|
Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca pecinta artikel-artikel religius bacaan untuk syiar dakwah Islam. Jumpa lagi kita, kali ini dengan dakwah saya (lewat tulisan) sesuai judul tersebut diatas. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya, bagi pembaca dan yang terpenting bermanfaat sebagai syiar dakwah Islam. Manusia diciptakan dalam keadan lemah, oleh karena itu Allah SWT tidak membebani tanggung jawab kecuali sebatas kemampuannya.
Sesuai Firman-Nya : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…..” (QS. Al-Baqarah : 286)
Dan setiap manusai mempunyai kewajiban terhadap diri sendiri, kewajiban itu hendaknya di dahulukan. Setelah itu baru kewajiban yang lain.
Sesuai Firman Allah SWT : ”Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (QS. At-Tahrim : 6)
Ayat diatas menegaskan bahwa setiap orang wajib menyelamatkan dirinya sendiri, kemudian baru menyelamatkan keluarganya dari api neraka. Sebenarnya seseorang baru mulai dibebani dengan tanggung jawab adalah jika sudah memenuhi syarat-syaratnya. Adapun persyaratan seseorang yang sudah harus dibebani tanggung jawab (mukalaf) ada dua. Pertama, balig dan kedua, berakal.
Lantas bagaimana bentuk kewajiban tanggung jawab terhadap diri sendiri itu? 1. Kewajiban menjauhkan diri dari segala yang membinasakan.
Perbuatan atau benda yang sifatnya merugikan biasanya menyenangkan walau hanya sesaat karena hawa nafsu memang cenderung lebih cepat tertarik. Sementara perbuatan atau benda-benda yang mendatangkan (mengakibatkan) kemaslahatan atau keuntungan biasanya justru hawa nafsu kurang tertarik, bahkan berat untuk melaksanakannya. Diantara hal-hal yang dapat membinasakan diri dan wajib kita jauhi diantaranya : Menggunakan waktu untuk hal-hal yang kurang atau tidak perlu, pergaulan bebas dengan lain jenis, pemborosan menggunakan sesuatu lewat dari ukuran, perasaan ujub, meminum minuman keras dan menggunakan obat terlarang, banyak berkhayal, berjudi dan suka berkelahi. Semua yang dilarang memang menyenangkan. Namun akibatnya akan merugikan sehingga bisa merusak masa depan.
Perhatikan Firman Allah SWT : ”…. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah : 195)
Sebuah contoh, seorang anak tidak suka pada jamu yang pahit, tetapi ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan. Sebaliknya seorang anak sangat senang pada es dan permen gula yang manis, tetapi ternyata berakibat batuk-batuk dan sakit gigi.
1. Kewajiban beribadah :
Allah SWT menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Sesuai Firman Allah SWT yang termaktub didalam AL-Qur’an : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
Kewajiban apa sebenarnya yang dibebankan Allah atas hamba-Nya ? Allah SWT hanya meminta kepada hamba-Nya untuk beribadah. Perlu diketahui bahwa ibadah itu ada dua, yaitu :
a. Ibadah Khusus (Vertikal), caranya sudah ditentukan, segala perbuatan yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seperti shalat, puasa, serta tidak memakan dan minum sesuatu yang haram.
b. Ibadah umum (Horizontal), caranya tidak ditentukan tetapi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. (kebenaran, kejujuran dan keadilan) yaitu segala usaha untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselarasan hidup, seperti seorang yang bekerja untuk menafkahkan keluarganya.
