“ INGIN BISA BERLAPANG DADA? JANGAN MEMPUNYAI HATI YANG SEMPIT TETAPI BUAT HATI KITA MENJADI LUAS, SELUAS SAMUDRA.”

Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wasalim Sayyidina Muhammad. Selamat berjumpa kembali pembaca, apa khabar? Senang sekali dapat berjumpa kembali (lewat tulisan) dengan antum sidang pembaca. Semoga artikel (religius) sesuai judul tersebut diatas bermanfaat, menyejukkan, mendapat tempat disetiap relung hati pembaca. Semoga!
Kita ucapkan puja dan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, Tuhan seru sekalian alam yang telah begitu banyak memberi rezeki kepada kita. Rezeki berupa nikmat sehat wal afiat, panjang umur, waktu yang luang serta yang paling utama nikmat iman dan Islam. Dengan iman dan Islam dan kita istiqomah, kita akan selamat (berbahagia) didunia dan diakherat. Sesuai do`a kita: Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannaar.
Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling agung yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
Awal dari pembahasan materi kita ini perkenankan saya menyampaikan sebuah Hadist Nabi SAW sebagai berikut: Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
# (Artinya):” Ingatlah sesungguhnya didalam jasad itu ada sepotong daging, apabila daging tersebut baik maka menjadi baiklah seluruh jasad itu dan apabila daging tersebut rusak maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah ia (sepotong daging) itu adalah hati.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Saudaraku, sesuai Hadist tersebut diatas. Jelas sekali,gamblang sudah bahwa fungsi hati (Qolbu) itu sangat menentukan perangai seseorang. Pembaca, kita introspeksi diri. Apakah kita sering marah? Suka bergunjing, senang ghibah? Namimah?
Apakah kita masih susah menghilangkan perasaan iri (dengki) melihat teman, sanak famili, kerabat atau bahkan kita iri kepada saudara kandung kita sendiri apabila melihat rezeki (harta) mereka lebih banyak dari kepunyaan kita? Apabila melihat pangkat (kedudukan) mereka lebih tinggi dari kita? Kita susah menghilangkan syirik, hasad, atau dan kita sangat susah menghilangkan hobi meghina orang?, mau menang sendiri, tidak pernah mau mengalah dan orang lain selalu salah? Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Mari, sesaat kita bersama-sama mencari solusi yaitu apa-apa saja kiat kita untuk dapat mengantisipasi sifat-sifat buruk ini?
Sifat-sifat buruk seperti tersebut diatas identik dengan yang namanya akhlak bobrok. Sementara akhlak bobrok itu sendiri hampir lima belas abad silam sudah ada. Dimana Rasulullah SAW saat itu diutus oleh Allah SWT menjadi Rasul adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sidang pembaca, akhlak itu ada dua. Yaitu akhlak terhadap Khalik dan akhlak terhadap sesama manusia.
# Yang termasuk akhlak tercela (akhlak bobrok) terhadap Khalik (Allah) antara lain: Menyekutukan Allah dengan sesuatu, atau menganggap ada Tuhan lain (seperti Dewa, berhala (patung), Roh para leluhur, pohon-pohon yang dianggap keramat dan lain-lain lagi dan lain-lain lagi.) Disamping Allah SWT dan tidak mentaati perintahNya.

# Sedangkan yang termasuk akhlak tercela terhadap makhluk, antara lain: Mencuri, tawuran antar pelajar (mahasiswa), bakhil, iri, dengki, hasad, dusta, suka menfitnah, menipu dan sebagainya yang buruk-buruk lagi. Sementara akhlak tercela (bobrok) yang amat dibenci oleh Allah dan dilaknati oleh malaikat serta paling tidak disenangi oleh umat manusia adalah: Menipu (berdusta atau berbohong). Misalnya kita mencuri, istilah kerennya sekarang korupsi tetapi mengaku tidak mencuri, membantah tidak korupsi dan berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menghilangkan jejak. Maka sebenarnya kita telah membuat (melakukan) keburukan dua kali. Yaitu melanggar peraturan dan menipu. Misalnya kita menfitnah orang tetapi mengaku tidak. Maka sebenarnya kita telah melakukan dua keburukan. Yaitu menjelekkan orang dan menipu, padahal kita tahu fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Atau misalnya kita tidak shalat maghrib, tetapi mengaku kita sudah shalat. Maka sebenarnya kita sudah membuat (melakukan) kesalahan dua kali, yaitu ingkar perintah Allah dan menipu.

# Jika kita mengaku beragama Islam, (Ktp kita ditulis Islam) tetapi apa yang disuruh tidak dikerjakan dan yang dilarang sering dilanggar (perintah-perintah Allah SWT tidak kita kerjakan tetapi justru apa-apa yang dilarang oleh Allah kita kerjakan). Maka sebenarnya bahwa kita telah memiliki akhlak yang sangat tercela. Karena menipu Allah, menipu diri sendiri, bahkan menipu ibu bapak kita dan manusia seluruhnya. Nauzubillah summa nauzubillah.

