Dan sesungguhnyalah keutamaan dan kekuatan dzikrullah itu tidak diragukan lagi dan memang benar bahwa dzikir itu mempunyai kelebihan diatas amal-amal lainnya. Kembali kita simak Hadist-hadist Nabi SAW setentang mengingat (dzikir) kepada Allah SWT berikut ini :

·        Rosulullah SAW bersabda :
(Artinya): ”Semua pekerjaan yang berfaedah yang tidak dimulai dengan Bismillahirrohmaanirrohiim putus (hilang berkatnya).” (HR. Rahawi)
·        Setentang ganjaran membaca tasbih, bersabda Rosulullah SAW :
(Artinya): ”Orang yang membaca tasbih (subhanallah) 100 (seratus) kali maka akan ditulis baginya dengan 1000 (seribu) kebaikan atau dihapuskan dari orang yang membaca Tasbih itu dari 1000 (seribu) kesalahan (dosa).” (HR. Muslim)
·        Masih setentang membaca Tasbih, Rasulullah SAW bersabda :
(Artinya): “Barang siapa yang membaca: Subhanallah Wabihamdihi (Maha Suci Allah dengan segala Puji Pada-Nya) setiap hari sebanyak 100 (seratus) kali, maka akan dihapuslah kesalahannya (dosanya) walaupun sebanyak air buih dilautan.” (HR. Bukhari dan Muslim.)
·        Nabi SAW bersabda :
(Artinya): ““Hai, Abdullah bin Qois maukah kutunjukkan padamu satu perbendaharaan dari beberapa perbedaharaan Syorga? Yaitu membaca: Laahaula Walaa Quwwata illa Billaahi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·        Dzikir yang dicintai Allah:
(Artinya): “2 (dua) kalimat (bacaan) yang ringan diucapkan dengan lisan (mulut) memberatkan ganjaran kebaikan ketika ditimbang pada Hari Kiamat dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih yaitu bacaan: Subhanallahi Wabihamdihi Subhanallahil ‘Adzim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·        Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya): “Bila engkau akan tidur bacalah Ayat Kursi (Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum) hingga akhirnya. Maka dengan demikian senantiasa ada yang menjaga engkau dari Allah, dan syetan tidak akan mendekati engkau hingga Subuh.” (HR Bukhari dan Muslim)
·        Hadist Hudzaifah, katanya :
Adalah Nabi SAW apabila merebahkan diri ditempat tidurnya ia membaca: “Bismika Allahumma ahyaa wa amuut.” Dan apabila bangun dari tidur ia membaca “Alhamdulillahil ladzii ahyaanaa ba’damaa amaatamaa, wa ilaihin nusyuur.” (HR. Bukhari)

·        Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW apabila bangun dari tidurnya ia membaca: “Allahu Akbar 10 x, Alhamdulillah 10 x,  Subhanallahi wabihamdihi 10 x, Subhanal Quddus 10 x, Astaghfirullah 10 x, Laa ilahaillallah 10 x,    kemudian ia membaca: “Allahumma innii ‘a’uudzu bika min dliiqiddun-yaa wa dliiqi yaumil qiyaamati ‘asyran tsumma yaftatihush shalata.”
* Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan Hari Kiamat, 10 (sepuluh) kali. Barulah kemudian beliau mendirikan sholat.* (HR. Abu Daud)
·        Dari Hurairoh ra dan Abi Sa’id Al_Khudry, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Apabila seorang hamba mengucapkan : Laa ilaahaillalaahu  wallahu akbar (Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Allah yang Maha Besar) berkatalah Allah SWT: “Benarlah hamba-Ku, tidak ada Tuhan melainkan Aku dan Akulah yang Maha Besar.”
Bila seorang hamba mengucapkan : Laailaaha illallaahu laa syarikalah (tidak ada Tuhan melainkan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya), berkatalah Allah:  “Benarlah hamba-Ku, tidak ada Tuhan melaikan Aku, tidak ada sekutu bagi-Ku.”
Bila seorang hamba mengucapkan : ”Laailaahaillal laahu, lahul mulku walahul hamdu (Tidak ada Tuhan melainkan Allah, kepunyaan-Nya segala kerajaan dan segala puji ) Allah mengatakan: “ Benarlah hamba-Ku, tidak ada tuhan melaikan Aku, kepunyaa-Ku segala kerajaan dan segala puji.”
Bila sihamba mengucapkan : Laa ilaaha illal laahu wa laa hawla walaa quwwata illa billah (Tidak ada Tuhan melaikan Allah, dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah) Allah menegaskan : “Benarlah hamba-Ku, tidak ada Tuhan kecuali Aku dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan Aku.”



 

Berkata Abu Ishaq, kemudian ia mengatakan pada akhirnya sesuatu yang tidak kumengerti. Lalu aku bertanya kepada Abi Ja’far : “Apa yang dikatakannya ? Jawabnya: “Barang siapa yang dikarunia (kalimat) yang demikian ketika matinya tidaklah ia akan disentuh oleh neraka.” (HR. Turmudzi)

Saudaraku, demikian beberapa point faedah dzikir yang kami (penulis) kutip dari tulisan Imam Al-Mundziriy  dan  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang terdapat dalam kitab-kitab beliau, yaitu kitab  Attaghrib Wat Tarhib  dan kitab:  Al Waabilush Shayyibu.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.