1. Kewajiban merawat kesehatan :
Kesehatan phisik memiliki peran awal atau dasar dalam segala aspek kehidupan. Kesehatan phisik yang menurun dapat menyebabkan seseorang yang tadinya bersemangat tinggi dan berpikiran cemerlang menjadi kacau pikirannya (dapat menimbulkan intelegensi, nalar dan daya pikirnya menurun.) · Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini :
”Orang mukmin yang kuat phisiknya adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah phisiknya.” (HR. Muslim)
2. Kewajiban menjaga diri dari perbuatan dosa :
Seseorang harus menjaga diri dari perbuatan dosa, seperti : Merencanakan kejahatan, membaca atau menonton hal-hal yang haram dilihat, berbicara kotor atau memfitnah, memukul atau melukai atau melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, memakan minum sesuatu yang haram. Ketahuilah dan yakinlah bahwa di dunia, mungkin kita masih bisa menyembunyikan perbuatan tercela (dosa) kita. Akan tetapi di Akhirat dengan kekuasaan Allah masing-masing anggota badan kita dapat berbicara sendiri menceritakan perbuatan maksiat yang pernah dilakukan.
3. Kewajiban memilih kawan dalam pergaulan :
Setiap hubungan sosial selalu terjadi interaksi dan saling mempengaruhi dan pengaruh negatif cenderung lebih cepat menular pada pihak lain. Begitu juga dalam hubungan persahabatan atau berkawan.
· Perhatikan ungkapan seorang penyair setentang memilih teman :
”Dan berhati-hatilah kamu bergaul dengan orang yang tercela, karena sesungguhnya dia itu menular sebagaimana menularnya kudis pada orang yang sehat.”
Memang tidak sedikit orang yang semangatnya menjadi lemah sehingga gagal mencapai cita-cita karena menerima pengaruh negatif dari kawan. Dalam pergaulan sehari-hari banyak kawan yang melemahkan semangat bahkan membelokkan pada niat lain. Banyak orang yang tadinya baik, kemudian tingkah lakunya berubah menjadi buruk, ucapannya kotor dan kasar karena salah memilih kawan. Sebaliknya banyak orang yang hampir gagal mencapai cita-cita, lantas semangatnya bangkit kembali karena sebab pengaruh baik dari kawan. Dan tidak sedikit orang yang akhlaknya rusak, namun sedikit demi sedikit timbul kesadarannya untuk memperbaiki diri karena mendapat pengaruh dari kawan. Karena itu masalah memilih kawan harus benar – benar diperhatikan. Memilih kawan sebaiknya yang bukan seorang pemalas, atau yang banyak bicara, suka membuat keonaran, menfitnah, melainkan pilihlah kawan yang bertutur kata sopan, yang merendahkan diri (tawaduk), yang hati-hati dalam masalah halal atau haram dan yang dapat menguasai hawa nafsunya serta yang berakhlak baik.
· Kemudian bagaimana tanggung jawab terhadap keluarga itu ?
Walaupun ada bahkan tidak sedikit kaum laki-laki yang tingkat kecerdasannya kalah dibandingkan dengan wanita. Tetapi secara kodrat laki-laki ltu lebih cakap memimpin wanita. Sebab dalam beberapa hal kaum pria memiliki kelebihan, misalnya sabar, lapang dada dan bijaksana.
Perhatikan Firman Allah SWT : ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah SWT telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka sebab itu maka wanita yang shaleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahlah mereka ditempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa : 34)
Sementara pada wanita, emosi lebih memdominasi, cepat tertawa jika mendapat khabar gembira dan cepat menangis jika mendapat khabar sedih. Oleh karena itu, pantaslah secara kodrat kaum pria memimpin, mengatur dan melindungi wanita. Tanggung jawab terhadap keluarga atau orang yang telah berkeluarga.
