Bismillahirrahmaanirrahim. Assalamualaikum wr.wb. Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Kita ucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, dengan izinNyalah tulisan (religius) sesuai judul tersebut diatas bagian kedua selesai penulis susun dan saat ini berada dihadapan sidang pembaca. Alhamdulillah!. Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga beserta para Sahabatnya.
Sidang pembaca, pada bagian pertama yang lalu kita sudah menyampaikan faktor pertama dari tiga faktor jawaban Nabi SAW setentang Hadist dari Abdullah bin Mas`ud ra yang bertanya bahwa amal apa yang paling dicintai Allah ?
# Pada hakikatnya jawaban Rasul ada tiga, yaitu: Shalat pada waktunya, berbuat baik kepada ibu bapak dan jihad dijalan Allah.
* Kini kita membahas faktor kedua dari jawaban Nabi sebagai berikut:
# Faktor kedua: Sudah jelas bagi kita bahwa Islam sangat memperhatikan masalah sosial yang berhubungan dengan kehidupan duniawi, agar kehidupan masyarakat saling mengasihi dan mencintai. Islam mewasiatkan kepada pengikutnya supaya berbuat baik kepada orang lain, dimulai dari orang yang paling dekat yaitu ibu bapak kemudian orang yang agak jauh dan seterusnya. Siapa yang melakukan hal ini Allah akan menyediakan syurga untuknya. Supaya kita tahu sampai dimana perhatian Islam terhadap nilai-nilai luhur dalam masyarakat, sebaiknya kita memperhatikan beberapa wasiat Rasul Allah SAW ketika beliau pertama kali membina masyarakat Madinah Al-Munawarah. Dalam pengarahan beliau dapat disimpulkan beberapa pengertian yang berhubungan dengan nilai-nilai luhur tersebut. Ketika Rasul Allah SAW sampai diMadinah, penduduk setempat datang beramai-ramai menyambut kedatangan beliau, waktu itulah Rasul Allah bersabda:
# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Wahai hadirin sekalian, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, hubungkan silaturahim dan shalatlah pada malam hari ketika orang-orang tidur, kalian akan masuk syurga dengan selamat.” (HR:Turmizi-Hadist shahih jilid 3 hal 313 dan Ibnu Majah Hadist Shahih jilid 1 hal 400-401)
Sebagian dari nilai-nilai ini insya Allah akan kita terangkan karena kebanyakan orang melalaikannya. Barangkali disebabkan tekanan kehidupan dunia sehingga jiwa mereka menjadi keras dan kejam. Nilai-nilai tersebut dapat mengunggah rasa kemanusiaan seseorang dan menjauhkannya dari kehidupan yang keras dan kejam. Marilah kita mulai perbincangan dari orang yang paling dekat kepada kita dan orang yang paling kita cintai sesudah Nabi SAW.
Sebelum dimulai perbincangan tentang apa yang pantas dilakukan terhadap mereka (ibu-bapak). Berbuat baik kepada mereka merupakan jalan untuk menuju syurga. Berikut ini kita sebutkan beberapa Hadist Nabi yang menerangkan bahwa berbuat baik kepada dua orangtua merupakan salah satu jalan menuju syurga. Dari Mua`wiyah bin Jahimah diberitakan bahwa Jahimah bertanya kepada Nabi SAW.
*(Artinya):” Wahai Rasul Allah, saya ingin berperang dan saya datang kepadamu untuk meminta nasehat. Rasul Allah bersabda:” Apakah kamu (masih) mempunyai ibu?” Jahimah menjawab:” Ya (masih)” Beliau bersabda:” Jagalah ia, sesungguhnya syurga dibawah telapak kakinya.” (HR:Nasa`i)
# Sementara dalam Hadist dari Abu Darda ra dinukilkan bahwa ia mendengar Rasul Allah SAW bersabda:
*(Artinya):” Orangtua lelaki adalah pintu tengah syurga, bila kamu mau, sia-siakanlah pintu itu atau peliharalah.” (HR:Turmidzi)
Dalam Hadist-hadist yang lalu (lihat tulisan bagian pertama) terdapat keterangan yang jelas bahwa berbuat baik kepada ibu bapak merupakan salah satu jalan kesyurga. Siapa yang menyia-nyiakan orangtuanya dan tidak memberikan nafkah kepada mereka, sedangkan mereka sudah tua renta, maka orang tersebut tidak berhak masuk syurga.
