SEBUAH RUMAH DI SYORGA TERBUAT DARI MUTIARA UNTUK UMMUL MUKMININ SAYYIDAH KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang budiman.
Kembali saya berdakwah (lewat tulisan) sesuai judul artikel religius ini tersebut diatas sungguh sebuah kehormatan luar biasa bagi istri pertama Rosulullah SAW, Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid ra yang oleh Nabi SAW sendiri diberi gelar Ummul Mukminin itu, oleh Allah SWT (ketika sayyidah Khadijah ra) masih hidup didunia sudah dijanjikan (diinformasikan lewat Jibril) sebuah rumah di syorga terbuat dari mutiara (untuk Khodijah) yang tiada keributan didalamnya. Masya Allah! Allahu Akbar.
            Saudaraku, ada pepatah mengatakan bahwa dibalik laki-laki sukses pasti terdapat wanita yang hebat. Rosulullah SAW tercatat sebagai pemimpin yang handal dan sukses. Kiranya siapakah wanita dibalik sukses tugas kenabiannya? Jawabnya adalah : Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra adalah wanita dibalik sukses dakwah Rosulullah SAW. Betapa tidak saudaraku, dari catatan sejarah kita tahu tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum Quraisy, maka disampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri dibelakang dakwah Islamiyah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Sayyidina Muhammad SAW. Keduanya adalah Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Peran penting Khadijah menjadikannya berhak menyandang predikat waniata terbaik. Betapa tidak, kalau Nabi saja memberinya gelar Ummul Mukminin ?
            Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Goa Hira. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepada Nabi SAW. Khadijah menolong Nabi dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, dan jiwanya sarat dengan kebaikan. Dialah teladan bagi kaum ibu, muslimah sedunia. Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami, dan membantunya diwaktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi, dan meneguhkan serta membenarkannya. Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau (Nabi SAW) serta kaum muslimin dengan jiwa dan harta.
            Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan didalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.:
·         Ketika Malaikat Jibril as datang kepada Nabi SAW, dia berkata : “Wahai Rosulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan dari aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di Syurga dari mutiara yang tiada keributan didalamnya dan tidak ada kepayahan.” (HR. Bukhari dalam “Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW.” Dan Imam Adz-Dzahabi berkata : Kesahihannya telah disepakati.)
·         Sayyidah Khadijah ra adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang mukmin dan orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW.
Khadijah ra membawa panji bersama Rosulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri dibelakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita. Betapa tidak, karena Khadijah ra adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Kita perhatikan Hadist setentang datangnya kebenaran (permulaan wahyu) sewaktu Nabi SAW berada di Goa Hira seperti berikut :
“Datang kepadanya Malaikat lantas berkata: “Bacalah!” Djawab Nabi : “Aku tidak bisa membaca” Kata Nabi selanjutnya: “Aku ditariknya dan dipeluknya sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan nya dan katanya lagi: “Bacalah!” Jawabku: “Aku tidak bisa membaca.” Aku ditarik dan dipeluknya untuk kedua kalinya, sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya kembali dan katanya lagi: “Bacalah !” Jawabku: “Aku tidak bisa membaca.” Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, Kemudian dilepaskannya dan katanya : “Membacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Membacalah dengan nama Tuhanmu yang lebih mulia.” Maka Nabi pulanglah membawa ayat itu dengan hati yang berdebar-debar.

 

 

“Maka datanglah Nabi kepada Khadijah binti Khuailid, lalu berkata: “Selimuti aku, selimuti aku! Lantas diselimuti oleh Khadijah sehingga hilang takutnya. Kata Nabi kepada Khadijah, setelah dikabarkan kejadian itu, begini : Sesungguhnya saja cemas atas diriku (akan binasa). Jawab Khadijah : Tidak mengapa! Demi Allah, Tuhan selamanya tidak akan menghinakan tuan. Tuan akan memperhubungkan tali persaudaraan, membantu orang melarat, mengusahakan barang yang perlu, memuliakan tamu menolong orang kesusahan yang tersebab menegakkan kebenaran.”

