TIGA RANGKAIAN BENTUK PENGABDIAN SEORANG MUSLIM

Sidang pembaca, jumpa lagi kita bukan? Alhamdulillah, lewat dakwah melalui tulisan ini dan sesuai judul seperti tersebut diatas. Semoga artikel religius ini dapat menjadi penawar dan menyejukkan hati kita – kita ini yang cinta kepada tulisan bernafaskan Islam. Semoga!. Sidang pembaca, sholat adalah merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah SWT yang paling utama. Oleh karena itu shalat lima waktu wajib di tunaikan bagi setiap muslim. Selain shalat seorang muslim juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban lain, misalnya puasa, zakat, dan haji apabila telah memenuhi persyaratan. Semua itu merupakan bukti keimanan dan wujud nyata pengabdian seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Dan selain mengabdi kepada Allah, kita pun harus melakukan pengabdian kepada kedua orang tua dan kepada masyarakat disekitar lingkungan kita. Ketiga bentuk pengabdian tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan.
            Sidang pembaca, ingin dengar kisah Zuraij seorang ’Abid yaitu ahli ibadah yang hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk beribadah ?
            Shahdan, ada seorang yang sangat shaleh bernama Zuraij. Ia mengabdikan dirinya kepada Allah SWT dan pekerjaannya hanya beribadah dan beribadah saja. Tinggalnya pun di ma’bad (tempat khusus untuk beribadah) yang letaknya di tepi hutan, jauh dari keramaian. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang Abid (ahli ibadah) dan mereka sangat menghormatinya. Suatu ketika, Allah SWT berkehendak menguji keimanan Zuraij. Dia mendatangkan seorang penggembala wanita cantik dan genit yang setiap hari menggembala kambingnya di dekat ma’bad Zuraij. Makin lama wanita itu makin berani, dari hanya melirik-lirik, kemudian mulai menggoda dan merayu Zuraij, mengajaknya berbuat maksiat. Tetapi Zuraij tidak tergoda bahkan wanita itu diusirnya karena putus asa tidak berhasil mengajak Zuraij berbuat maksiat, wanita itu akhirnya berzina dengan seorang penggembala. Ia pun mengandung dan kemudian melahirkan. Dikatakannya bahwa anak itu hasil hubungannya dengan Zuraij. Orang-orang pun marah dan merobohkan ma’bad Zuraij. Namun ketika mereka mau menyeret Zuraij, Zuraij meminta mereka untuk mendengarkan lebih dahulu pengakuan dari sang bayi. Dan atas izin Allah, bayi itu bisa ngomong dan memberi kesaksian bahwa ayahnya bukanlah Zuraij, melainkan Sipenggembala. Orang – orang pun akhirnya meminta maaf dan mendirikan kembali ma’bad Zuraij. (dikutip dari buku Islam Agamaku Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta).
            Sidang pembaca, sesuai judul artikel (religius) kita kali ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana mengabdi kepada Allah SWT, kepada kedua orang tua dan kepada masyarakat simak baik-baik pembahasan materi dakwah (lewat) tulisan kita ini.
·               Pengabdian Kepada Allah SWT :
Untuk apa kita hidup di dunia ini? Apakah hanya untuk makan, minum, menonton, jalan-jalan (rekreasi) dengan keluarga, atau shopping dan bermain-main (bercengkrama, bersendagurau saja?) Tentu saja bukan hanya itu tujuan manusia hidup. Kalau hanya itu, apa bedanya kita dengan hewan? Manusia diciptakan Allah sebagaimana makhluk yang paling mulia dengan tugas sebagai khalifah di muka bumi. Tugas tersebut menjadi amanat yang harus dilaksanakan dengan baik, karena akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. Lebih dari itu, pelaksanaan amanat tersebut juga merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Itulah tugas utama kita sebagai manusia.
·               Allah SWT berfirman :
 
”Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu. (QS. Adz Dzariyat : 56).
Berdasarkan ayat tersebut diatas jelas bagi kita bahwa Allah SWT menciptakan jin dan manusia adalah semata-mata agar menyembah (mengabdi) kepada-Nya. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan oleh kita (manusia) seharusnya ditujukan untuk mengabdi kepada Allah. Begitu juga dengan kita makan, minum, berteman, shalat, puasa, rekreasi dan sebagainya. Kesemuanya itu tidak terlepas dari hakikat tujuan yaitu untuk mengabdi kepada Al-Khaliq, Sang Maha Pencipta.
·               Ada dua pengertian mengabdi kepada Allah SWT :
1.            Mengabdi dalam arti sempit, yaitu melakukan ibadah yang telah diwajibkan dalam rukun Islam atau sering disebut ibadah mahdhah. Misalnya shalat, zakat, puasa dan haji.
2.            Mengabdi dalam arti luas, melakukan amalan (perbuatan) yang diridhai Allah, baik yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia maupun alam sekitar. Misalnya membantu teman, hormat kepada orang tua, menjaga kebersihan lingkungan, menjenguk orang sakit, membuang duri di tengah jalan dan lain sebagainya, selain itu meninggalkan semua pekerjaan (perbuatan) jahat yang dilarang oleh Allah, seperti menyakiti teman, tidak sopan, malas, boros (menghambur-hamburkan uang) dan lain-lain, juga merupakan bentuk pengabdian kepada Allah dalam arti luas.
·               Pengabdian Kepada Orang Tua :
Ketika kita masih kecil dulu, kita sering mendengar ibu guru kita mengajarkan sekaligus mendendangkan syair lagu sebagai berikut : Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.
Sidang pembaca, itulah sebuah syair lagu yang ketika kita masih kecil kita sering mendengarnya. Apa makna yang dapat kita ambil dari syair lagu itu? Sebuah gambaran bahwa betapa besar kasih sayang serta jasa seorang ibu kepada anaknya. Lalu apa yang telah kita lakukan untuk membahagiakan ibu kita? Seperti syair lagu tersebut diatas, ibu kita sebenarnya tidak mengharapkan imbalan atau balas jasa apa-apa dari kita. Ia ikhlas, kasih ibu tidak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Sebagai seorang anak seharusnya kita menyadari bahwa kita berhutang budi kepada ibu kita. Bayangkan ibu mengandung sembilan bulan lebih dalam keadaan susah diatas susah, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyusui, merawat, mendidik, membesarkan kita, menyekolahkan kita, mengajarkan kita mengaji dan seterusnya dan seterusnya. Selain itu, bapak kita juga sangat berjasa kepada kita. Bapak mencari nafkah tanpa kenal lelah, siang dan malam untuk membiayai keluarga. Bapak menjadi pelindung keluarga, menyayangi dan menjadi sosok anutan (panutan). Jelasnya ibu dan bapak adalah orang – orang yang sangat berjasa bagi kehidupan seseorang (anak-anaknya). Oleh karena itu meskipun keduanya ikhlas dan tidak mengaharapkan balasan apa-apa dari kita (anak-anaknya), tetapi kita wajib mengabdi kepada mereka (ibu bapak kita) sebagai tanda terima kasih kita. Karena mengabdi kepada orang tua atau birrul walidain adalah berbuat baik kepada keduanya. Tingkatan keutamaan berbakti kepada orang tua sangat tinggi, sehingga dalam Al-Qur’an perintah mengabdi kepada orang tua selalu beriringan dengan perintah menyembah Allah.
 
   
·               Perhatikan Firman Allah SWT :
    ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaknya kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya….” (QS. Al-Isra’ : 23)
·               Keutamaan berbakti kepada dua orang tua juga dinyatakan dalam hadist Rasulullah SAW :
 
