ADA BEBERAPA PENYAKIT HATI, APA SAJA ITU ?

  Assalamu’alaikum Saudaraku sesama muslimin-muslimat. Selamat berjumpa lagi dengan saya (lewat tulisan), apa khabar? Semoga artikel religius seperti judul tersebut diatas mendapat tempat dihati sidang pembaca, menyejukkan, bermanfaat menjadi sebagai tambahan ilmu. Dan yang utama sebagai sarana syiar dakwah nilai – nilai Islam kian dapat tersebar luaskan.
            Sidang pembaca, Islam menjelaskan bahwa tubuh kita ini terdiri atas dua unsur jasmani dan unsur rohani. Unsur jasmani (jasad) dapat terlihat dan diketahui melalui mata, sedangkan unsur rohani hanya dapat diketahui melalui perasaan. Didalam satu Hadist dikatakan bahwa didalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, apabila daging ini baik maka baiklah seluruh tubuh daging tersebut dan daging itu adalah hati. Dari hadist tersebut menjelaskan kepada kita bahwa hati adalah sebagai unsur rohani yang perlu kita jaga agar tidak merusak seluruh tubuh kita. Saudaraku, ada beberapa penyakit hati yang harus kita hindari antara lain, yaitu :
I.                    Sifat iri
            Iri artinya tidak senang apabila orang lain memperoleh nikmat. Biasanya sifat iri ini selalu di barengi dengan sifat dengki, sifat iri dalam kehidupan sehari-hari ini sangat banyak sasarannya antar lain iri terhadap orang lain yang sukses dalam usaha dsb. Sifat iri ini dalam kehidupan sehari-hari ini sangat dicela dalam ajaran Islam, karena sifat iri sangat mengganggu ketentraman jiwa dan bahkan dapat menimbulkan pertengkaran satu dengan yang lain. Oleh karena banyaknya akibat tidak baik yang ditimbulkan sifat iri ini maka sebagai insan beriman kita harus menghindari sifat iri, yaitu dalam kehidupan sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
II.                  Dengki
            Dengki adalah salah satu sifat yang tidak terpuji dan harus dihindari oleh kita (orang beriman) dalam kehidupan sehari-hari. Arti dengki adalah berusaha menghilangkan nikmat yang telah diperoleh seseorang.
  •  Rasulullah SAW bersabda :

”Telah masuk kedalam tubuhmu penyakit – penyakit ummat dahulu, (yaitu) benci, dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut.” (HR. Ahmad dan Tirmudzi)

Dari hadist diatas dapat diambil pemahaman bahwa hancurnya suatu agama sejak dahulu adalah disebabkan oleh timbulnya sifat benci dan dengki diantara para pemeluknya. Apabila sifat dengki berkembang (dimanapun) maka akan menimbulkan kekacauan, kebohongan dan fitnah. Maka harus dihindari sifat dengki dan sombong, baik sombong karena orang tuanya kaya, mempunyai jabatan yang tinggi dan karena merasa pintar sendiri dan atau karena yang lain lagi dan yang lain lagi…
III.                Hasud
            Dalam bahasa Arab, hasud (hasad) itu berarti dengki, tapi dalam kegiatannya hasud itu adalah tindak lanjut dari sifat dengki. Sebagaimana dalam pelajaran yang lalu bahwa dengki itu adalah berusaha menghilangkan nikmat yang diperoleh seseorang, menghilangkan nikmat tersebut bermacam-macam cara antara lain menghasud.
  • Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda :

“Jauhilah dirimu dari sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan, seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)

Dan dari hadist tersebut diatas dapat diambil satu pelajaran, bahwa betapa kejinya sifat hasud dan dengki apabila dibiarkan berkembang pada setiap individu – individu diri kita, akan dapat dipastikan dimanapun berada maka akan menimbulkan kekacauan kebohongan dan fitnah. Naudzubillah!.
IV.                Fitnah
            Sifat yang lain yang dimurkai oleh Allah SWT adalah sifat suka menfitnah. Menfitnah adalah sifat tercela yaitu haram hukumnya. Fitnah artinya menyiarkan rahasia (aib) seseorang kepada orang lain padahal orang itu tidak pernah melakukannya. Fitnah ini adalah merupakan tindak lanjut dari sifat dengki.
  • Kita perhatikan Firman Allah SWT :

