“ MEMAHAMI HUBUNGAN ANTARA IBADAH DAN IHSAN
Oleh:H.Sunaryo.A.Y
Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Kita ucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT karena sesungguhnya lah tulisan (artikel) religius judul sesuai tersebut diatas, yang tentunya saat ini sudah berada dihadapan sidang pembaca pada hakikatnya semata-mata adalah karena izinNya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
Pokok-pokok ibadah yang tersebut dalam rukun Islam dan yang berhubungan dengan itu seperti thaharah dan macam-macamnya, adalah ibadah yang ditentukan tatacara melakukannya. Ibadah yang demikian haruslah dilakukan dengan tertib sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Nabi SAW. Sebab itu tidak boleh ditambah atau dikurangi. Ibadah yang demikian itu selain harus dilakukan dengan cara yang tertib, juga harus dilakukan dengan sikap yang khusuk, semata-mata tertuju kepada Allah. Shalat misalnya, haruslah kita lakukan seolah-olah kita sedang berhadapan dengan Allah, sekalipun kita tidak dapat melihatNya. Akan tetapi haruslah kita lakukan dengan keyakinan bahwa Allah melihat apa yang sedang kita lakukan.
Ibadah dengan cara demikian itulah yang disebut ihsan, sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi SAW:(Artinya):” Ihsan itu adalah bahwa engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Maka jika engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR.Muslim).
Demikianlah pulalah hendaknya dalam melakukan ibadah puasa,zakat dan haji. Sehingga ibadah kita tidak ditujukan kepada yang lain: Seperti karena malu kepada orang lain, karena ingin dipuji, dan sebagainya. Akan tetapi benar-benar tertuju semata-mata kepada Allah.
Begitu pula dalam ibadah-ibadah yang lain yang tidak ditentukan tatacara pelaksanaannya, yaitu:” Segala amal perbuatan yang tidak dilarang oleh agama yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena ibadah dalam pengertian yang umum ini tidak terbatas kepada rukun Islam yang lima atau berhubungan dengan itu, sehingga segala amal yang ditujukan untuk mengabdi kepada Allah adalah ibadah juga seperti menolong kepada orang lain,member sedekah kepada fakir miskin, mencari rezeki yang halal, belajar, berbakti kepada ibu bapak, dan sebagainya. Semua itu haruslah dilakukan dengan niat yang ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
Saudaraku, kalau berat atau ringannya sesuatu barang itu dapat ditentukan dengan timbangan, panjang pendeknya sesuatu dapat diukur dengan meteran, maka baik buruknya sesuatu amal perbuatan dapat dinilai dari niat yang mendorongnya. Jika niatnya baik, maka perbuatan itu akan baik pula. Dan jika niatnya buruk, maka perbuatannya itu akan menjadi buruk pula, sekalipun sepintas lalu kelihatannya baik.
# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):”Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung dengan niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh balasan amal perbuatannya sesuai dengan amalnya.” (HR.Bukhari)
Adapun niat yang baik itu ialah yang ikhlas, artinya semata-mata untuk menjalankan kewajiban demi mencari ridho Tuhan. Sedangkan niat yang tidak baik disebut riya`artinya niat yang tidak ikhlas. Niat yang ikhlas ialah yang akan diterima oleh Allah, sedangkan niat yang tidak ikhlas tidak akan diterima oleh Allah. Niat yang tidak ikhlas itu, misalnya melakukan shalat karena takut kepada guru (kyai, ustad), membantu orang bukan semata-mata menjalankan kewajiban akan tetapi mengharapkan balasan dari yang ditolong. Meminjami buku kepada teman karena ada udang dibalik batu dan sebagainya.
Oleh karena itu segala ibadah kita, baik dalam arti yang khusus maupun dalam arti yang umum hendaklah kita laksanakan demi melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Tuhan baik perbuatan itu disaksikan, didengar, atau tidak oleh orang lain, baik dilakukan ditempat ramai atau ditempat yang sunyi semuanya hendaklah dilakukan dengan ikhlas.
Saudaraku, jadi ibadah ialah: Segala amal yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah itu ada dua macam:
1. Yang telah ditentukan tatacara pelaksanaannya seperti: Shalat, puasa dan sebagainya
2. Yang belum ditentukan tatacara pelaksanaanya, misalnya menolong orang, mencari rezeki, menuntut ilmu dan sebagainya.
Kedua macam ibadah itu harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, bukan karena ingin dipuji, karena takut dicela, atau karena untuk mencari keuntungan pribadi. Ibadah yang demikian itulah yang akan diterima oleh Allah, karena baik buruknya amal itu tergantung pada niatnya. Ihsan dalam arti yang sempit ialah: Beribadah kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah melihat dan memperhatikan ibadah yang sedang dilakukan itu. Adapun ihsan dalam arti yang luas ialah: Berbuat baik yang ditujukan kepada Allah, kepada orang lain, atau terhadap diri sendiri.
Sampai disini saya sudahi dulu tulisan religius ini. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan materi diambil dan dikutip dari buku: Pendidikan Agama Oleh: Drs. Mudzakkir dan Wardan Amir, BA.
…
# Tulisan artikel religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com.#
…