Assalamualaikum.wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim wabarik Sayyidina Muhammad. Pertama-tama kita ucapkan puja dan puji syukur keharibaan Allah SWT yang telah begitu banyak memberi kenikmatan kepada kita. Nikmat berupa iman Islam, panjang umur didalam taat, sehat walafiat, nikmat rezeki berupa harta sehingga yang memungkinkan kita hidup dengan lebih berarti sampai saat ini dan nikmat-nikmat lainnya lagi yang tidak terhitung banyaknya dan memang kita tidak akan mungkin dapat menghitungnya saking banyaknya. Subhanallah!
Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling agung, yaitu Baginda Sayyidina Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya. Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat.
# Sedekah (sodakoh) ialah sesuatu yang dikeluarkan seseorang dari sebagian hartanya untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Tersebut juga bahwa sedekah pada dasarnya bersifat sukarela dan kadang ada juga yang wajib seperti zakat# (Kitab Almufradat Oleh:Al-Ashfanany, hal 278)
Sesungguhnyalah pengertian sodakoh (sedekah) itu begitu luas dan ruang lingkupnya yang begitu besar.
# Perhatikan Hadist Nabi SAW dari Abu Musa Al-Asy`ari ia menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
*(Artinya):” Setiap muslim harus bersedekah.” Mereka bertanya:” Kalau ia tidak punya?” Beliau bersabda:” Hendaklah ia bekerja dengan kedua tanganya, lalu ia biayai dirinya dan bersedekah.” Mereka bertanya:” Kalau ia tidak sanggup atau tidak dilakukannya?” Rasulullah SAW menjawab:” Hendaklah ia menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.” Mereka bertanya lagi:” Kalau ia tidak melakukannya?” Beliau (Nabi SAW) menjawab:” Hendaklah ia menyuruh (berbuat) baik atau berkata dengan pantas.” Seseorang bertanya:” Kalau ia tidak melakukannya?” (Terakhir) Nabi SAW menjawab:” Hendaklah ia menahan (diri) dari kejahatan, sesungguhnya hal itu sedekah.” (Lihat Shahih Bukhari:Kitab I.adah (78), Bab:(33)- kullu ma`ruf shodaqoh).
Pertanyaan yang timbul sesudah sabda Rasulullah SAW:” Setiap muslim harus bersedekah” menolehkan pandangan kita bahwa pertanyaan tersebut berhubungan dengan amal perbuatan. Para Sahabat mendengarkan berbagai pengarahan Rasulullah SAW dan mempraktekkannya dengan segera. Akan tetapi menurut pengertian mereka yang dangkal, sedekah adalah seseorang yang mempunyai harta lalu ia keluarkan sebagian dari hartanya tersebut.
Hal ini tidak gampang bagi semua mereka. Apa yang akan mereka lakukan bila mereka tidak sanggup atau tidak mempunyai (harta)? Pertanyaan tersebut merupakan bukti terhadap keinginan mereka untuk mempraktekkan dan tidak meremehkan pengarahan yang datangnya dari Nabi SAW.
Sidang pembaca, seperti dikatakan diatas bahwa sodakoh (sedekah) ialah sesuatu yang dikeluarkan seseorang dari sebagian hartanya untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Tersebut juga bahwa sedekah pada dasarnya bersifat sukarela dan kadang-kadang ada juga yang wajib seperti zakat.
# Sesuai Firman Allah SWT:
(Artinya):” Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…..” (QS:At-Taubah:103)
# Dan FirmanNya:
(Artinya):” Sesungguhnya zakat -zakat hanyalah untuk orang-orang yang fakir.” (QS:At-Taubah:60)
Disamping itu sabda Rasulullah SAW ini membukakan secara luas pengertian sodakoh (sedekah). Sedekah bukan terbatas pada hal-hal yang dapat di indra, sehingga yang sanggup melaksanakannya hanya mereka yang berpunya. Akan tetapi setiap orang Islam dapat melakukan sedekah pada berbagai kesempatan tanpa ada kesulitan. Sedekah juga mencakup semua budi pekerti yang luhur.
Pertanyaan pertanyaan dalam Hadist ini telah membukakan berbagai ruang lingkup sedekah dengan pemahamannya yang luas. Dalam jawaban Nabi SAW dapat kita simpulkan hubungan antara pengertian sedekah melalui materi dengan pengertian lain yang bisa dilakukan oleh semua orang berpenghasilan berbeda-beda. Untuk menanggapi pertanyaan pertama Nabi SAW memberikan pengarahan agar bekerja . Ini dibutuhkan oleh setiap pribadi dan masyarakat.