”Berbuat baik kepada kedua orang tua lebih utama dibandingkan dengan shalat, sedekah, puasa, haji, umroh dan jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad)
Sidang pembaca, mengapa tingkat keutamaan berbuat baik kepada kedua orang tua begitu tinggi? Karena jasa-jasa keduanya yang tidak ternilai harganya. Jika kita mengumpulkan emas permata, harta benda untuk membalas jasa-jasa tersebut, maka tidak akan sebanding. Tetapi, apabila kita mengabdi kepadanya dengan tulus, ibu bapak kita akan merasa bahagia dan Allah SWT akan meridhoi kita. Sebab ridho Allah terantung pada ridho kedua orang tua dan murka Allah juga terletak pada murka dua orang tua kita.
·               Mengabdi kepada orang tua terbagi dalam dua keadaan sebagai berikut :
a.            Mengabdi ketika keduanya masih hidup :
Mengabdi kepada orang tua disaat keduanya masih hidup dapat dilakukan dengan cara-cara antara lain : Senantiasa menghormatinya, memuliakannya, berkata dan bertingkah laku sopan dan lemah lembut, berpamitan bila berpergian atau keluar rumah dengan mengucapkan salam, begitu pula jika pulang dari berpergian, tidak mengucapkan kata-kata kasar serta seyogyanya melakukan perbuatan-perbuatan yang disenangi oleh ibu bapak kita.
b.            Mengabdi kepada orang tua ketika mereka sudah meninggal dunia :
Jika kita ingin mengabdi kepada orang tua yang sudah meninggal, maka kita dapat melakukannya dengan cara mendo’akannya, menunaikan janjinya, mentaati pesan-pesannya, menghormati (bersilaturahmi) pada para sahabat, keluarga atau saudara yang dicintai oleh orang tua kita.
·               Pernah pada suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW :
”Ya Rasulullah, adakah yang masih diwajibkan atas diri saya untuk berbakti kepada orang tua saya setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah SAW menjawab :
 ”Ya, ada! Yaitu memohonkan rahmat untuk keduanya, memohonkan ampunan, melaksanakan janjinya, memuliakan sahabatnya serta menghubungi keluarga yang tidak dapat dihubungi melainkan dengan kedua orang tua itu.” (HR. Muslim)
Dari uraian diatas, kita tentu dapat memahaminya dengan baik. Kita juga dapat mengambil kesimpulan bahwa mengabdi kepada kedua orang tua adalah kewajiban, baik disaat keduanya masih hidup atau telah meninggal. Sudahkah kita melakukan pengabdian kepada ibu dan bapak kita? Lakukanlah terus dan tingkatkan kwalitas dan kwantitasnya agar kita disayang oleh mereka dan mendapat ridho Allah SWT.
·               Sidang pembaca, ada kisah : ”Syahdan, Alqamah seorang laki-laki yang hidup  di zaman Rasulullah. Ia terkenal sebagai seorang yang sangat taat dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat berjama’ah bersama Rasulullah. Suatu ketika Alqamah tidak hadir dalam shalat berjama’ah selama beberapa hari. Maka Rasulullah bersama para sahabat menengok kerumahnya. Tenyata Alqamah sedang sakit keras, sangat menderita dan mengalami sakarat cukup lama. Kemudian Rasulullah memanggil ibu Alqamah, menanyakan apa sebenarnya yang terjadi pada diri anaknya. Ibunya menjawab bahwa Alqamah telah durhaka, yaitu melakukan perbuatan yang sangat menyakitkan hati ibu Alqamah. Rasulullah meminta supaya ibunya memaafkan Alqamah agar dapat meninggal dengan tenang. Tetapi ibunya menolak. Maka Rasulullah SAW menyuruh para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar. Melihat putranya akan dibakar, ia (ibu Alqamah) lalu mengatakan bahwa mau memaafkan petranya. Kemudian Alqamah pun dapat menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang.”
Kita tentu dapat mengambil hikmah dan kesimpulan dari kisah tersebut bukan? Yaitu jangan sekali-kali kita sampai menyakitkan hati orang tua kita, Apalagi menyakitkan hati ibu kita. Agar kita tidak menjadi anak durhaka.
·               Pengabdian kepada Masyarakat :
Sidang pembaca, coba amati kehidupan semut. Semut-semut itu meskipun kecil, mereka bisa membuat sarang yang cukup besar. Bagaimana caranya? Mereka melakukannya dengan bergotong-royong. Mereka bersatu bahu-membahu. Semut juga hidup dalam kerukunan dan penuh kasih sayang. Lihatlah apabila berpapasan (bertemu satu dengan yang lain) dengan rekan-rekannya di tengan perjalanan, semut-semut itu saling menempelkan ujung kepala (sungutnya) seolah-seolah mereka sedang bersalaman dan saling menyapa. Bagaimana dengan kita? Kita juga  bisa mencontoh perilaku seperti semut-semut itu, bergotong royong, bahu-membahu, rukun, bersatu, dan hidup penuh kasih sayang sesama anggota masyarakat. Jika kita bisa mewujudkan semua itu, maka Insya Allah kita bisa membangun masyarakat kearah yang lebih baik. Mengabdi kepada masyarakat berarti berbuat sesuatu kebaikan yang ditunjukan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok orang yang hidup berdasarkan aturan-aturan (norma) tertentu, yang terdiri atas berbagai jenis orang, misalnya tua, muda, anak-anak, remaja, laki-laki, perempuan, juga berbagai status sosial, seperti : kaya, miskin, petani, pegawai, guru, nelayan dan sebagainya. Meskipun berbeda, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama. Mereka harus bekerja sama membangun desa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta taat kepada peraturan yang berlaku yang sudah ditetapkan.
            Sidang pembaca, sampai disini saya sudahi dulu dakwah saya (lewat tulisan) terima kasih atas segala perhatian mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dengan tulisan yang lain dikesempatan lain tentu saja dengan materi dakwah dan judul yang berbeda. Wa’afwaminkum Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
? ? ?

* (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku Oleh: Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Kalijaga Jogyakarta)*

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.