Assalamualaikum, sidang pembaca. Apa khabar? Alhamdulillah jumpa lagi kita (lewat tulisan) semoga pertemuan kali ini, sesuai judul tulisan tersebut diatas mendapat tempat dihati pembaca. Semakin banyak orang yang cinta kepada bacaan bernafaskan Islam, insya Allah semakin kian dapat tersebarluaskan nilai-nilai Islam.
Puja dan puji terhaturkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat karunia dan rezeki yang diberikanNya kepada kita, sehingga sampai saat ini kita mampu membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya dan kepada kita selaku umat beliau sampai akhir zaman.
Saudaraku, sidang pembaca. Dalam kehidupan ini kita menyadari adanya dua realitas. Pertama, persenyawaan eksternal yang membentuk tubuh kita. Kedua, persenyawaan yang terdiri dari pemikiran dan persepsi, cinta dan kasih sayang, benci dan suara hati. Kedua senyawa ini akan saling bekerjasama dalam menggerakkan organ tubuh. Dalam satu jiwa manusia terdapat dua unsur yang juga berperan aktif dalam pergolakan tubuh untuk beraktifitas, jiwa dan roh adalah persatuan komponen dinamika dalam diri manusia. Tanpa roh, tidak ada kehidupan dalam jiwa tersebut.
Makna roh dalam bahasa arab adalah sumber kehidupan yang dengannya manusia dan binatang dapat mengindra dan bergerak sesuai kehendak sebagai gerak motorik. Namun apabila jasad telah dinonaktifkan kemanakah perginya roh yang ada dalam diri manusia? Roh terbagi menjadi sebagai berikut: Roh yang bebas, yang terkurung, yang tinggi dan yang rendah. Setelah berpisah dengan badan, ia (Roh) dapat merasakan sehat,sakit, kenikmatan dan kelezatan serta rasa sedih, lebih dari yang dapat kita rasakan ketika masih bertaut dengan badan.
Ada rasa terkurung, tersiksa, sakit, menyesal, ada juga perasaan enak, senang nikmat dan bebas serta perasaan-perasaan lain. Betapa miripnya kondisi roh dalam badannya itu dengan kondisi janin dalam perut ibunya dan kondisi roh itu setelah berpisah dari tubuh dengan kondisi dengan anak setelah keluar dari perut ibunya kealam dunia ini.
Roh memiliki 4 (empat) fase, masing-masing fase lebih besar dari fase berikutnya. Fase pertama:, adalah masa dalam perut ibu. Itulah kondisi dimana roh terkurung, merasa sempit, kelam dalam kegelapan. Fase kedua: Dialam dunia dimana ia (roh) telah menjadi bayi mungil dibesarkan mengenal dunia dan melakukan perbuatan baik dan jelek, serta berbagai penyebab kebahagiaan dan nasib celaka.
Fase ketiga: Dialam barzakh yakni dialam yang lebih luas dan lebih besar dari alam dunia ini. Bahkan perbandingan alam barzakh dengan alam dunia , seperti alam dunia degan alam perut ibu. Fase keempat: Dialam yang kekal yakni Jannah atau Naar. (Syurga atau Neraka). Tidak ada alam lain sesudahnya. Allah SWT memindahkan roh kealam ini secara bertahap, hingga mencapai tempat tinggal yang hanya layak baginya dan tidak pantas. Untuk selainnya, yakni alam yang untuk kealam itulah ia diciptakan, alam yang telah dipersiapkan baginya dengan beramal didunia sehingga mendapatkannya.
Pada setiap alam, roh memiliki persoalan dan hukum yang berbeda dari dialam lain. Maha suci Allah yang telah menciptakan, menumbuhkan, membesarkan, menghidupkan, membahagiakan dan mencelakakan, yang membuat perbedaan tingkat diantara para roh dalam kebahagiaan dan kecelakaan, sebagaimana Allah menciptakan tingkatan yang berbeda-beda dalam ilmu, amal, kekuatan dan akhlak. Barangsiapa yang mengenalnya dengan selayaknya, pasti ia bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya.
Memiliki kekuasaan, yang memiliki segala pujian, yang ditanganNya segala kebaikan, kepadaNyalah dikembalikan segala urusan, milikNyalah segala kekuatan dan kemampuan, segala keperkasaan, segala hikmah, segala kesempurnaan yang absolut pada segala sisi, dan kebenaran para Nabi alaihissalam serta para Rasul, bahwa yang mereka bawa adalah kebenaran yang diakui oleh logika dan diakui pula oleh fitrah, selain itu adalah batil.
