Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan karuniaNya lah kita dapat berjumpa kembali (lewat tulisan) sesuai judul tersebut diatas. Sidang pembaca, apa khabar? Semoga artikel (religius) ini bermanfaat, menyejukkan, mendapat tempat dihati pembaca. Dan yang paling diniatkan penulis sebagai sarana syiar dakwah nilai-nilai Islam akan kian dapat tersebarluaskan. Insya Allah!.
Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul.paling Agung yaitu Baginda Sayyidina Muhammad SAW beserta keluarga beserta para Sahabatnya.
Saudaraku, kita mulai dengan materi kita, ketahuilah bahwa manusia itu adakalanya bicara atau diam. Jika berbicara adakalanya dengan perkataan yang baik lalu ia beruntung atau dengan ucapan yang jelek lalu ia merugi. Jika ia diam maka adakalanya diam dari kejelekkan maka beruntung dan adakalanya diam dari kebaikan maka ia merugi. Maka diamnya keduanya ada keuntungan yang perlu dihasilkan dan terdapat kerugiannya maka harus dilepaskan. Demikian faedah yang diberikan oleh Ibrahim Asy Syabrakhiti (Dikutip dari Tanqihul qaul)
# Perhatikan Hadist dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Kesehatan (keselamatan) manusia itu ada sepuluh bagian, yang sembilan dalam berdiam dan kesepuluh dalam ber-uzlah (mengasingkan diri) dari para manusia.” (HR:Ad-Dailami)
* Mengasingkan diri itu jika ia tidak membutuhkan mereka dan mereka tidak membutuhkannya, jika tidak maka menurut syara` lebih baik bercampur para manusia untuk belajar atau mengajar sehingga tidak baik menjauhi mereka.
Dalam hal ini terkumpul antara alasan untuk berusaha bercampur para manusia. Al-Manawi berkata:” Sebaiknya orang yang cerdik untuk memilih keselamatan. Maka siapa yang merasa lemah dan terpaksa bercampur untuk mencari penghidupan maka hendaklah ia tetap diam.” (Demikian dalam Sirajul Munir)
# Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Setiap sesuatu itu ada najisnya dan najis lisan adalah jelek ucapan.” (Al-Hadist)
* Dan Hadist dari Ibnu Umar ra:” Siapa banyak omongan maka banyak pula kesalahannya dalam ucapan, siapa banyak kesalahannya maka Neraka lebih dekat padanya.” (HR:Thabrani)
Hal ini karena kesalahan merupakan sesuatu yang tidak membawa manfaat. Maka jika berupa omong kosong sekalipun tidak berdosa namun tetap dihisab karena menyia-nyiakan umurnya dan berpalingnya dari berdzikir kepada petunjuk. Dan siapa yang mempertengkarkan hisab ia tersiksa.
# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Pokok iman adalah diam kecuali karena berdzikir kepada Allah SWT.” (Al-Hadist)
Diam itu merupakan gembok pintu sebagaimana dikatakan oleh Umar ra
* Karenanya dikatakan pula dari Bahar Thawil:
*(Artinya):” Banyak pembuka pintu pintu jelek bagi dirinya, jika ia tidak punya gembok pada mulutnya yang tergembok.” (Dari Tanqihul Haul)
# Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Diam itu merupakan hiasan bagi orang alim dan merupakan tirai bagi orang bodoh. (HR:Abu Syaikh dari Muharaz bin Zahir Al-Islami .)
# Dan bersabda Rasulullah SAW:
(Artinya):” Banyak saja satu ucapan menyambar kenikmatan dan banyak pula satu ucapan yang menarik kenikmatan.” (Al-Hadist)
:” Sebagian ulama berkata:” Memelihara lidah dari yang haram adalah diamnya karena pada lidah itu mengandung tujuh bahaya, maka jika kamu tidak mempercayakannya niscaya menjadi musuh bagimu.”
* Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki ditanya sewaktu sakit menjelang kematiannya, lalu dikatakan kepadanya :” Wasiatilah aku” Maka ia berkata:” Jika engkau mau kumpulkanlah bagimu, ilmu ulama, hikmah hukama dan pengobatan para dokter , dalam tiga kalimat.
