Assalamualaikum wr.wb.Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Kita ucapkan puja dn puji syukur kehadirat Allah SWT, karena sesungguhnyalah tulisan religius ini, sesuai judul tersebut diatas saat ini dapat berada dihadapan antum sidang pembaca. Pada hakekatnya adalah karena berkat izinNya. Sekali lagi,kita ucapkan puja dan puji syukur kehadiratNya. Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tetap tercurah kepada junjungan kita,junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling Agung, yaitu Baginda Sayyidina Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
Sidang pembaca,orang yang ikhlas adalah orang yang niat beribadah atau beramal semata-mata karena ketulusan dan murni mencari ridho Allah. Dia beramal tidak bercampur dengan motif lainnya, seperti ingin dipuji atau pun mencari popularitas.
# Pengertian ikhlas:
Menurut bahasa, ikhlas artinya tulus hati atau hati yang bersih. Menurut istilah, ikhlas artinya melakukan sesuatu pekerjaan atau perbuatan dengan tulus hati dan semata-mata mengharap ridho Allah SWT.
# Sesuai FirmanNya:
(Artinya):” Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Dan supaya mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS:Al-Bayyinah:5)
Bila dalam beramal ada satu motif lain yang melandasi pekerjaan tersebut dan bukan karena Allah maka amal tersebut berarti sudah tercampur (isyrah) sehingga yang terjadi adalah riya,sombong,angkuh, dan sebagainya. Apabila amal perbuatan manusia dilandasi niat semata-mata karena Allah maka baiklah amalnya dan menjadi amal yang sholeh (ikhlas), sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
(Artinya):” Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya dan bahwasanya tiap-tiap orang tergantung apa yang ia niatkan.” (HR:Bukhari dan Muslim)
Keutamaan ikhlas dalam perbuatan manusia:
Kedudukan ikhlas dalam amal perbuatan manusia penting sekali. Ikhlas merupakan syarat diterimanya amal ibadah. Dengan amal yang ikhlas manusia dapat terhindar dari godaan syetan. Ikhlas akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa serta merupakan kunci diterimanya do`a.
Setiap amal manusia ditentukan berdasarkan niatnya. Seseorang akan mendapatkan hasil berdasarkan niatnya. Niat dapat menentukan jenis perbuatan, bahkan merupakan penentu maksud dan tujuan perbuatan. Niat yang ikhlas adalah syarat diterimanya amal ibadah, sedangkan amal yang tidak ikhlas menyebabkan perbuatan tersebut menjadi sia-sia.
# Perhatikan Firman Allah SWT:
(Artinya):” Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS:An-Nisa:125)
# Dan FirmanNya:
(Artinya):”…. Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS:Al-An`Am:88)
# Sehubungan dengan ayat diatas Rasulullah SAW bersabda seperti berikut:
(Artinya):” Allah tidak menerima amalan melainkan amalan yang ikhlas dan karena untuk mencari keridhaan Allah.” (HR:Ibnu Majah)
Seorang mukmin dalam beramal hanya semata-mata mengharap keridhaanNya saja. Apabila dalam amal ada motif lain, misalnya karena kebanggaan ingin dipuji, atau mencari popularitas, maka amal tersebut sudah termasuk riya. Riya adalah syirik yang halus sifatnya. Suatu amal yang tidak dilandasi niat yang ikhlas, pada hakikatnya adalah menipu diri sendiri ataupun berdusta. Jika seseorang beramal tidak ikhlas, maka tidak akan mendapat hasil yang diharapkan, bahkan tercecer ditengah jalan. Ia seperti petani yang tidak dapat menuai hasil panennya karena puso atau gabuk atau padinya dimakan wereng.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai banyak orang beramal. Namun,sulit untuk diketahui dan dibedakan apakah amal tersebut termasuk yang ikhlas atau riya. Tidak sedikit suatu amal yang lahiriyahnya baik, meskipun sesungguhnya merupakan racun. Contohnya upaya orang Yahudi untuk memecah kaum muslimin diMadinah dengan mendirikan Masjid Al-Dirra. Tujuannya untuk menandingi masjid yang syah. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk menghancurkan masjid tersebut. Mengapa demikian? Oleh karena tujuan pendirian masjid tersebut memang untuk memecah belah persatuan dan kesatuan umat, sedangkan memecah belah persatuan dan kesatuanumat dipandang sebagai suatu kejahatan. Hal ini memang berat, karena setiap pekerjaan manusia pada umumnya adalah dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat, dan mengharapkan pujian serta menolak cacian.
Seorang muslim yang sungguh sungguh dalam beramal akanmelakukan sesuatu yang dirihdoi Allah (Mardhotillah). Pengakuan yang ia cari adalah pengakuan dari Allah. Hanya amal ibadah dengan mencari keridhoan Allah semata yang dapat mendatangkan kebahagiaan. Allah dalam menilai seseorang bukan dari kepribadian lahiriyahnya saja ataupun status social dan ekonomi orang tersebut, melainkan dari keikhlasannya , sebagaimana Sabda Rasulullah SAW berikut ini:
# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Dari Abi Hurairah Abdurrahman bin Shakhir ra dari Nabi SAW ia berkata:” Telah bersabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah tidak akan menilai bentuk tubuh dan rupamu sekalian, tetapi Allah hanya menilai kepada hatimu (niat yang ikhlas).” (HR:Muslim).
Sampai disini saya sudahi dulu tulisan religius ini, semoga bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah pada:Bagian Kedua mendatang. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan materi diambil dandkutip dari buku: Pendidikan Agama Islam 1 (Dikembangkan dan Disesuaikan dengan kurikulum SMU/GBPP 1994#
…
# Artikel religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com.#
…