(Bagian Pertama)
Assalamualaikum wr.wb. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Pertama-tama kita ucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT karena sesungguhnyalah artikel (religius) ini dapat berada ditangan antum (sidang pembaca) pada hakikatnya semata-mata adalah karena izinNya, karena perkenanNya, karena kehendakNya. Penulis yakin hakul yakin tanpa izin, tanpa perkenan, tanpa kehendak Allah SWT artikel (religius) ini tidak mungkin ada ditangan sidang pembaca. Sekali lagi, kita ucapkan puja dan puji syukur kehadira Illahi Rabbi, Tuhan seru sekalian alam. Dia pencipta langit dan bumi, Dia penguasa tunggal dihari pembalasan nanti, Dia itu maha Dzat yaitu Allah SWT.
Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling Agung yaitu Nabi Besar Baginda Sayyidina Muhammad SAW beserta keluarganya, beserta para Sahabatnya.
Sidang pembaca yang terhormat. Sesuai judul tulisan tersebut diatas, kita mulai pembahasan dengan mengetengahkan sebuah Hadist dari Abdullah bin Mas`ud ra ia mengatakan:
#(Artinya):” Saya bertanya kepada Nabi SAW tentang amal apa yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab:” Shalat pada waktunya.” Saya bertanya lagi:” Kemudian apa?” Beliau menjawab:” Berbuat baik kepada Ibu bapak.” Sekali lagi saya bertanya:” Kemudian apa”?” Beliau menjawab:” Jihad dijalan Allah.” Abdullah mengatakan: Itulah yang diceritakan Nabi SAW kepadaku, seandainya aku meminta tambah pasti beliau menambahnya.” (Al-Hadist)
Saudaraku, sidang pembaca. Pertanyaan ini datang dari Abdullah bin Mas`ud ra tentang amal apa yang paling dicintai Allah SWT? Hal ini mendukung berbagai pertanyaan yang telah berlalu disegi keinginan para Sahabat untuk mengetahui berbagai amal yang paling direstui Allah SWT.
Jawaban Nabi SAW berisi beberapa faktor berikut ini:
1. Hubungan baik dengan Allah SWT hal itu nampak dalam melaksanakan shalat pada waktunya.
2. Hubungan baik antar manusia, hal ini dimulai dengan berbuat baik kepada orang yang paling dekat yaitu ibu bapak.
3. Menjunjung tinggi kalimat Allah itu tampak dalam berjihad dijalanNya.
Tiga faktor ini saya simpulkan dari pertanyaan Abdullah bin Mas`ud diatas, kita dapat melihat bagaimana ia berhati hati dalam bertanya sehingga ia dapat menyerap sepenuhnya jawaban Rasul Allah SWT. Seandainya Ibnu Mas`ud minta tambah pasti Rasul Allah SAW menambahnya.
Saudaraku, sidang pembaca, untuk tulisan bagian pertama ini, penulis akan menguraikan setentang faktor pertama. Selanjutnya untuk uraian faktor kedua dan ketiga disampaikan pada kesempatan tulisan bagian selanjutnya insya Allah.
# Faktor pertama: Salah satu karunia Allah SWT kepada kita adalah shalat fardhu lima kali dalam satu hari satu malam. Allah telah membagi waktunya sesuai dengan kebutuhan kita, agar dada kita lapang dan hati kita tentram serta pikiran kita tenang dan jiwa kitapun stabil. Pertemuan kita (dimasjid) waktu mempunyai dampak positif yang sangat banyak.
*Firman Allah SWT:
#(Artinya):” Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS:Hud:114)
Yang dimaksud dengan shalat dua tepi siang adalah shalat Subuh dan shalat Ashar. Dan yang dimaksud dengan bagian permulaan malam ialah shalat Maghrib dan shalat Isya.
# Perhatikan Firman Allah SWT
*(Artinya):” Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS:Al-Isra:78)
Yang dimaksud sesudah tergelincirnya matahari adalah awal waktu shalat Dzuhur, yang akan berakhir pada permulaan malam. Dalam hal ini termasuk juga shalat ashar maghrib dan shalat isya. Sedangkan yang dimaksud dengan inna Qur`ana fajri adalah shalat subuh.
# Sesuai FirmanNya
*(Artinya):”….. Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu waktu dimalam hari dan waktu-waktu siang hari supaya kamu merasa senang. (QS:Thoha:130)
Bertasbih sebelum matahari terbit berarti shalat shubuh dan sebelum terbenamnya adalah shalat ashar. Dengan itu jelaslah bagi kita waktu terbatas untuk melakukannya.