Beliau Nabi SAW bersabda:” Hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya.” Pekerjaan ini akan menghasilkan sesuatu yang berharga berupa harta yang dapat menutupi kebutuhan dan menghindarkannya dari kehinaan meminta-minta, setelah itu barangkali ia sanggup memberi kepada orang lain, berarti ia sudah dapat bersedekah dari hasil usaha tangan sendiri.
Pengarahan ini untuk meningkatkan produktifitas agar dapat menutupi kebutuhan anggota masyarakat yang mampu dan tidak mampu. Mereka yang mampu bekerja untuk menutupi kebutuhannya, kalau ada kelebihan dari hasil usaha tersebut diberikan kepada yang membutuhkan. Kemudian timbul pertanyaan kedua, juga mengungkapkan keinginan untuk bekerja tetapi tidak sama tingkatnya dengan yang diatas. Apa yang harus dia lakukan?
Secara bertahap Rasulullah SAW memberikan jawaban bahwa beliau juga menganjurkan orang itu untuk bekerja tetapi bukan mandiri seperti gambaran sebelumnya. Ia disuruh bekerja membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Membantu orang yang sangat membutuhkan pertolongan merupakan suatu hal yang terpuji dan mempunyai dampak positif dalam masyarakat.
Pertanyaan ketiga mengungkapkan bila seseorang tidak sanggup bekerja dengan kedua tangannya, apa yang harus ia lakukan? Rasulullah SAW menanggapinya dengan menerangkan sisi lain dari pekerjaan, yaitu ucapan yang baik dan berbuat kebajikan. Artinya, siapa yang tidak sanggup berbuat baik, hendaklah mengarahkan dan mendorong orang lain kearah itu. Dengan ini kebaikan akan tersebar dikalangan masyarakat. Orang yang mengarahkan kepada kebaikan, berarti juga melakukannya.
Hasil dari usaha tangan dapat dilihat dengan nyata tidak memerlukan keterangan panjang lebar disamping itu dampak dari kata-kata juga tidak asing lagi bagi kita. Sementara pertanyaan terakhir dalam Hadist yang sedang kita bahas ini mengingatkan kepada sisi lain sodakoh. Seseorang yang tidak sanggup bekerja dengan kedua tangannya dan tidak mampu pula menyuruh orang untuk berbuat ma`ruf dan melarangnya dari yang munkar, apa yang harus ia lakukan? Secara global Nabi SAW menanggapinya dengan sabda beliau:” Hendaklah ia menahan diri dari kejahatan, sesungguhnya hal itu sodakoh.” Dapat dibayangkan dalam kondisi ini bila seseorang tidak berbuat baik dan tidak pula menyuruh orang lain untuk itu, maka ia akan melakukan hal-hal yang keji, karena selain dari kebenaran adalah kesesatan dan selain dari kebajikan adalah kejelekkan.
Oleh sebab itu menahan diri agar jangan berbuat jahat dengan sendirinya pikiran akan mengarah kepada berbuat baik. Menahan diri dan meninggalkan perbuatan jahat termasuk amal. Hal itu bertentangan dengan sebagian pendapat teolog yang menyatakan bahwa syirik bukan amal. Sedangkan syirik itu berhubungan dengan amal hati dan keinginan orang yang bersangkutan. Seperti itu juga syirik erat hubungannya dengan gerak gerik anggota tubuh. Dalam amal seperti diatas ada sedekah untuk pelakunya.(Dikutip dari buku: Sahabat Bertanya Rasul Menjawab Oleh:Dr M.Ra`fat Said Halaman 65)
Sidang pembaca dari berbagai pertanyaan ini jelaslah bagi kita pengertian sodakoh yang begitu luas dan ruang lingkupnya yang begitu besar. Seperti yang terdapat dalam berbagai sabda Nabi SAW berikut ini:
(Artinya):” Setiap yang baik adalah sodakoh. Apa yang diberikan seseorang kepada keluarganya, dituliskan untuknya sebagai sedekah. Mnejumpai seseorang dengan wajah berseri adalah sedekah. Berbuat adil antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang menaikkan barang keatas kendaraan adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sodaqoh. Setiap langkah yang dilangkahkan untuk pergi shalat adalah sodaqoh. Menyingkirkan duri ditengah jalan adalah sedekah.” (Lihat kitab: Al-Lu`lu`wa`I-marjan jilid 1 hal:207)
Sampai disini saya akhiri tulisan (artikel) religius ini, terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Wa afwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku:Sahabat Bertanya Rasul Menjawab. Oleh: Dr M.Ra`fat Said.#
…