DZIKIR LISAN DAN DZIKIR HATI

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Sebagaimana diketahui bersama, dzikir itu ada dua macam, Dzikir lisan dan dzikir hati. Dzikir lisan memberikan pengaruh besar bagi dzikir hati.
Ia membuat seseorang istiqamah dalam dzikir hati.
Menurut Imam Al-Quyairi, apabila seseorang bisa berdzikir dengan lisan dan hatinya, berarti akhlak dan keadaannya sudah sempurna.
Imam Ash-Shawi berkata : ” Janganlah kamu tinggalkan dzikir, meskipun kamu merasa hatimu tidak hadir bersama Allah. Terkadang berdzikir dalam keadaan lalai, bisa berubah menjadi dzikir dalam keadaan ‘menghadirkan’ ( baca: khusyu’ ).
Dzikir bagaikan lentera. Seseorang tidak boleh membuang lentera karena ia tidak menyala saat pertama kali dicoba dinyalakan. Ia harus terus mengulang – ulang, sampai lentera itu menyala. Apabila hati sudah menyala, maka seluruh anggota badan akan tenang. Dengan demikian, syetan tidak akan mampu melancarkan godaan, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an, : ” Sesungguhnya orang – orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah.” ( QS : Al – A’raf : 201 ). Ibadah pun menjadi ringan bagi anggota badan. Ia tidak akan menjadi beban bagi siapapun.
Orang bijak berkata : ” Apabila hijab telah disingkap, tak ada penghalang atau beban berat. Bukti lain bahwa dzikir adalah aktivitas mulia adalah Firman Allah SWT dalam Hadist Qudsi : ” Aku adalah teman bagi orang yang mengingat-Ku. ” ( HR : Hakim ).
Allah SWT berfirman : ” Dan sebutlah ( nama ) Allah sebanyak – banyaknya agar kamu beruntung.” ( QS : Al-Anfal: 45 )
Imam Nawawi berkata : ” Dzikir dilakukan lisan dan hati secara bersama – sama. Kalau hanya salah satu saja yang berdzikir, maka dzikir hati lebih utama. Seseorang tidak boleh meninggalkan dzikir lisan karena takut riya’. Berdzikirlah dengan keduanya dan niatkan untuk mendapat ridha Allah semata. Suatu hari saya mengunjungi Al-Fadhil untuk menanyakan orang yang meninggalkan amal perbuatan karena takut riya’ dihadapan manusia. Beliau menjawab : ” Kalau seseorang menyempatkan diri memperhatikan tanggapan orang lain padanya, berhati- hati atas persangkaan jelek mereka, maka pintu -pintu kebaikan tidak terbuka lebar untuknya. Ia telah menghilangkan bagian agama yang sangat vital. Ini bukan jalan yang ditempuh orang – orang bijak.
Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : TERAPI DENGAN DZIKIR. Oleh : Dr. Abdul Halim Mahmud *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan :Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website : Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.