# Firman Allah SWT:
*(Artinya):”…. Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS:An-Nisa:103)
Malaikat Jibril As telah menerangkan kepada Rasul Allah SAW permulaan dan penghabisan setiap waktu shalat
# Diberitakan dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi SAW datang kepadanya Jibril seraya berkata.” Bangun dan shalatlah.” Lalu beliau shalat Dzuhur ketika matahari sudah tergelincir. Kemudian datang waktu Ashar Jibril pun menyuruh:” Bangun dan shalatlah.” Beliaupun melakukan shalat Ashar ketika bayang-bayang segala sesuatu seumpamanya. Kemudian datang waktu Maghrib, Jibril berkata lagi:” Bangun dan shalatlah.” Beliaupun bangun dan melakukan shalat Isya ketika warna kemerahan dilangit (shafaq) telah hilang. Kemudian beliau shalat Shubuh ketika fajar telah terbentang .” (Dikutip dari buku: Sahabat bertanya Rasul Menjawab Oleh: Dr.M Ra`fat. halaman 80-81)
Sidang pembaca, Rasul Allah SAW bila datang waktu shalat beliau bersabda kepada Bilal:” Bangunlah wahai Bilal, legakanlah kamu dengan shalat.” Waktu shalat sangat disenangi oleh Rasul Allah, beliau selalu menunggunya, bila waktu shalat beliau tidak melakukan apapun selain shalat. Sebab, shalat dapat menentramkan hati yang beriman, karena itu Rasul Allah menegaskan hakikat tersebut dengan sabda beliau:” Kebahagiaanku terdapat dalam shalat.” Artinya kegembiraan dan ketenangan serta kebahagiaan beliau adalah dalam menghadap berdo`a kehadirat Tuhannya. Shalat merupakan pembicaraan dan hubungan batin antara seorang hamba dengan Tuhannya maka hati yang beriman merasakan dampak dari pembicaraan dan hubungan ini, sebab itu pula Rasul Allah SAW, bangun diwaktu malam untuk melakukan shalat.
# Perhatikan Firman Allah SWT
*(Artinya):” Wahai orang yang berselimut, bangunlah dimalam hari untuk shalat kecuali sedikit, separuhnya atau kurangilah dari separuh itu sedikit, atau lebih dari separuh itu. Dan bacalah Al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan.” (QS:Al-Muzzamil:1-4)
Shalat yang khusu` yang merupakan percakapan antara seorang dengan Allah adalah pelita hati, penyejuk dada dan penenang jiwa. Shalat tersebut diwajibkan Allah kepada semua umat Islam. Sebab, kalau mereka tidak menegakkannya mereka akan hidup dalam Neraka hawa nafsu dan tipu daya setan.
Bila seorang dokter memaksakan obat kepada seorang anak yang barangkali pada mulanya merasa sakit, tetapi akhirnya ia akan sehat. Begitupula dengan shalat yang difardhukanNya lima kali dalam 24 jam, ia dapat menerangi hati dan menenangkan jiwa. Kalau memang begini sebabnya shalat, kenapa orang banyak meninggalkan atau tidak menunaikan pada waktunya? Sebenarnya, orang yang meninggalkan shalat atau tidak mengerjakan pada waktunya, disebabkan karena mereka tidak merasakan nikmatnya bercakap-cakap dengan Allah, bahkan kalau mengerjakan shalat mereka hanya mengerjakannya sekedar lahiriah saja, tidak merasakan sesuatu apapun.
# Firman Allah SWT
*(Artinya):” Bila mereka berdiri hendak shalat mereka berdiri dengan malas…..” (QS:An-Nisa:142)
Akan tetapi bagaimana cara melakukan shalat yang khusu` sehingga kita dapat merasakan dan menikmatinya, lalu kita tegakkan terus menerus? Hal itu telah diterangkan Nabi SAW kepada kita. Beliau menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala hal, yaitu menyembah Allah seoleh-olah kita melihatNya kalau kita tidak melihatNya maka Dia (Allah) melihat kita. Rasul Allah SAW mewasiatkan kepada kita, bila melakukan shalat hendaklah terlebih dahulu berselindung kepada Allah dan memperhatikan apa yang dibaca. Kita akan mengerti apa yang disebut khusu` dalam shalat kalau kita simak dengan teliti percakapan antara seorang guru dan muridnya berikut ini:
* Sang guru bertanya kepada muridnya berikut ini. Sang guru bertanya:” Kamu telah mengikutiku sejak beberapa tahun, sekarang katakanlah kepadaku bagaimana kamu shalat?” Murid menjawab:” Bila waktu shalat datang aku berwudhu dengan baik kemudian berdiri dimihrab, seolah-olah aku berdiri diatas titian sirathal mustaqim, syurga dikananku, Neraka dikiriku dan malaikat maut dibelakangku. Allah Maha Tahu apa yang ada didalam hatiku, kemudian aku takbir dan membaca dengan perlahan serta cermat, lalu aku ruku dan sujud dengan khusu`, kemudian aku duduk diantara dua sujud dengan sopan, setelah itu aku mengucapkan salam sebagai penutup. Shalat seperti yang tertera dalam Hadist Rasul Allah SAW, kemudian aku pergi melaksanakn urusan dunia, aku tidak melakukan keborosan, kedustaan, dan keonaran dalam masyarakat.”
Sang guru mengatakan:” Sekarang baru saya mengerti bahwa kamu melakukan shalat dengan baik, yaitu shalat yang khusu` yang dapat dilihat dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.”
(Dikutip dari buku: Sahabat Bertanya Rasul Menjawab. Oleh: Dr.M.Ra`fat Said halaman 83-84)
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Sampai disini saya sudahi dulu tulisan (religius) ini bagian pertama. Sambil menunggu terbitnya tulisan (religius) sesuai judul tersebut diatas bagian yang kedua. Penulis mengucapkan terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Sahabat Bertanya Rasul Menjawab. Oleh: Dr.M.Ra`fat Said )
…
# Tulisan religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com.#
…