Diantaranya adalah roh-roh yang berada di Illiyin, di Al-Mala Al-A`la, yakni rohnya para Nabi alaihissalam. Tingkatan mereka juga berbeda-beda, sebagaimana yang disaksikan oleh Nabi SAW pada malam Al-Isra. Adalagi roh-roh yang berada dalam tembolok burung hijau yang beterbangan diJannah sehendak hati mereka, yakni roh sebagian orang -orang yang mati syahid, (tidak seluruhnya). Karena diantara yang mati syahid ada yang rohnya terbelenggu dan tertahan untuk masuk Jannah, karena soal hutang atau lainnya, sebagaimana tercantum dalam riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi SAW dan berkata:” Wahai Rasulullah apa yang akan kudapatkan bila aku terbunuh dijalan Allah?”
Nabi SAW menjawab: Jannah.” Ketika orang yang bertanya itu pergi, beliau (Nabi SAW) meneruskan:” Kecuali bila ada yang berhutang. Baru saja Jibril membisikkannya kepadaku.” Demikian sabda Rasul (Al-Hadist)
# Ada juga roh yang tertahan dipintu Jannah, sebagaimana Hadist lain: (Artinya): Sabda Rasul:” Aku melihat sahabatmu tertahan dipintu Jannah.” (Al-Hadist)
# Ada juga roh yang terkurung dikuburnya, seperti dalam Hadist tentang pemilik selendang yang dia curi dari harta rampasan kaum muslimin, lalu dia mati syahid. Orang-orang berkata: Sungguh senangnya ia masuk Jannah.” Namun Nabi SAW justru bersabda:” Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya selendang yang dicurinya dari rampasan perang itu akan menyala sebagai api dalam kuburnya.” (Al-Hadist)
# Ada lagi roh yang tempat tinggalnya dipintu Jannah, sebagaimana dalam Hadist Ibnu Abbas ra:” Orang-orang yang syahid berada dalam sungai berkilau dipintu Jannah dalam sebuah kemah hijau. Mereka diberi makan dari Jannah setiap pagi dan petang.( Al-Hadist)
# Namun berbeda lagi dengan Ja`far bin Abu Thalib yag kedua tanganNya terputus, Allah ganti dengan dua sayap yang dapat digunakan untuk terbang di Jannah sekehendak hati. (Hadist ini diriwayatkan oleh Ahmad Al Musnad).
# Ada juga roh yang terkurung dalam tanah, sehingga tidak bisa naik ke Al-Mala Al-A`la karena roh itu memang roh rendahan, roh tanah. Jiwa tanah tidak akan dapat bersentuhan dengan jiwa langit, sebagaimana didunia, kedua roh itupun tidak dapat bertemu.
Jiwa yang didunia tidak pernah mendapatkan ma`rifat terhadap Rabbnya, tidak pernah senang berdzikir kepadaNya, tidak pernah merasakan tentram dan selalu mendekatkan diri kepadaNya, namun justru akrab dengan bumi yang rendah (hidup keduniaan) setelah terlepas dari jasadnya ia akan kembali kebumi juga. Sebagaimana jiwa yang tinggi, yang selama didunia selalu beribadah kepada Allah, selalu cinta kepadaNya, selalu berdzikir kepadaNya, mendekatkan diri kepadaNya, tentram dan khusu` menghadapNya, maka pada saat berpisah dengan badan, ia akan bersatu dengan roh-roh yang tinggi yang sesuai dengannya.
Saudaraku, sidang pembaca tahukah antum dialam barzakh dan dihari akhir nanti, orang akan dikumpulkan bersama idolanya. Roh mukmin dikumpulkan dengan roh yang baik, yakni roh-roh yang baik sejenis. Setelah berpisah dengan badan, roh-roh akan berkumpul bersama-sama teman sejenisnya, rekan-rekan dan Sahabat-Sahabatnya yang sama amalannya dengan mereka diakherat sana.
Sebelum saya akhiri tulisan (religius) ini, ingin saya memberitahukan kepada sidang pembaca bahwa keinginan antum, bahwa setelah mengetahui bagaimana roh yang merasakan nikmat itu. Tentu antum juga ingin mengetahui (paling tidak ada gambaran) bagaimana roh yang justru merasakan siksa bukan? Ya! Tulisan al -fakir yang akan datang sudah saya susun dengan materi setentang roh yang merasakan siksa. Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain. Wa afwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: KENIKMATAN ALAM KUBUR Oleh: Abdrurrahman Busyairi. Penerbit: Lintas Media.#
…
# Artikel (religius) ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com.
…