Sidang pembaca, kita tahu Nabi Muhammad SAW adalah manusia piihan. Nabi SAW sangat pemaaf, beliau tidak pernah menyakiti hati orang, tidak pernah memaki, tidak pernah mencaci, tidak pernah mencela, tidak pernah memukul. Nabi Muhammad SAW berseru (berdakwah) agar semua orang masuk Islam. Yaitu mengucap syahadat dan memurnikan ketaatan kepada Allah SWT.  Karena seruannya itulah, beliau jadi dibenci, dicaci, dicela oleh kebanyakan manusia.
Pada suatu hari Nabi SAW dilempari batu sewaktu seruan (dakwah)nya itu disampaikan kepada penduduk Thaif. Pernah pula beliau hendak dibunuh ketika sedang melakukan shalat.
Sungguh banyak fitnah ditujukan kepada diri Nabi SAW.
Namun beliau tetap sabar dan tawakkal. Tidak satupun keburukkan dibalas dengan keburukkan, malah memaafkan semua kesalahan itu. Segala keburukkan ditutupi dengan kebaikan dan kebenaran hakiki. Bahkan Nabi SAW berdo`a:” Ya Allah, berilah mereka petunjuk, taufik dan hidayah agar mereka tahu maksud ke-Rasulanku.

Karena sifatnya yang sangat pemaaf itu, maka berduyun-duyunlah manusia masuk Islam. Karena sifat ramah tamah dan tegas itu, lalu banyak orang (seluruh didunia) simpatik terhadap Islam. Saudaraku itulah contoh pemaaf dari manusia pilihan, kekasih Allah, junjungan umat Nabi Muhammad SAW.

# Kita simak Hadist-hadist Nabi SAW berikut ini:
* Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Jauhilah olehmu sifat dengki (sirik) karena sesungguhnya sifat dengki itu menelan habis kebaikan, sebagaimana api menelan habis kayu kering. (Al-Hadist)

*Sabda Nabi SAW:
(Artinya):” Jauhilah perbuatan dan perkataan yang keji (kotor) karena Allah SWT tidak suka kepada yang keji dan tidak pula kepada yang dikotori. (Al-Hadist)

* Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Tidak akan masuk syurga orang Islam yang menyebarkan khabar bohong.” (Al-Hadist)

* Dan sabdanya (Nabi SAW) setentang beriman kepada hari akhir.
(Artinya):” Siapa-siapa yang mengakui beriman kepada Allah dan beriman kepada hari Kiamat, maka haruslah berbicara baik-baik atau diam saja.” (Al-Hadist)

Itulah beberapa Hadist Nabi SAW setentang perbuatan baik dan buruk. Kalau saja Hadist-Hadist ini mendapat tempat dihati kita. Saya yakin, haqul yakin kita akan mendapat beberapa keuntungan. Yaitu diberi pahala oleh Allah SWT, disenangi sesama manusia dan Allah akan meninggikan derajat dan martabat kita.

Saudaraku sidang pembaca tercinta. Salah satu kiat agar kita dijauhkan oleh Allah SWT dari memiliki akhlak tercela terhadap Khalik (Allah) dan dijauhkan dari mempunyai akhlak tercela terhadap sesama manusia (Makhluk) hendaknya sering-sering kita membaca do`a akhlak yang baik berikut ini:

# Allahummah dinii li ahsanil akhlaaqi (Ya Allah Tuhan kami, tuntunlah aku menuju budi pekerti yang baik.)

# Fa innahu laa yahdii li ahsanihaa illa anta (Karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menuntunnya, melainkan Engkau Ya Allah)

# Washrif `anni sayyiaha (Dan hindarkanlah diriku dari akhlak tercela)

#Fa innahu laa yashifu-sayyiahaa, illa anta. (Karean sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkannya kecuali Engkau Ya Allah)