Sebaiknya kita menelusuri dan mengkaji apa rahasia dari wasiat Nabawi ini. Seperti halnya banyak kita dapati ayat-ayat Al-Qur`an yang sama pengertiannya dengan wasiat Nabawi diatas.
# Firman Allah SWT:
*(Artinya):” Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukanNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…..” (QS:An-Nisa:36)
# Dan FirmanNya
(Artinya):” Tuhanmu memerintahkan: Janganlah kamu sembah selainNya dan berbuat baiklah kepada Ibu bapak. Bila salah seorang antara keduanya atau keduanya telah tua, janganlah kamu katakan:cis kepada keduanya dan janganpula kamu hardik mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia (lemah lembut). Rendahkanlah sayap kehinaan (merendah dirilah) kepada keduanya karena kasih sayang, dan katakanlah: Wahai Tuhanku, kasihanilah keduanya seperti halnya mereka telah mengasuhku ketika aku masih kecil.” (QS:Al-Isra:23-24)
# Dan Firman Allah SWT:
*(Artinya):” Kami wasiatkan kepada manusia terhadap ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya (menderita) kelemahan diatas kelemahan dan menceraikannya dalam susuan dalam 2 tahun, berterima kasihlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu. KepadaKu tempat kembali.” (QS:Luqman:14)
Bila kita renungkan wasiat Qur`ani dan wasiat Nabawi ini, nampaklah bagi kita bagaimana susah payahnya ibu bapak melahirkan dan membesarkan kita, akan tetapi sementara orang bila ia sudah dewasa ia lupa keadaannya diwaktu kecil dan berlaku kasar terhadap orangtua, sikap yang begini sangat tercela. Disini kelihatan dengan jelas berulangnya wasiat Qur`ani dan wasiat nabawi agar setiap orang menghormati ibu bapaknya dan berlaku lembut terhadap mereka.
Islam menjadikan kedurhakaan kepada ibu bapak bergandeng dengan merusak dimuka bumi yang harus mendapat laknat dan kemarahan dari Allah. Perbuatan durhaka itu juga dianggap Islam hampir sebanding dengan syirik dan termasuk salah satu dosa besar. Siapa yang senang mendapat kemarahan dari Allah dan dijauhkan dari rahmatNya dan siapa yang rela perbuatannya disamakan dengan perbuatan orang-orang musyrik?
# Perhatikan Firman ALLAH swt:
*(Artinya):” Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (penguasa) kamu berbuat bencana dimuka bumi dan memutuskan silaturahmi. Mereka itulah yang dikutuki Allah, lalu Allah memekakkan mereka dan membutakan penglihatan mereka.” (QS:Muhammad:22-23)
# Kemudian FirmanNya:
*(Artinya):” Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan dibumi, mereka itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.” (QS:Ar-Rad:25)
Mereka yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh sebanding dengan orang-orang yang memutuskan hal-hal yang disuruh Allah menghubungkannya. Hal itu juga setara dengan berbuat binasa dimuka bumi. Kaitan ketiga hal diatas nampak dengan jelas: Orang-orang yang sudah mengucapkan janji setia kemudian diingkarinya, mereka ini bukanlah termasuk orang-orang yang berjiwa bersih, akan tetapi jiwa mereka sudah kotor dan rusak, mengucapkan janji dan tidak menetapinya. Seperti halnya orang-orang yang durhaka (kepada orangtua). Kehidupan seseorang semenjak ia kecil dalam pangkuan ibu bapak sampai besar lebih kuat daripada janji yang diucapkan yang harus ditepati. Susah payah ibu bapak dalam membesarkan anak lebih tegas dari pernyataan mulut. Maka sepantasnyalah ibu bapak mendapatkan balasan dari usahanya itu. Siapa yang tidak membalasnya jasa mereka berarti memungkiri janji dan durhaka kepada orangtua sebanding dengan perbuatan merusak dimuka bumi. Ketiga hal ini pantas mendapat laknat dari Allah dan pelakunya pantas masuk kedalam Neraka.
