Assalamualaikum,sidang pembaca,apa kabar? Jumpa lagi kita (lewat tulisan) sesuai judul tulisan tersebut diatas semoga (materi) kali ini mendapatkan tempat dihati pembaca,menjadi sebagai tambahan ilmu (wawasan) menjadikan bertambah mantabnya iman didada dan yang paling diharapkan penulis sebagai sarana syiar dakwah nilai-nilai Islam kian dapat tersebarluaskan.
Saudaraku, apa pengertian dari hasad itu? Hasad atau dengki adalah sifat sesorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah SWT. Baik dengan keinginan nikmat tersebut hilang dari orang lain atau tidak. Bila disertai dengan perasaan ingin menghancurkan adalah merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam, sementara yang termasuk hasad adalah, seumpama tetangga kita memilki kelebihan harta benda, atau anak dan istri yang cantik jelita, atau kedudukkan dan nama baik dimasyarakat. Lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik berusaha jelek merusaknya ataupun tidak.
Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat dzalim kepada tetangganya. Seperti mnyebar gosip dan menjelek-jelekkan seseorang didepan orang lain, tentu akan menjadikan suasana bermasyarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali.
Saudaraku, ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan hasad. Nmun inti ungkapan mereka (para ulama) bahwa hasad adalah sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya. Sementara Imam Nawawi, penulis kitab terkenal Riyadhus Shalihin berkata:” Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama, ataupun dalam perkara dunia.” (Kitab Riyadhus Shalihin, Bab Tahrimil Hasad)
* Hasud, apapula pengertian kata hasud itu? Hasud dengan ungkapan lain adalah membangun kebahagiaan diri kita diatas kesengsaraan orang lain. Sebab utama munculnya hasud adalah ketiadaan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah SWT yang kita terima. Sesuatu yang salah (keliru) tetapi yang selalu saja ada dibenak kita yaitu anggapan: Bahwa rumput dihalaman rumah orang lain selalu nampak lebih hijau. Istilah kerennya: The grass over the fence always looks greener. Yaitu selalu saja yang ada dibenak kita pemikiran orang lain senantiasa lebih banyak kenikmatannya dari kita. Akibatnya muncul rasa rendah diri, rasa tidak percaya diri disertai iri, dengki, lalu hasud.
Ini senada dengan penegasan Allah didalam kitab suci Al-Qur`an. FirmanNya:
*Artinya:” Dan ingatlah ketika Tuhanmu sekalian menegaskan, jika kamu benar-benar bersyukur maka pasti Aku akan tambahi (karunia) bagi kamu dan jika kamu benar-benar ingkar maka sesungguhnya azabKu amat pedih. (QS:Ibrahim:7)
Yang patut (harus) digaris bawahi disini adalah, seyogyanya kalau kita hendaknya pandai-pandai mensyukuri nikmat yang kita terima dari Allah SWT, maka kenikmatan-kenikmatan itu akan terus bertambah namun sebaliknya, kalau tidak maka justru kesengsaraan yang akan kita dapati. Dan kenikmatan ataupun kesengsaraan disini tidak harus langsung berwujud materi tapi bisa: sikap, rasa, atau nuansa batin.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Lewat kesempatan ini saya ingin sedikit menyampaikan beberapa sebab terjadinya hasad. Pada dasarnya jiwa manusia memiliki tabiat menyukai kedudukan yang terpandang dan tidak ingin ada yang menyaingi atau lebih tinggi darinya. Jika ada yang lebih tinggi darinya, iapun sempit dada dan tidak menyukainya. Serta ingin agar nikmat itu hilang dari saudaranya.
Dari sini jelaslah bahwa hasad merupakan penyakit kejiwaan. Hasad merupakan penyakit kebanyakan orang. Tidak terbebas darinya kecuali segelintir manusia. Oleh karena itu dahulu dikatakan: “Tiada jasad yang bebas dari sifat hasad. Akan tetapi orang yang jelek akan menampakkan hasadnya, sedang orang yang baik akan menyembunyikannya.”