· Tanggung jawab orang yang telah berkeluarga :
a. Kewajiban memberikan Nafkah lahir,
yaitu kebutuhan sehari-hari manusia adalah meliputi makanan, tempat tinggal dan pakaian. Dalam sebuah Hadist dikatakan bahwa kemampuan (memiliki) harta, menjadi persyaratan untuk menikah sebab setelah menikah seorang suami dibebani kewajiban-kewajiban seperti dikatakan tersebut diatas. Jika belum mampu, jangan dulu menikah tetapi dianjurkan banyak-banyak berpuasa.
b. Kewajiban memberikan pendidikan :
Orang tua tidak hanya berkewajiban memenuhi kebutuhan lahir, tetapi juga kebutuhan pendidikan karena hal itu menyangkut tanggung jawab dan masa depan anak. Pendidikan shalat, mengaji, tata krama dan sebagainya bila dilaksanakan lebih awal akan lebih baik, umpamanya dimulai pada anak berusia tiga tahun. Selain itu, pendidikan yang langsung dilakukan dan diberikan oleh orang tua akan lebih bermanfaat karena anak dapat langsung diawasi. Menurut psikologi, anak pada usia dini sangat mudah menerima pengaruh dari luar. Bapak dan Ibu diharapkan tidak terlambat memanfaatkan usia-usia ini. · Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, karena orang tualah yang menjadikan anak itu yahudi, nasrani atau majusi.” (HR. Muslim)
c. Kewajiban bersikap halus dan sayang terhadap keluarga
Sebenarnya nafkah batin lebih dibutuhkan istri atau keluarga dibanding nafkah lahir. Walaupun nafkah lahir sangat berkecukupan, tetapi apa gunanya jika suami bersikap kasar dan selalu bermuka masam pada istrinya. Sejak 14 abad yang lalu, Islam sudah mengajarkan bagaimana sikap bapak kepada anak, suami kepada istri, atau sebaliknya.
· Perhatikan firman Allah SWT :
![]() ”… Dan bergaulah dengan mereka secara patut….” (QS. An-Nisa : 19)
d. Kewajiban bersenda gurau dengan istri
Seorang suami wajib membuat istrinya bahagia, salah satunya dengan cara bersenda gurau dengan istrinya yaitu misalnya berlomba lari. Rasulullah SAW adalah orang yang banyak berkelakar dan lemah lembut kepada istri.
· Sesuai sabda Nabi SAW :
”Dan mukmin yang lebih sempurna imannya ialah mereka yang berbudi lebih baik dan lebih berlemah-lembut kepada keluarganya.” (HR. At-Turmudzi)
· Tanggung jawan terhadap masyarakat :
Seorang hamba ditengah masyarakat biasanya sudah dianggap sebagai hamba yang baik jika rajin didalam beribadah hablumminallah, meskipun hablumminannas tidak dipenuhi dengan baik. Padahal Allah baru mengakui hamba itu baik jika kedua-duanya dilakukan dengan baik. Pada suatu waktu seorang Sahabat melaporkan : ”Ya Rasulullah, ini dia perempuan yang banyak shalat, puasa, dan banyak bersedekah tetapi ia selalu menyakiti hati tetangga. Bagaimana tentang wanita yang demikan itu?” Jawab Rasulullah SAW : ”Wanita itu di nereka.” (Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam oleh : Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, M.A. Halaman : 105)
Ajaran Islam membawa misi sosial uantuk memperbaiki masyarakat yaitu dengan cara berzakat, berkurban, menyebarkan salam dan bermusyawarah.
· Bersabda Rasulullah SAW :
”Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 6 (enam). Ditanyakan apa itu ya Rasulullah ? Jawab Nabi SAW : ”Jika bertemu dengannya (sesama muslim) hendaknya kau ucapkan salam, jika di undang penuhilah undangannya, jika ia minta nasihat berilah nasihat, jika ia mengucapkan Alhamdulillah sewaktu bersin sambutlah olehmu dengan ucapan Yarhamukallah, jika ia sakit tengoklah, jika ia meninggal iringkan jenazahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
· Tanggung jawab terhadap agama :
Tanggung jawab seorang hamba terhadap agama diantaranya, belajar (Thalabul ilmi), beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan menjaga persatuan dan kesatuan antara sesama umat Islam.
a. Belajar (menuntut ilmu)
Belajar harus diutamakan dari pada yang lain karena ilmu pengetahuan merupakan modal utama untuk memperoleh kebaikan.