”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu) maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah : 193)

            Saudaraku, dari ayat tersebut diatas dapat diambil pelajaran bahwa fitnah itu adalah sangat keji, sehingga pada ayat lain dikatakan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.
  •  Sekarang perhatikan Hadist setentang fitnah, Rasulullah SAW bersabda :

”Tidak akan masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (HR. Bukhari)

            Dari ayat dan Hadist tersebut diatas kiranya memberi pelajaran kepada kita bahwa menfitnah dan mengungkapkan aib orang lain adalah tercela dalam ajaran Islam.”
V.                  Buruk Sangka
            Agama Islam adalah agama yang mensucikan manusia dari penyakit lahir dan bathin. Sementara buruk sangka adalah salah satu penyakit bathin (hati) hukumnya adalah haram dan dapat merusak pergaulan dalam bermasyarakat. Didalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman yang artinya :
”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari perasangka. Sesungguhnya sebahagian perasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penrima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)
Surat Al-Hujurat ayat 12 tersebut diatas memberi pelajaran kepada kita bahwa Allah SWT melarang orang-orang yang beriman agar menjauhkan diri dari prasangka buruk terhadap orang mukmin, maka harus ditanggapi dengan baik dan jangan salah paham, apalagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan prasangka buruk.
  •  Rasulullah SAW bersabda :

”Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu paling dustanya perkataan.” (HR. Muslim)

            Dari Hadist ini memberi pelajaran kepada kita semua bahwa banyak terjadi persengketaan dalam bermasyarakat karena sikap buruk sangka, kadang-kadang masalah kecil bisa menjadi besar, sehingga timbul rasa dengki dan dendam yang berkepanjangan. Oleh sebab itu setiap orang yang ingin mendapat ridho Allah SWT hendaklah selalu berperasangka baik.
VI.                Dan Khianat
            Sifat khianat adalah salah satu sifat tercela dalam ajaran Islam, sifat itu sangat dibenci dan bahkan diharamkan.
            Khianat artinya menyianyiakan kepercayaan orang. Contohnya antara lain orang yang menyerahkan sesuatu yang perlu dijaga.
  • Perhatikan Firman-Nya :

”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal : 27-28)

            Pengertian ayat tersebut memberi pelajaran bahwa Allah menyeru kaum muslimin agar tidak menghianati Allah dan Rasulnya dengan cara mengabaikan kewajiban dan melakukan larangan-Nya. Sesungguhnyalah didalam Al-Qur’an dan Hadist secara garis besar telah ada aturan yang harus ditaati oleh masyarakat. Begitu juga disebuah Departemen (perkantoran) misalanya, pastinya sudah ada aturan yang mengatur (untuk kepentingan) kantor itu khususnya atau karyawan kantor (Departemen) tersebut pada umumnya dan apabila peraturan itu dilanggar tentu ada sangsinya, sementara pelanggaran itu sendiri sama dengan sebuah penghianatan akan sebuah komitmen.
            Khianat adalah sebuah sifat orang yang munafik, seyogyanya kita menjauhi sifat khianat agar kita tidak terjangkit penyakit nifak yang akan mengikis habis iman.
  • Sesuai Hadist Nabi SAW :

”Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempertaruhkannya kepada engkau dan janganlah engkau menghianati orang yang menghianati.” (HR. Ashabus Sunan)

            Sidang pembaca, hadist ini menggambarkan kepada kita betapa pentingnya menunaikan amanat, baik amanah dari Allah dan Rasul-Nya maupun amanah diantara sesamanya. Oleh karena itu seorang beriman harus menjauhi sifat khianat agar ketentraman (di lingkungan) dimana kita tinggal dapat terlaksana dengan baik. Yaitu ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan warga setempat tidak menjadi terganggu karenanya.
            Akhir dari tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, Insya Allah dikesempatan lain dan dengan judul artikel (religius) yang lain. Wa afwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
? ? ?
(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Wajib Pendidikan Agama Islam : disusun oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Negeri. Penerbit : PT. Ahsana Indah Kitaba, Jakarta.)

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.