Saudaraku, sesama muslim. Kembali al-fakir hadir kehadapan sidang pembaca. Sesuai judul artikel religius tersebut diatas, semoga dapat menjadi tambahan ilmu, menyejukkan dan sebagai sarana syiar dakwah nilai-nilai Islam dapat tersebar luaskan. Saudaraku, sejarah kehidupan Rasulullah SAW merupakan hal yang penting diketahui oleh setiap muslim. Darinya seseorang akan mendapatkan gambaran utuh tentang kehidupan seorang muslim yang ideal dalam semua sisi dan fase kehidupannya. Hal tersebut tidaklah berkelebihan, sebab didalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21, Allah SWT memang telah menyiapkan kepribadian Rasulullah SAW sebagai panutan utama kaum muslimin.
- Firman-Nya :

“Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)
Jadi sebagai umat beliau dan sebagai insan beriman seyogyanya kita mengetahui (memahami) sejarah kehidupan beliau SAW dalam berbagai sisi dan fase kehidupan beliau sebagai panutan umat. Yang harus kita pahami secara benar adalah bahwa kehidupan Rasulullah SAW bukanlah cerita fiksi atau khayalan tetapi adalah kisah nyata dengan segudang pelajaran didalamnya. Dan karenanya adalah sangat pantas bagi kita umat yang beriman kepadanya untuk menapaki jejak dan langkah beliau SAW.
Sidang pembaca, ketika usia Rasulullah SAW mendekati umur 40 tahun, beliau mulai suka menyendiri dan menghindar dari hingar bingar kehidupan kaumnya yang penuh kesyirikan dan perbuatan nista. Dengan berbekal sekantong makanan dan air secukupnya, beliau sering pergi menuju goa Hira yang berjarak sekitar dua mil dari kota mekkah. Dalam kesendirian tersebut beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah dan merenungi kebesaran alam disekelilingnya serta menyadari akan adanya kekuasaan yang Agung dibalik semua penciptaan ini. Demikianlah, hal tersebut Allah SWT kehendaki baginya sebagai awal dan persiapan untuk menerima sebuah misi besar yang akan merubah sejarah kemanusiaan. Karena itu, jiwanya harus dibersihkan dari hiruk pikuk duniawi dengan segala kotoran yang ada didalamnya. Keadaan tersebut berlangsung selama tiga tahun sebelum diturunkannya tugas kerasulan.
Setelah sekian lama beliau melakukan Khulwah (menyendiri), membersihkan jiwanya dengan memperhatikan besarnya kekuasaan dibalik kebesaran alam ini, maka Allah berikan beliau kemuliaan dengan mengangkatnya sebagai seorang Rasul sekaligus penutup dari para Nabi dan Rasul. Peristiwa ini terjadi pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan tepat saat beliau berusia 40 Tahun dalam hitungan Hijriah. Dan sejak saat itulah, tahun kenabian dihitung. Kejadiannya ditandai dengan hadirnya Jibril a.s. yang datang kepadanya dan memeluknya sebanyak 3 kali. Setiap kali memeluknya, dia berkata : “Bacalah.” Setiap kali itu pula Rasulullah SAW menjawab : “Saya tidak bisa membaca.” Rasulullah SAW sangat keletihan sekali. Perasaan takut dan panik menghantui dirinya.
- Setelah itu Jibril a.s. membacakan :
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama-Mu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5)
Selesai membacakan surat Al-Alaq ayat 1 s.d. ayat 5 tersebut kemudian Jibril pergi meninggalkannya. Rasulullah SAW kembali kerumahnya dengan badan gemetar, beliau khawatir bahwa apa yang baru saja dialami akan mencelakakannya. Kemudian beliau masuk menemui Khadijah seraya berkata : “Selimuti aku…. Selimuti aku..” Khadijah segera menyelimutinya. Hilanglah ketakutan dari diri Rasulullah SAW, kemudian beliau menceritakan kepada istrinya yang setia apa yang terjadi di gua Hira.
“Saya khawatir akan terjadi sesuatu pada diri saya.” ujar Rasulullah SAW. Khadijah segera menenangkan dan menghibur suaminya seraya berujar : “Tidak sama sekali, Dia (Tuhan) tidak akan menghinamu selamanya. Engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahim, membawakan dan membantu orang yang lemah, menghormati tamu dan suka menolong dalam kebaikan.” Kemudian Khadijah bersama Rasulullah SAW pergi kerumah pamannya yaitu : Waraqah bin Naufal. Dia adalah orang yang banyak mengetahui isi kitab Taurat dan Injil. Orangnya sudah renta lagi buta. Rasulullah menceritakan apa yang terjadi. Mendengar hal tersebut Waraqah tampak gembira, seraya berkata : “Itu adalah malaikat Jibril a.s. yang Allah turunkan kepada Nabi Musa, engkaulah Nabi umat ini. ah sayang sekali, seandainya saja aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu?”
‘Apakah mereka akan mengusir aku?”
”Ya, tidak ada seorangpun membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali dia akan dimusuhi. Seandainya aku mengalami saat hal itu terjadi, aku akan membelamu sungguh-sungguh.” kata Waraqah.
Namun ternyata Waraqah meninggal dunia ketika wahyu sempat terputus beberapa lama (setelah wahyu pertama) setelah turun wahyu pertama, beberapa hari lamanya tidak turun lagi wahyu berikutnya. Hal tersebut membuat Rasulullah SAW gelisah dan bersedih. Beliau terus menanti wahyu berikutnya diturunkan. Sebenarnya hal ini merupakan sarana baginya untuk menenangkan diri agar beliau sadar dengan apa yang dialami pada kali pertama menerima wahyu dan untuk meyakini bahwa beliau kini telah menjadi seorang utusan Allah SWT. Hingga kemudian suatu hari, ketika beliau sedang berjalan tiba-tiba terdengar suara dari langit. Ketika beliau mencari sumber suara tersebut, beliau menyaksikan malaikan yang mendatanginya di gua Hira. Sedang duduk di kursi antara langit dan bumi. Beliau kembali merasakan ketakutan yang luar biasa hingga terjatuh di tanah. Kemudian beliau segera pulang menemui istrinya Khadijah seraya berucap : ”Selimuti aku… selimtui aku.” kemudian Khadijah menyelimutinya.
- Pada saat itulah wahyu kedua Allah turunkan, yaitu :
Artinya : ”Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud ) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir : 1-7)
Saudaraku, sidang pembaca. Dengan diturunkannya ayat ini maka tugas Rasulullah SAW semakin jelas, yaitu untuk menyeru umatnya agar mengagungkan Allah Ta’ala dengan beribadah serta tunduk pada segala perintah dan ajaran-Nya. Sejak saat itu, turunlah wahyu-wahyu berikutnya menandai dimualinya sebuah perjuangan (jihad) tanpa henti untuk mendakwahkan serta menegakkan agama Allah dimuka bumi ini.
Demikian, sampai disini tulisan ini, terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
? ? ?
(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW. Disarikan dari Kitab : Ar-Rahiqul-Makhtum oleh : Syekh Shafiyyur-Rahman Mubarakfury adalah Pemenang Pertama Lomba Penulisan Sejarah Nabi yang diadakan oleh : Rabithah Alam Islamy.)
? ? ?