Mudah-mudahan dengan membiasakan (tidak lupa) dan sering-sering kita membaca do`a akhlak yang baik ini, Allah SWT berkenan memberikan taufik dan hidayah (Nya) kepada kita sehingga kita mampu memiliki akhlak yang mulia, yaitu:Jujur, ikhlas, suka menolong, menepati janji, tidak khianat serta pandai memelihara amanah. Kemudian dengan pertolonganNya pula kita istiqomah denga akhlak yang mulia ini. Amin!
Kalau kita mau jujur dari uraian semua tersebut diatas kita dapat menyimpulkan bahwa yang menjadi pokok persoalan itu sesungguhnya adalah segumpal daging yang bersemayam didalam dada yaitu hati (Qolbu) kita sendiri. Kenapa? Karena kita memiliki hati yang sempit. Dengan hati yang sempit, kita loyal, akrab dengan sifat-sifat buruk, gampang marah dan seperti dikatakan diatas justru sifat buruk itu identik dengan akhlak bobrok.
Sidang pembaca, saya pernah mendengar seorang mubaligh (Da`i) dalam sebuah ceramahnya berkata:Hati yang sempit diumpakan seperti sebuah gelas yang penuh berisi air. Seberapa sih gedenya sebuah gelas? Air didalam gelas itu walau suci dan mensucikan tetapi tidak bisa dibuat untuk berwudhu, tidak bisa dibuat mandi, apalagi mandi junub dan tidak juga bisa dibuat untuk masak (Karena sedikitnya air itu)
Kalau kebetulan air didalam gelas itu kejatuhan kotoran cicak. Tentu air digelas itu menjadi berubah warna dan baunya dan hukum air itu menjadi najis dan air itu tidak suci mensucikan lagi. Tetapi kalau sebuah bak mandi yang luasnya 2 (dua) kullah. Ada kotoran binatang cicak masuk kedlam air itu. Air didalamnya tidak berubah warna dan baunya.
Apakah hukum air dua kullah itu menjadi najis? Jawabnya: Tidak! Air itu tetap suci mensucikan. Sekarang seekor binatang tikus masuk kedalam bak mandi itu dan tikus itu mati membusuk air sebanyak dua kullah itupun berubah warna dan baunya. Lantas hukum air itu najis tidak? Jawabnya Najis!
Kita tengok sebuah kolam renang yang ada disebuah rumah mewah misalnya. Namanya juga sebuah kolam renang tentu luas bukan? Suatu hari kolam renang itu kemasukan kotoran cicak, menjadi najis tidak air itu? Jawabnya Tidak! Seekor tikus kecemplung disitu dan binatang itu mati membusuk menjadi najis tidak air didalam kolam renang itu? Tidak! Kenapa? karena air kolam renang itu warna dan baunya tidak berubah. Tetapi bagaimana kalau seekor binatang kerbau mati membusuk didalam kolam renang itu dan warna serta bau air kolam renang itupun berubah. Bagaimana hukum air kolam renang itu? Jawabnya: Najis!
Sidang pembaca, seterusnya mubaligh itu mengatakan: Sekarang kita lihat lautan, tidak bisa dipungkiri kalau lautan itu sangat luas dan dapat dibayangkan banyaknya air laut itu. Bahkan Indonesia, Republik tercinta ini dikatakan oleh para ahli bahwa wilayahnya sebagian besar terdiri dari lautan sesuai ungkapan, seluas samudra. Saudaraku bagaimana kalau air laut itu kemasukan kotoran cicak? Tidak najis! kalau kecemplung seekor binatang buas? Tidak najis! Seekor kerbau mati membusuk  didalam air laut? Jawabnya: Tidak najis! Ketahuilah saudaraku bahkan (Kata mubalight itu) satu contener binatang babi pun masuk kedalam lautan  dan membusuk maka hukum air laut itu tetap tidak najis, tetapi suci mensucikan. Kenapa? Karena satu contener isi binatang babi yang masuk kedalam laut itu tidak membuat air laut itu berubah warna dan baunya. Subhanallah!
Dengan perkataan lain karena lautan begitu luas apapun yang masuk kedalamnya maka hukum air itu tetap suci mensucikan. Begitu juga dengan hati kita, kalau hati (Qolbu) kita sempit maka sebab (godaan) sekecil apapun yang ditujukan kepada kita maka kita akan tersinggung, cepat marah, bahkan ada dendam dihati kita. Belum lagi sifat-sfat buruk lainnya seperti: Bergunjing (ghibah-namimah), dengki, iri, senang melihat orang lain menderita, suka menfitnah, sirik, hasad, hobi menghina orang, mau menang sendiri dan sifat-sifat buruk lainnya lagi. Semua itu memungkinkan saja terjadi. Kenapa? Karena kita memiliki hati yang sempit dan dada ini pun menjadi sempit.”
Demikian ceramah agama yang penulis dengar disampaikan oleh seorang mubaligh ibukota. Antum (kita) ingin bisa berlapang dada? Hanya ada satu cara yaitu luaskan hati kita. Usahakan membuat hati kita menjadi luas, seluas samudra. Kalau sudah demikian, saya seratus persen yakin bahwa kita akan bisa berlapang dada. Kenapa? Karena hati kita sudah tidak sempit lagi. Karena kita sudah memiliki hati yang luas, seluas samudra.
Karena hati kita sudah menjadi luas, apapun sebab (godaan) yang ditujukan kepada kita. Seberat, sebanyak apapun  sebab (godaan) yang ditujukan (menerpa, menerjang) akan dapat menanggapinya dengan tenang. Tidak cepat marah, tidak emosi, tidak gerabak-gerubuk berusaha membalas menyerang. Malah apabila diperlukan, setiap perbuatan buruk orang lain terhadap kita akan kita balas dengan perbuatan baik, akan kita balas dengan perbuatan yang menyenangkan. Tidak ada dendam, tidak ada iri, tidak ada hasad dan tidak ada lagi sifat buruk lainnya didada ini. Kenapa? Karena kita sudah memiliki hati yang luas. Subhanallah! Ya! Hati kita sudah luas, seluas samudra.
Sampai disini saya sudahi dulu tulisan (religius) ini. Semoga bermanfaat, terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan dengan tulisan saya yang lain. Wa afwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Cakap Membaca Dan Penulis Huruf Al-Qur`an.(Akhlak) Cetakan ke 2 Tahun 1978 Oleh:Saadan Rahmaany Penerbit:Yayasan Dakwah Jakarta Dan dari buku catatan penulis#

# Artikel religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com#

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.