“Maka berjalanlah Khadijah bersama-sama dengan Nabi Muhammad menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Kristen dimasa jahiliah. Ia bisa menulis kitab bahasa Ibrani dan ditulisnya dari kitab Injil dalam bahasa Ibrani itu seberapa kehendak Allah dapat dituliskannya. Dan ia seorang yang sangat tua dan telah buta matanya.
Kata Khadijah kepada Waraqah : “Hai anak pamanku! Dengarlah kabar dari anak saudara tuan ini (Muhammad).“ Kata Waraqah kepada Nabi : “Wahai anak Saudaraku! Apakah yang tuan lihat?” Lalu diceritakan oleh Rasulullah SAW semua hal yang telah dialaminya tadi.
Dijawab Waraqah : “Inilah utusan yang telah pernah ditunkan (diutus) oleh Allah kepada Nabi Musa. Wahai, hendaknya dimasa itu saya masih hidup, dimasa kaum tuan. ini mengusir tuan.” Rasulullah berkata: “Apakah mereka akan mengusir aku?” Dijawab Waraqah: “Betul ! Belum pernah seseorang juapun diberi wahyu sebagai tuan, yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari tuan itu niscaya saya akan menolong dengan sekuat-kuatnya.”
Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia, dan wahyupun putus – buat sementara.”
Kata Ibnu Sihab : “Abu Salamah bin Abdi Rahman, mengabarkan kepadaku : Bahwa sesungguhnya Jabir bin Abdullah telah menceritakan tentang putus wahyu itu.
Kata Nabi dalam Hadistnya : Seketika aku sedang berjalan-jalan, kedengaran olehku suara dari langit, dan aku melihat keatas, kelihatan malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira’ dahulu, duduk diatas kursi antara langit dan bumi. Aku terperanjat dan terus pulang dan mengatakan: “Selimuti aku!” Lalu diturunkan ayat yang maksudnya:
“Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan berilah peringatan (kepada manusia)! Besarkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu! Dan jauhilan berhala!.”
Sesudah itu banyaklah wahyu yang turun dan berturut-turut datangnya.”
(Hadist-hadits tersebut diatas diambil dan dikutip dari buku : Terjemah Hadist Shahih Buchari Penterjemah : H Zainuddin, Fahrudin HS, Nasarudin Thaha dan Djohar Arifin.)
            Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang berbahagia.
Dari Hadist-hadist setentang datangnya permulaan wahyu, adalah sangat arif serta bijakasananya jawaban (kata-kata) Khadijah sebagai seorang istri didalam menjawab pertanyaan suami yang sedang cemas dilanda ketakutan yang teramat sangat sehubungan dengan apa yang baru saja didengar dan dilihat oleh Nabi SAW ketika berada di Goa Hira itu. Karena apa yang dikatakan Khadijah benar-benar mampu melapangkan dada melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan beban (urusan) suaminya. Apa kata istri Rosulullah SAW yang mendapat gelar Ummul Mukminin ini ?
·         Sayyidah Khadijah ra berkata : “Gembiralah dan teguhlah, wahai putra pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” (Hadist ini dikutip dari : Fikri Edisi 8 Tahun I, 19-25 Oktober 2001.)
·         Dan dalam Hadist yang terdapat pada Terjemah Hadist shahih Bukhari Penterjemah : H Zainuddin Hamidy, Fahrudin HS, Nasaruddin Thaha dan Djohar Arifin. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra berkata : “Tidak mengapa! Demi Allah, Tuhan selamanya tidak akan menghinakan tuan. Tuan akan memperhubungkan tali persaudaraan, membantu orang miskin, mengusahakan barang yang perlu, memuliakan tetamu, menolong orang kesusahan yang tersebab menegakkan kebenaran.” (HR. Bukhari)
·         Kecemasan dan keperdulian Khadijah tidak sampai disitu saja terbukti ketika suaminya datang dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihat sewaktu berada di Goa Hira. Sepenuh perhatian Khadijah berkata : “Dari mana engkau wahai Abal Qasim? Demi Allah aku telah mengirim beberapa orang utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Ini adalah gambaran sebuah sikap keperdulian terpuji atas keselamatan seorang suami dari seorang istri ideal. Itulah Sayyidah Khadijah ra.
·         Saudaraku sesama muslim, Subhanallah! Sungguh sebuah Karunia Illahi yang tidak ternilai, Allah SWT pencipta langit dan bumi, Rabbul Alamin pemelihara alam semesta berkenan menyampaikan salam kepada Sayyidah Khadijah ra. Maka turunlah Jibril As menyampaikan salam itu kepada Rosul SAW seraya berkata kepadanya : “Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya.” Kemudian Rosulullah SAW bersabda : “Wahai Khadijah, ini Jibril yang menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah ra menjawab : “Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).” (Hadist ini dikutip dari Fikri Edisi 8 Tahun I, 19-25 Oktober 2001).
 
