Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Pertama-tama saya mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas Hidayah dan Inayah-Nya lah saya dapat menyusun ( artikel ) religius ini , berjudul sesuai tersebut diatas. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para sahabatnya.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Pada Bagian Kedua ini, artikel religius ini berjudul sesuai tersebut diatas akan saya lanjutkan penulisannya sebagai berikut : Perumpamaan kalimah Thayyibah ( yang berarti pernyataan keimanan ) sebagai sebuah pohon yang cabangnya menjulang kelangit adalah sebuah misal bahwa hanya dengan kalimah Thayyibah ( keimanan ) inilah yang bisa menghantarkan amal seseorang bisa menuju kelangit diterima Allah sebagai sebentuk amal ibadah. Itu artinya hanya karena adanya iman sebentuk amal ibadah bisa sampai kepada Allah.
Penjelasan ini akan lebih jelas jika kita bandingkan dengan pengertian ‘Kalimah khabitsah’ yang diumpamakan Allah seperti sebuah pohon yang akarnya tercabut yang tak akan bisa tumbuh tegak yang itu cabangnya tak akan bisa mencakar langit. Ini berarti seseorang yang tak punya iman sama persis seperti pohon tak berakar tersebut. Kalau sebuah pohon tak berakar itu mudah goyah dan tak akan sanggup menggapai kelangit , maka itu artinya amal perbuatan seseorang yang tak beriman tak akan bisa sampai ke langit menuju Allah.
Dengan kata lain , amal perbuatan orang – orang yang tak beriman tak akan bisa diterima oleh Allah. Mengapa demikian ? Sebab hanya keimanan inilah yang menjadi tolak ukur apakah perbuatan itu untuk Allah atau tidak. Hanya keimanan inilah yang menjadi ukuran apakah amal perbuatan itu bisa diterima atau tidak oleh Allah.
Dalam sebuah ayat, Allah makin memperjelas kedudukan kalimah Thayyibah ( baca iman ) yang sebagai penentu amal ini.
Allah SWT berfirman : ( Artinya ) : ” Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah kemuliaan itu semua. Kepada – Nya lah naik perkataan – perkataan yang baik ( kalimah Thayyibah ) dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.” ( QS : Fathir : 10 ) .
Demikian pengertian kalimah Thayyibah merujuk pada sebagian ayat Al-Qur’an. Dari penafsiran yang terdapat dalam dua ayat tersebut bida dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimah Thayyibah adalah bacaan Syahadat atau bacaan Tahlil. Pengertian ini adalah sebuah pengertian secara khusus. Banyak ulama menyebutkan bahwa sebenarnya ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya bacaan kalimah Thayyibah ini. Beberapa ayat tersebut mengisyaratkan adanya bacaan kalimah Thayyibah, meski dengan gaya bahasa yang sedikit beda namun pada intinya sama untuk menyebutkan salah satunya adalah bacaan kalimat Laa ilaaha illalllah . Kalimat ini redaksinya memang sedikit beda dengan kalimah tahlil, namun pada intinya sama, yakni sama – sama sebagai kalimah yang berisi tentang ajaran tauhid.
Terlepas dari itu semua, bila dilihat dari pengertian bahasa, maka kita bisa menyebutkan bahwa yang disebut kalimah Thayyibah adalah semua kalimah atau bacaan yang baik. Dari pengertian ini maka keseluruhan kalimat – kalimat yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an adalah termasuk dalam pengertian kalimah Thayyibah ini. Termasuk disebut sebagai ‘Kalimah Thayyibah’ juga adalah semua kalimat atau kata yang dianjurkan oleh agama agar sering – sering dibaca , misalnya kalimah Istighfar, kalimah tasbih ( subhanallah ) , kalimah takbir ( Allahu Akbar ), kalimah hamdalah ( Alhamdulillah ), kalimah basmalah (Bismillahirrahmanirrahiim ) dan seterusnya.
Satu hal yang harus disadari bahwa kalimah Thayyibah bukan hanya merupakan sebuah bacaan yang terangkai dalam sebuah kata atau kalimat saja. Atau kalimah Thayyibah bukan hanya sekedar amaliyah atau ibadah yang dianjurkan untuk memperbanyak membacanya. Ketahuilah bahwa ada banyak fadhilah dan hikmah yang tersembunyi di balik kalimah – kalimah tersebut.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas Bagian Kedua. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan judul baru tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : RAHASIA DIBALIK 99 BUTIRAN TASBIH. Oleh : Asrifin An Nakhrawie, S.Ag. *
***
* Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan : Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website : Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***
Categories
Cari Artikel
penggunjung