BERJILBAB HANYA DIBULAN RAMADHAN ( Bagian Kedua )

Assalamualaikum wr wb
Bismillahirrahmanirrahiim Allahumma shali wasalim sayyidina Muhammad. Pertama-tama saya mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Maunah-Nya lah saya dapat menyusun tulisan religius berjudul sesuai tersebut diatas. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling Agung, yaitu Baginda Sayyidina Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para sahabatnya.
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Pada Bagian Kedua ini, artikel religius berjudul sesuai tersebut diatas akan saya lanjutkan penulisannya sebagai berikut : Syaikh Muhammad Al-Utsaimin mengatakan tentang celana panjang ini, : ” Sesungguhnya ia menampakkan bentuk kaki seorang wanita , begitu juga perut dan pinggangnya serta yang lainnya. Dan wanita yang memakainya termasuk dalam sabda Nabi SAW , : ” Wanita yang berpakaian tetapi telanjang “. Sehingga walaupun celana panjang itu besar , longgar dan kaki yang satu dengan yang lainnya terpisah, tetap terkandung padanya unsur tidak menutup ( aurat ). Kemudian dikhawatirkan itu juga termasuk bentuk tasyabbuh ( penyerupaan ) wanita dengan laki-laki karena celana panjang termasuk pakaian laki-laki. ”
Kita pun banyak menyaksikan anak – anak putri kita yang mendekati usia sepuluh tahun, maka secara umum penampilannya mengesankan bahwasanya dia adalah gadis barat yang ayah dan ibunya tidak mengenal pengajaran – pengajaran Islam dan tidak berusaha untuk mendidik generasi serta membimbing mereka kepada menutup aurat dan menjaga kesucian.
Bagaimana gadis kecil kita akan tumbuh dengan menutup aurat sementara ia terdidik seperti ini !. Jika dia tidak paham maka maka ayah ibunya paham, jika dia tidak mukallaf maka ayah ibunya mukallaf yang diperintahkan untuk menjaga mereka.
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz berkata tentang memakaikan anak – anak perempuan kecil pakaian – pakaian pendek.: ” Dan tidak boleh menyepelekan hal itu terhadap anak – anak perempuan yang masih kecil, karena mendidik mereka dengannya ( pakaian – pakaian pendek ) , menjadikan mereka terbiasa mengenakannya, dan membuat mereka tidak menyukai yang selainnya apabila ia telah besar. Yang karenanya terjadilah apa yang dilarang dan fitnah yang terjerumus padanya wanita – wanita yang telah berusia. ”
Ni’mat Shidqi Rahimahullah mengatakan : ” Berapa banyak anak perempuan yang hidup sengsara karena disesatkan oleh kesesatan dan kerusakan ayahnya sendiri. Akibatnya, dia tumbuh besar tanpa mengenal rasa malu dan nilai-nilai ajaran agama. Berapa banyak anak perempuan yang diuji memiliki seorang ayah yang hampir tidak punya kemauan dan yang diperbudak oleh keinginan nafsunya namun mengaku beriman kepada Allah dan kitab – Nya, shalat , berpuasa , dan membaca Al-Qur’an, namun dia tidak mengenal sesuatu yang makruf dan enggan mengingkari sesuatu yang mungkar karena dia menyukai tabarruj, membenci sifat malu, melecehkan kerudung, dan menganggapnya sebagai beban berat serta ikatan membosankan yang menghalangi kebebasan putrinya dan yang menghambatnya menikmati kecantikannya yang penuh pesona serta masa mudanya yang penuh gairah. Saya benar – benar heran terhadap sosok ayah seperti ini. Dia mengaku merasa kasihan kepada putrinya yang memakai kerudung, namun dia tidak merasa kasihan dengan putrinya yang akan ditimpa siksa Allah Yang Maha Menyiksa lagi Mahakeras.
Katakanlah kepada kami dengan menyebut nama Tuhan anda, wahai sang ayah yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, apakah termasuk taqwa dan iman kalau anda mengerti perintah Allah untuk memakai kain kerudung dan memiliki rasa malu, tetapi nyatanya anda tidak marah dan juga tidak melarang putri atau istri anda berbuat durhaka dengan melakukan tabarruj ? Apakah termasuk cinta dan sayang kalau anda tidak memperdulikan mereka terkena murka dan siksa Allah, dan anda tidak berusaha menyelamatkan mereka dari cakar-cakar syetan ? “.
” Allah SWT berfirman : ” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ” ( QS : Al Imran : 110 ) .
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Saya akhiri tulisan religius ini, berjudul sesuai tersebut diatas Bagian Kedua. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita, insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan judul baru tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
* Bahan-bahan ( materi ) diambil dan dikutip dari buku : 89 KESALAHAN SEPUTAR PUASA RAMADHAN. Oleh : Abdurrahman Al-Mukaffi. *
***
Artikel religius ini dapat anda temukan pada Website kesayangan : Www.hajisunaryo.com *
***
* Artikel religius ini juga dapat anda temukan pada Website : Www.hsunaryo.blogspot.co.id atau Www.hsunaryo.blogspot.com *
***

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.