Sesuai firman Allah SWT : ”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-nahl : 43)
Pengertian ayat diatas jelas bahwa belajar itu wajib. Apakah semua cabang ilmu pengetahuan wajib dipelajari? Jawabnya : Tidak. Cabang ilmu pengetahuan bisa dibagi lima kelompok.
* Cabang pengetahuan yang fardhu ain dipelajari, misalnya tauhid dan ketentuan puasa Ramadhan.
* Cabang Fardhu kifayah dipelajari, misalnya menyelang gerakan jenazah, kedokteran dan pembagian warisan.
* Cabang pengetahuan yang sunnah dipelajari, misalnya cara-cara ibadah sunnat
* Cabang pengetahuan yang mubah dipelajari, misalnya mempelajari cara makan dan belajar hitungan sampai mendetail.
* Cabang pengetahuan yang haram dipelajari, misalnya ilmu sihir dan judi. b. Beramal
Cara-cara beramal menurut syariat Islam, diantaranya, yaitu : Dengan niat ikhlas, artinya dalam beramal harus disertai niat ikhlas, tanpa mengharapkan apapun selain ridha Allah SWT dan niat yang ikhlas merupakan nyawa dalam beribadah. Mudawamah, artinya senantiasa beramal, baik itu di dalam keadaan sedih, gembira, kaya, miskin, sibuk maupun senggang. Hemat dalam melakukan ketaatan, maksudnya dalam beribadah itu jangan berlebihan sebab jika berlebihan takutnya nanti jadi cepat bosan. Semakin kita tua, hendaknya semakin rajin beramal shaleh, maksudnya disamping ibadah yang fardhu-fardhu dilakukan juga ibadah-ibadah yang sunnat-sunnat.
c. Dakwah amar makruf nahi mungkar
Dakwah artinya mengajak kepada kebenaran. Amar makruf nahi mungkar berarti memerintahkan untuk berbuat baik dan melarang perbuatan mungkar. Baik buruk atau benar salahnya sesuatu diukur dengan ajaran Islam dan bukan dengan akal. Manakala Al-Qur’an dan Al-Hadist mengatakan bahwa sesuatu itu baik, maka sesuatu itu baik sepanjang zaman dan berlaku untuk semua tempat. Manakala Al-Qur’an dan Al-Hadist menyatakan bahwa perbuatan itu tercela, maka tercela sepanjang zaman dan segala tempat. Dakwah wajib dimulai dari diri sendiri, keluarga, kerabat, tetangga dekat, tetangga jauh dan seterusnya. Untuk berdakwah seseorang harus menguasai materi pengetahuan agama dan dirinya sudah harus lebih dahulu mengamalkannya.
d. Menjaga persatuan dan kesatuan antar sesama umat Islam
Dalam Islam terdapat bermacam – macam golongan (aliran keagamaan) namun yang penting satu golongan tidak boleh memaksakan pendapatnya dan menyalahkan pendapat golongan lain. Masing-masing golongan mempunyai kebebasan menganut paham tersentu. Akan tetapi, Al-Qur’an dan Al-Sunnah tetap harus menjadi pedoman agar tidak timbul perselisihan.
· Firman Allah SWT :
”Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai ….” (QS. Ali Imran : 103)
· Dan tanggung jawab terhadap Bangsa dan Negara.
Tidak ada satu pun masyarakat yang rela negaranya dijajah oleh negara lain. Dengan segala kemampuan yang ada sebuah masyarakat akan mengorbankan diri demi lepas dari belenggu penjajah. Jika suatu masyarakat memperoleh kemerdekaannnya, suasana semangat persatuan akan mewarnai. Sebelum Indonesia merdeka, kita berjuang membela tanah air dari serangan musuh dan berusaha untuk mencapai kemerdekaan. Dan atas karunia Allah SWT akhirnya kita meraih kemerdekaan itu, karena memang Allah SWT berjanji akan menolong orang atau bangsa yang tertindas (mustadh’afin).
