TADARU’ ( Bagian Kedua )

Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Segala puja dan puji milik Allah SWT, tiada sekutu bagi-Nya dan hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan hanya kepada Allah SWT kita memohon pertolongan serta hanya kepada – Nya kita memohon ampunan.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling Agung, yaitu Baginda Sayyidina Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para sahabatnya.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Pada Bagian Kedua ini, artikel religius berjudul sesuai tersebut diatas akan saya lanjutkan penulisannya sebagai berikut :
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW mengadakan perjalanan jauh bersama para sahabatnya. Ditengah perjalanan, mereka beristirahat. Para sahabat membagi tugas untuk memasak dan mempersiapkan makanan. Dengan sigap Nabi bangkit mengumpulkan kayu bakar. Para sahabat mencegah, agar Nabi jangan turut bekerja. Tetapi Nabi tetap melakukan pekerjaan itu, karena Allah SWT membenci orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada teman – temannya.
Beliau selalu memenuhi undangan dari siapapun tanpa membeda-bedakan apakah itu undangan dari orang kaya atau miskin, atau orang terhormat atau rakyat jelata.
Pernah pula terjadi, ketika Nabi dalam suatu perjalanan, ada seorang laki-laki menghampiri beliau. Dengan lemah lembut Nabi menyapa dan menanyakan nama orang itu. Orang itu pun menyebutkan namanya. Tiba-tiba datang pula seorang perempuan tua menghadang perjalanan Nabi. Perempuan tua itu mengadukan halnya kepada beliau dengan panjang lebar. Nabi menghentikan jalannya dan mendengarkan dengan penuh perhatian pengaduan perempuan tua itu. Laki-laki tadi tercengang melihat kerendahan hati Nabi Muhammad sambil berkata dalam hatinya : ” Demi Allah , bukankah ia seorang raja ? Biasanya raja ingin dihormati, tetapi Nabi Muhammad malah menghormati orang – orang dari kalangan rakyat biasa. ”
Setelah itu laki-laki tadi menyatakan dirinya masuk Islam.
Begitu indahnya sikap rendah hati jika kita terapkan dalam pergaulan. Kita tidak pantas bersikap tinggi hati, baik kepada sesama manusia, apalagi kepada Allah. Sebab, jika kita merasa paling tinggi dan paling baik tentu masih ada orang lain yang lebih tinggi dan lebih baik daripada kita. Setinggi – tingginya martabat, tidak mungkin dapat disamakan dengan Allah SWT.
Sifat khusu’ dan tadaru’ hendaknya kita biasakan dalam kehidupan kita sehari – hari. Biasakanlah melaksanakan shalat dengan khusyu’. Tingkatkan amal ibadah kita kepada Allah. Banyak – banyaklah membaca Al Qur’an, berdzikir kepada Allah, belajar dengan tekun , dan berdoa dengan khusyu’
Hormatilah orang tua dan guru dengan kerendahan hati. Begitu pula dalam pergaulan dengan teman-teman, baik disekolah ( kuliah ) , dikantor , maupun diluar sekolah , kuliah ( kampus ). Hendaklah selalu kita tunjukkan sifat rendah hati!. Berkata dan bertindaklah dengan sopan santun! Jika kita sopan santun kepada orang lain, maka orang lain pun akan sopan santun terhadap kita.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas Bagian Kedua. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan judul baru tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku :AQIDAH AKHLAK. Oleh : Drs Masan Alfat dan Drs Abdul Rosyid *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan :Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website : Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.