BAGAIMANA CARANYA MENGHINDARI SIFAT DENDAM ITU ? ( Bagian Pertama )

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Segala puja dan puji milik Allah SWT, tiada sekutu bagi-Nya dan hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan hanya kepada Allah SWT kita memohon pertolongan serta hanya kepada-Nya kita memohon ampunan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para sahabatnya.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Seorang muslim hendaknya memiliki hati yang bersih. Orang yang hatinya bersih, selalu memandang orang lain itu baik. Apabila orang lain mendapat nikmat dari Allah, maka ia turut bergembira. Sebaliknya, apabila melihat orang terkena musibah, iapun turut bersedih. Pada diri seorang muslim hendaknya tidak ada sedikitpun rasa dendam.
Rasulullah SAW bersabda : ( Artinya ) : ” Orang mukmin itu bukanlah pendendam. ” ( Al-Hadist ).
Dendam artinya berkeinginan keras untuk membalas. Keinginan untuk membalas biasanya timbul karena adanya perasaan kecewa atau marah terhadap orang lain. Dalam pergaulan sehari – hari baik disekolah ( kampus, kantor ) dirumah , atau dimana saja, mungkin terjadi kesalah pahaman. Salah paham jika tidak segera diselesaikan dapat menimbulkan rasa dendam.
Dendam , termasuk sifat tercela. Orang yang memiliki sifat dendam, biasanya memiliki pula sifat – sifat tercela lainnya, seperti dengki, bohong, memutuskan hubungan silaturahmi, membuka aib orang lain , menghalangi hak orang lain, terutama orang yang didendaminya, dan sebagainya.
Sifat dendam tidak ada manfaatnya sama sekali bagi diri kita, bahkan sangat merugikan. Misalnya perasaan kita akan terganggu setiap kali bertemu dengan orang yang kita dendami. Apalagi jika orang yang kita dendami itu sekelas, sekampus ( satu ruangan ) disekolah, dikampus, dan dikantor, tentu perhatian kita terhadap pelajaran, mata kuliah, dan pekerjaan kita, akan terganggu ( kita tidak konsentrasi ). Begitu pula jika kita berjumpa dijalan dengan orang yang kita dendam kepadanya maka kita akan menghindari, kita lebih suka memilih jalan lain. Dengan demikian dunia terasa semakin sempit. ( BERSAMBUNG ) .
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas Bagian Pertama. Kita nantikan penulisan selanjutnya Bagian Kedua pada penerbitan mendatang. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : AQIDAH AKHLAK. Oleh : Drs Masan Alfat dan Drs Abdul Rosyid *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan :Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website :Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.