Perhatikan Firman Allah SWT : ”Dan kami akan memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu dan hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash : 5)
Tentu saja jalannya sebuah pemerintahan suatu bangsa tidak akan sepi dari percobaan, seperti benturan sosial ataupun pergolakan. Dan alangkah nikmatnya suatu generasi bangsa yang hidup rukun dan aman diatas bumi yang makmur. Berjuang memperoleh kemerdekaan itu merupakan tugas berat, namun mengisi kemerdekaan merupakan tugas yang lebih berat lagi. Tugas kita terhadap bangsa dan negara diantaranya.
1. Tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengganggu keamanan negara.
2. Taat kepada pemerintah
Sesuai firman Allah SWT : ”Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu….” (QS. An-Nisa : 59)
· Dan sesuai Sabda Nabi SAW :
”Ibnu Umar r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda : ”Seorang muslim wajib mendengar dan taat pada pemerintahnya dalam apa yang disetujui atau tidak disetujui, kecuali jika di perintah maksiat. Apabila disuruh maksiat maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat.” (HR. Muttafaqun Alaih.)
Selain itu membela negara juga merupakan salah satu wujud dari cinta kepada tanah air yang sangat dianjurkan oleh ajaran agama Islam.
· Sebuah ungkapan hikmah mengatakan :
”Mencintai tanah air itu merupakan sebagian dari iman.” Dengan demikian, kalau kita membangun Negara kita tercinta ini berarti kita telah memiliki sebagian dari iman. Karena membangun Negara adalah salah satu bentuk bela Negara, sementara membela Negara adalah bukti dari rasa cinta kepada tanah air. Demikian juga untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran Negeri kita ini, kita tidak boleh hanya duduk berpangku tangan saja dan menunggu karunia Allah tanpa berusaha membangun Negeri tercinta ini.
![]() ”Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan (nasib) sesuatu kaum (bangsa) sampai kaum (bangsa) itu mengubah sendiri keadaan (nasib) mereka… (QS. Ar-Rad : 11)
Tujuan dan cita-cita kita hanya mungkin tercapai apabila kita berusaha meraihnya. Selain sebagai bukti cinta tanah air, membangun Negeri ini juga merupakan bukti rasa syukur kita kepada Allah SWT atas karunia kemerdekaan yang telah Allah berikan. Rasa syukur tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata : Alhamdulillah saja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dengan membangun berari kita telah berusaha mewujudkan rasa syukur tersebut. Dan dengan bersyukur kita akan memperoleh karunia yang lebih besar (banyak) lagi.
![]() ”Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat) Ku maka sesungguhnya siksa-Ku teramat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Kesemuanya itu adalah merupakan tanggung jawab kita sebagai makhluk, sebagai bangsa dan sebagai pemimpin. Setiap kita adalah pemimpin dan kan dimintakan pertanggung jawabannya.
Tanggung jawab merupakan beban atau tugas yang wajib kita kerjakan, jika tugas itu kita sudah kerjakan dengan baik itu berarti kita termasuk katagori orang yang bertanggung jawab. Tetapi jika tidak kita kerjakan maka kita bukanlah orang yang bertanggung jawab. Karena setiap kita adalah pemimpin dan kepemimpinan kita itu akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di akhirat.
”Ibnu Umar r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Kamu sekalian pemimpin dan kamu akan ditanya hal rakyat yang dipimpinnya. Dan suami adalah pemimpin pada keluarganya dan akan ditanya hal keluarga yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin dalam pemeliharaan rumah tangga suaminya dan akan ditanya hal yang dipimpinnya. Pelayan adalah pemimpin dalam pemeliharaan harta milik majikannya dan akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggung jawaban) dari hal yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saudaraku, sidang pembaca yang budiman, sampai disini saya sudahi dakwah saya (lewat tulisan) semoga bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
|
||