 
 


 

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorangpun diantara para Sahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta Khulafaur Rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah ra pada saat pertama lebih agung dan lebih besar dari pada semua sikap yang mendukung dakwah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah ra merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rosulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya disaat beliau gelisah, menolongnya diwaktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.

·         Imam Ahmad didalam sebuah Hadist meriwayatkan, dikatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia (Khadijah) memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah SWT mengaruniai aku anak darinya (Khadijah) dan mengaharamkan dariku anak dari selain dia.” (HR. Ahmad dalam “Musnad” nya.)
·         Sementara dalam buku karya Iman Nawawi : TERJEMAH  RIYADHUS  SHALIHIN Jilid I perhatiakan Hadist Muttafaqun Alaih setentang istri pertama Nabi SAW yang sangat dihormati, Sayyidah Khadijah ra :

“Dari Aisyah ra, ia berkata : “Saya tidak pernah merasa cemburu terhadap isti –istri Nabi SAW yang lain kecuali terhadap Khadijah ra, padahal saya tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi karena Nabi sering menyebut-nyebutnya, dan beliau sering menyembelih kambing kemudian memotong beberapa bagian dan dikirimkan kepada kenalan-kenalan baik Khadijah, saya sering berkata kepadanya : “Seolah-olah didunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.” Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak.” (HR Bukhari dan Muslim).

·         Dalam riwayat lain dikatkan : ”Apabila beliau menyembelih kambing, beliau memberi kenalan-kenalan baik Khadijah apa yang mereka inginkan.”
·         Dalam riwayat yang lain dikatakan : “Apabila beliau menyembelih kambing, beliau bersabda : “Kirimlah daging ini kepada kenalan-kenalan Khadijah.”
·         Dalam riwayat yang lain dikatakan : “Halah binti Khuwailid saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk kerumah Rosulullah SAW, kemudian beliau teringat cara Khadijah meminta izin, maka terharulah beliau seraya bersabda : “Ya Allah, inilah Halah binti Khuwailid.” (Muttafaqun Alaih)
·         Didalam sebuah Hadist setentang kelebihan Ummul Mukminin sebagai seorang wanita dan seorang istri Rosul, bersabda Rosulullah SAW :
“Dialah wanita yang dianugerahi sebuah rumah di syorga (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut didalamnya dan tiada kepayahan.” (HR. Bukhari.)
Saudaraku, saya sudahi dakwah saya ini (lewat tulisan), jumpa lagi kita Insya Allah dikesempatan lain. Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila ada kekhilafan dan kesalahan. Kebenaran datangnya dari Allah SWT, kesalahan dan kehilafan dari saya dan untuk itu saya memohon ampunan-Nya. Sekali lagi terima kasih, waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
• • •

(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari majalah FIKRI edisi 8 Tahun I, 19-25 Oktober 2001, buku Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1 karya : Imam Nawawi, judul Kitab aslinya berbahasa Arab, Riyadhus Shalihin, karya Al Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, terbitan Darul Fikr, Beirut, tt, dan buku : Terjemah Hadist Shahih Buchari. Penterjemah : H. Zainuddin Hamidi, Fachruddin HS, Djohar Arifin dan Nasaruddin Thaha.)

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.