# Dalam sebuah Hadist diberitakan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Nabi SAW bersabda:
*(Artinya):” (termasuk) dosa besar adalah memperserikatkan Allah, durhaka kepada dua orang ibu bapak, membunuh jiwa dan sumpah palsu”. (HR:Bukhari)
# Dan Hadist yang datangnya dari Abu Muhammad bin Jabir bin Mut`im ra bahwa Rasul Allah SAW bersabda:
*(Artinya):” Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan (silaturahim) (HR:Muttafaqun`alaih)
Jelaslah bagi kita bahwa durhaka kepada ibu bapak, membunuh seseorang dan bersumpah bohong sebanding dengan memperserikatkan Allah. (menyekutukan Allah)
Apakah setelah ancaman dan peringatan ini masih ada orang yang berjiwa sehat terjerumus kedalam kedurhakaan dan melakukan dosa besar?
Sebenarnya naluri yang benar, wasiat-wasiat Qur`ani dan Nabawi dan ancaman terhadap perbuatan durhaka tersebut, semuanya sudah cukup untuk mengarahkan seseorang agar memperbaiki hubungan dengan kedua orangtuanya dan agar ia berlaku lembut terhadap mereka, serta mengenal hal-hal yang harus dilakukan terhadap mereka dikala mereka masih hidup dan sesudah meninggal kelak. Disamping itu seseorang sepantasnya menolehkan pandangan, bahwa walaupun sekarang ia masih kuat dan tegar, akan tetapi esok lusa ia akan tua renta dan lemah dan ia mempunyai anak ia harus mengerti bahwa apa yang dilakukannya terhadap orang lain akan dilakukan orang pula terhadap dirinya. Seperti yang dilakukannya terhadap ibu bapaknya, anaknya pun akan berlaku begitu pula terhadap dirinya. Bila ia berbuat baik kepada dua orang tuanya, iapun akan mendapatkan kebaikan dari anak-anaknya dan bila durhaka, maka anak-anaknya pun akan durhaka kepadanya.
Dalam kisah seorang balita kisah seorang anak balita kita dapat menarik suatu pelajaran yang berharga. Seorang anak pergi dengan bapaknya kepasar untuk membeli sebuah peti kayu. Peti tersebut akan digunakan untuk tempat kakek anak tersebut, yaitu bapak dari bapaknya. Ketika sang bapak sedang memilih-milih peti itu, anak balita tadi berkata kepada bapaknya dengan polos:” Ayah, untuk apa kita membeli peti ini?” Wahai anakku, kakekmu sudah tua, ia banyak melakukan hal-hal yang tidak enak dilihat, lalu ayah ingin menjauhkannya dari kita dan kita tempatkan ia didalam peti ini.” Anak itu bertanya:” Kenapa kita membeli peti kayu?” Sang ayah balik bertanya:” Jadi, peti apa yang akan kita beli?” Anaknya menjawab:” Menurut saya lebih baik kita beli peti besi” Bapak bertanya lagi:” Kenapa harus peti besi?” Anak tersebut menjawab dengan polos:” Supaya peti besi itu setelah digunakan untuk kakek dapat juga digunakan untuk tempat ayah bila ayah sudah tua.” Bapak tersebut mengerti apa yang dimaksudkan anaknya, lalu ia panggil anaknya seraya berkata:” Wahai anakku kemarilah, ayah rela tinggal bersama-sama dengan kakekmu, kita bersihkan dan kita jaga dia.”
Sidang pembaca, Islam sangat memperhatikan hubungan baik antara seorang anak dengan ibu bapaknya agar mereka hidup damai dan tenang. Hal ini tidak terdapat dalam masyarakat lain, dimana orangtua dititipkan dirumah rumah jompo…
Sampai disini saya akhiri dulu tulisan (artikel) religius ini Bagian Kedua. Insya Allah, tulisan ini akan rampung (selesai) pada Bagian Ketiga yang akan datang. Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wabillahi taufik wal hidayah waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: SAHABAT BERTANYA RASUL MENJAWAB Oleh: Dr M. Ra`fat Said.#
…
# Tulisan (artikel) religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com
…