Adapun ilmu ulama, jika engkau ditanya sesuatu yang belum kamu ketahui maka kamu katakan:” Saya belum mengetahui.” Adapun hikmah para hukama, jika engkau duduk bersama suatu kaum maka hendaknya engkau yang paling diam dari mereka. Sebab jika mereka salah maka engkau selamat dari kesalahan mereka. Sedangkan pengobatan dokter, maka jika engkau memakan makanan jangan terus terangsang sebelum senang.” (Demikian dalam kitab Al-Futuhatul Wahabiyah Oleh: Asy Syabrakhiti.)
# Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Siapa membungkam lisannya maka tidak ada jalan (hak) salah seorang untuk menghinanya.” (Al-Hadist)
Juga dikatakan bahwa diam adalah tidurnya lisan sedangkan bicara adalah jaganya.
# Dan bersabda Nabi SAW dalam sebuah Hadist dari Abu Hurairah ra:
(Artinya):” Hikmah itu sepuluh bagian, sembilan bagian dalam uzlah (menyendiri) dan yang satu dalam diam.” (HR:Ibnu Adiy dan Ibnu Laal.)
# Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Diam itu mengandung beberapa hikmah, tetapi sedikit yang dapat melakukannya.” (HR:Al-Qudlai)
* Diam itu mengandung beberapa hikmah maksudnya bermanfaat yang dapat mencegah dari kebodohan dan sedikit yang dapat melakukannya maksudnya sedikit orang yang mau diam dari perkara yang tidak berfaedah dan mencegah dirinya dari ucapan yang jelek bagi dirinya.” (HR:Al-Qud`lai)
* Keterangan:Hadist ini dari Anas bin Malik dan Ad -Dailami dari Umar dengan isnad dhoif.
# Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Siapa diam maka ia selamat.” (Al-Hadist)
Maksudnya siapa yang diam dari mengucapkan perkataan yang tidak berpahala baginya maka ia selamat dari siksa dan cercaan pada hari ia kembali kepada Allah.
# Dan bersabda Rasulullah SAW
(Artinya):” Diamnya orang alim adalah jelek dan bicaranya adalah hiasan, sedangkan perkataan orang bodoh adalah jelek dan diamnya adalah hiasan.” (Al-Hadist)
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Akhir dari tulisan (religius) ini saya sampaikan perkataan orang-orang bijak (Lukman dan Ibnu Al Mubarok) sebagai berikut:
* Lukman berkata kepada anaknya :” Andaikata bicara itu dari perak, maka diam itu adalah dari emas.”
* Artinya yaitu sebagaimana dikatakan Ibnu Al-Mubarok:” Andaikata perkataan itu dalam mentaati Allah adalah perak maka diam dari maksiat kepada Allah adalah emas.” (Dikutip dati Tanqihul qaul)
# Sementara ulama berkata dari Bahar Mutaqarib:” Apabila engkau dipaksa untuk bicara maka tinggalkanlah dan bermaksudlah kepada pintu diam. Andaikata perkataanmu itu adalah perak, maka diammu adalah emas.” (Dikutip dari Tanqihul qaul)
Dan Ibrahim Al-Utaki berkata dengan nadham dari Bahar Basith:” Mereka berkata: Aku mengadu kepadamu terhalang, maka kukatakan kepada mereka: Allah tiada menentukan datang kepadaku tanpa bagian. Kalau keadaan pembicaraanku ketika aku menyebarkannya itu dari perak niscaya diam itu adalah dari emas.” (Tanqihul Qaul)
Hal ini jelas bahwa didalam menahan maksiat itu lebih utama dari melakukan ketaatan dan sesungguhnya diam itu lebih utama daripada bicara. Tetapi mayoritas ulama salaf memilih pada lebih utama bicara karena manfaatnya berbagai macam. Dari hal ini maka ucapan yang baik adalah lebih baik daripada diam dan diam itu lebih baik daripada ucapan jelek. (Demikian faedah yang dikemukakan oleh Asy Syabrakhiti.)
Sampai disini saya sudahi dulu tulisan (religius) ini semoga bermanfaat. Dan terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Terjemah Tanqihul Qaul Oleh: Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi.#
…
# Tulisan (religius) ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com#
…