“ APA PENGERTIAN IDDIKHOR ITU?”

Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Selamat berjumpa kembali pembaca dengan Al-fakir. Apa khabar? Semoga kita sekalian senantiasa diberikan bermacam-macam nikmat, sudah begitu banyak nikmat yang kita terima dari Allah seperti: Nikmat iman dan Islam, nikmat sehat wal`afiat, nikmat panjang umur, dan lain-lain lagi dan lain-lain lagi. Begitu banyak saking banyaknya sampai-sampai kita tidak sanggup untuk menghitungnya dan memang kita tidak akan pernah mampu untuk menghitungnya. Subhanallah! Kita ucapkan puja dan puji syukur kehadiratNya kehadirat Allah SWT yang telah  memberikan nikmat-nikmatNya kepada kita. Sehingga kita sampai dengan saat ini tetap istiqomah dan dapat hidup lebih berarti. Alhamdulillah!
Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul palinga Agung yaitu Baginda nabi besar Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
Saudaraku sidang pembaca yang terhormat. Kita sudah tahu apa itu pengertian ihtikar, karena kita sudah membahasnya pada tulisan saya terdahulu. Sekarang kita membahas setentang apa itu pengertian Iddikhor?
# Iddikhor berasal dari kata Dzukhrum, bukan Dukhrum artinya menabung atau menyimpan untuk suatu kebutuhan pada usia lanjut dan disiapkan untuk keperluan keduniaan dan akherat.
# Ada pepatah Arab mengatakan A`malul mukminina dhahoirun indallah. (Amalan-amalan orang-orang beriman adalah tabungan disisi Allah)

Islam membolehkan orang menimbun untuk kepentingan umat menghadapi masa paceklik. Islam juga membolehkan kita menimbun senjata untuk pertahanan dan keamanan negara dan rakyat termasuk persiapan dan sumber daya manusianya.
Keterangan: Yang dimaksud kita disini, tentunya bukan pribadi, perorangan, individu-individu (seperti kita ketahui  hukum dinegara kita ini jangankan menimbun, memiliki sebuah senjata api saja harus ada izin dari kepolisian.)

Seorang muslim bisa melayat kawannya atas kematian anaknya yang belum baligh, dia (boleh) selayaknya megucapkan (mendo`akan):” Semoga anak yang wafat menjadi syafaat, bermanfaat dan menjadi tabungan pahala untuk kedua orangtuanya.”  (Dikutip dari buku:22 Masalah Agama Oleh:H.Aziz Salim Basyarahil)
* Jadi arti iddikhor ialah menimbun untuk hal-hal yang baik.

Sidang pembaca, yang harus digaris bawahi adalah bahwa: Islam melarang penganutnya menyia-nyiakan dan mengabaikan kehidupan dunia, kebutuhan, keperluan dan kesenangannya. Lebih tegas lagi, Islam melarang umatnya rakus mengumpulkan, menimbun harta benda dan kekayaan yang berlebih-lebihan untuk pemilikan pribadi. Karena dengan demikian manusia jadi memusatkan seluruh kemampuan, tenaga, dan daya pikirnya hanya untuk mengabdi bagi kepentingan materinya belaka. Yang demikian dapat mendorong orang untuk membentangkan sayap kekuasaannya terhadap masyarakat dan bangsa dan membuka kesempatan baginya untuk mencapai tujuannya, tanpa memperdulikan segi etika, moral dan larangan-larangan agama.
Dengan demikian hilanglah rasa syukurnya kepada Allah. Hilang pula perasaan kasih sayangnya kepada sesama serta kesantunannya kepada yang lemah. Yang tampak adalah kesombongan, keangkuhan, bermegah-megahan , permainan kotor dan dekandensi moral. kisah Karun adalah contoh bagi mereka yang rakus menimbun harta dan perolehan fasilitas hasil kerjasama dengan Fir`aun dan perdana mentrinya Ha`amaan.
Insan beriman yang kebetulan diberikan keluasan rezeki dan harta yang berlimpah tentu saja tidak ingin mencontoh kerakusan karun bukan? Tetapi kalau mencontoh, contohlah kedermawanan Sahabat Rasul yang terkenal dengan sebutan Khulafaur Rosyidin yaitu: Abu Bakar Sidiq ra, Umar Ibnu Khattab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra.
Mereka orang kaya kecuali Sahabat (Ali bin Abu Thalib ra) kedermawanan mereka sudah sangat terkenal bahkan dikenal sampai kelangit. Untuk membela Islam dengan tersenyum separuh dari jumlah kekayaan mereka diberikan bahkan Sahabat Abu Bakar Sidiq ra menyerahkan seluruh kekayaannya untuk kejayaan Islam. Subhanallah!
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Kalau kita tidak bisa melakukan perbuatan kebajikan seperti yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin itu, minimal kita berusaha (niat) melakukan perbuatan yang baik, bahkan yang paling baik. Lantas bagaimana melakukan perbuatan amal yang baik itu?

# Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini:
(Artinya):” (Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS:Al-Mulk:2)
* Kehidupan didunia ini adalah ujian untuk diketahui siapa yang paling baik amalnya.

# Amal yang terbaik meliputi dua hal:
1. Harus sesuai dengan tuntunan dan ajaran syariat yang dipilihkan oleh Allah dan dijabarkan (dipraktekkan) oleh Rasulullah SAW

2.Harus dilakukan ikhlas karena Allah SWT semata

# Perhatikan FirmanNya:
(Artinya):” Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dengan lurus.” (QS:Al-Bayyinah:5)

Maksudnya dengan lurus dalam ayat ini adalah jauh dari syirik menyekutukan Allah SWT dan jauh dari kesesatannya.)
Syirik adalah kedzaliman dan penghianatan yang paling besar terhadap Allah SWT segala dosa dapat diampuni kecuali syirik. Seluruh amal kebaikan seorang akan gagal dan hampa disebabkan karena syirik. Kita harus mengaitkan dan menyandarkan segala persoalan dan urusan kita kepada kekuasaan dan kodrat Allah SWT.
Akhir dari tulisan (religius) ini saya sampaikan firman Allah SWT yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur`an seperti berikut:
# Wahyu Allah pertama dan firmanNya langsung kepada Musa As ialah:
(Artinya):” Dan Aku telah memilih kamu (menjadi Rasul) maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, karena itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku  (QS:Thaha:13-14)

# Dan FirmanNya:
(Artinya):” Al-Qur`an ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang maha esa (tunggal) dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS:Ibrahim:52)

Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan (religius) saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: 22 Masalah Agama Oleh:H.A Aziz-Salim Basyarahil Penerbit Gema Insan Press 1992.#

# Artikel (religius) ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com

Last Updated on Wednesday, 04 June 2014 00:21

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.