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu pernah bertanya:” Apakah seorang mukmin itu (memiliki sifat hasad?” Beliau (Al-Hasan) menjawab: Begitu cepatnya engkau lupa (tentang kisah hasad) saudara-saudara Nabi Yusuf As namun sembunyikanlah hasad itu didalam dadamu. Hal itu tidak akan membahayakanmu selagi tidak ditampakkan dengan tangan dan lisan.” (Majmu fatawa Ibnu Taimiyah:10/125)
Saudaraku, sebab terjadinya hasad: Seperti misalnya, permusuhan, takabur (sombong atau angkuh) bangga diri, ambisi kepemimpinan, jeleknya jiwa serta kebahilannya. Hasad yang paling dahsyat adalah yang ditimbulkan oleh permusuhan dan kebencian. Orang yang disakiti oleh orang lain dengan sebab apapun, akan menumbuhkan kebencian dalam hatinya serta tertanamnya api kedengkian dalam dirinya. Kedengkian itu menuntut adanya pembalasan, sehingga ketika musuhnya tertimpa bala bencana iapun senang dan menyangka bahwa itu adalah pembalasan dari Allah SWT untuknya.
Sebaliknya, jika yang dimusuhinya memperoleh nikmat, ia tidak senang. Maka hasad senantiasa diiringi dengan kebencian dan permusuhan. Adapun hasad yang ditimbulkan oleh kesombongan, seperti bila orang yang setingkat dengannya memperoleh harta atau kedudukkan maka ia khawatir orang tadi akan lebih tinggi darinya. Ini mirip hasad orang-orang kafir terhadap Rasulullah SAW sebagaimana yang dikisahkan Allah SWT: Mereka menjawab:” Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang maha pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.” (Yasin:15) Yakni mereka heran dan benci bila ada orang yang seperti mereka memperoleh derajat kerasulan, sehingga merekapun membencinya. Demikian pula hasad yang ditimbulkan oleh ambisi kepemimpinan dan kedudukkan.
Misalnya ada orang yang tidak ingin tertandingi dalam bidang tertentu. Ia ingin dikatakan sebagai satu-satunya orang yang mempunyai dibidang tersebut. Jika mendengar dipojok dunia ada yang menyamainya, ia tidak senang. Ia justru mengharapkan kematian orang itu serta hilangnya nikmat itu darinya. Begitu pula halnya dengan orang yang terkenal karena ahli ibadah,keberanian,kekayaan atau yang lainnya, tidak ingin tersaingi oleh orang lain. Hal itu karena semata-mata ingin menyendiri dalam kepemimpinan dan kedudukkan.
Dahulu ulama yahudi mengingkari apa yang mereka ketahui tentang Nabi Muhammad SAW serta tidak mau beriman kepadanya, karena khawatir tergesernya kedudukkan mereka. Adapu hasad yang ditimbulkan oleh jeleknya jiwa serta bakhilnya hati terhadap hamba Allah SWT, bisa jadi orang semacam ini tidak punya ambisi kepemimpinan ataupun takabur (kesombongan). Namun jika disebutkan disisinya tentang orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT, sempitlah hatinya. Jika disebutkan keadaan manusia yang goncang dan susah hidupnya, iapun bersenang hati. Orang yang seperti ini selalu menginginkan kemunduran orang lain, bakhil dengan nikmat Allah SWT atas para hambaNya, seolah-olah manusia mengambil nikmat itu dari kekuasaan dan perbendaharaannya.
Saudaraku, sidang pembaca demikianlah kebanyakan hasad yang terjadi ditengah-tengah manusia disebabkan faktor-faktor yang penulis sebutkan diatas tadi dan sering terjadinya yang demikian antara orang-orang yang hidup sezaman, selevel atau antar saudara. Oleh karena itu saudaraku, barangkali sering antum mendapatkan ada orang alim yang hasad terhadap orang alim lainnya dan tidak hasad terhadap ahli ibadah. Pedagang hasad terhadap pedagang yang lain dan seterusnya. Sumber semua itu adalah karena ambisi duniawi, karena dunia ini terasa sempit bagi orang yang bersaing. (kitab Mukhtashar minhajul Qashidin:hal:240-243)
Sampai disini penulis sudahi tulisan ini, jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain, tentu saja dengan tulisan dan judul yang lain. Terima kasih atas segala perhatian, serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
* Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Sabar Itu Syurga (Panduan memahami perilaku terpuji dan tercela dalam Islam) oleh:Agus Suryana
* (Artikel (religius) ini dapat temukan pada website:www:hajisunaryo.com)*