“ JANGAN MARAH, KARENA KEMAMPUAN MENGENDALIKAN DIRI KETIKA SEDANG MARAH ADALAH SIFAT TERPUJI.”

Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Selamat berjumpa kembali (lewat tulisan) sidang pembaca. Apa khabar? Semoga judul tulisan (religius) tersebut diatas mendapat tempat dihati pembaca, menyejukkan, menjadi sebagai tambahan ilmu, wawasan, dan yang utama yang paling diniatkan penulis adalah sebagai sarana syiar dakwah nilai-nilai Islam akan dapat tersebarluaskan. Insya Allah! Amin.
Puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Illahi Rabbi Tuhan seru sekalian alam. Dia penguasa tunggal dihari pembalasan nanti, Dia itu maha Dzat yaitu Allah SWT. Shalawat serta salam tidak lupa kita mohonkan semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling agung yaitu Baginda Nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW, beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
Sidang pembaca, awal dari materi kita ini perkenankan saya menyampaikan Firman Allah SWT dalam surat Al-Imron ayat 134 sebagai berikut:
# Firman Allah SWT:

(Artinya):” (Orang-orang yang bertaqwa tadi), yaitu orang-orang yang mendermakan hartanya diwaktu lapang dan diwaktu sempit dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan dari kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS:Al-Imran:134)
# Dan sebuah Hadist dari dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW:” Berkenanlah kiranya Baginda berpesan kepadaku? Jawab Rasul:” Jangan  anda marah..Lalu lelaki tersebut senantiasa mengulangi permintaannya berulang kali. Jawabnya:” Janganlah anda marah!” (HR:Bukhari)

Saudaraku, pelajaran penting yang tersimpul dalam Hadist ini adalah larangan marah. Sekalipun orang lelaki beberapa kali mengulangi permohonan agar diberi pesan yang lebih penting (Yang lain) lagi dari Rasulullah SAW. Namun pesan (Nasehat) beliau tetap sama  yaitu:” Jangan anda marah! (Larangan marah) Dari sabda Rasul ini seyogyanya kita cepat tanggap bahwa marah adalah sesuatu yang penting, sesuatu yang tidak baik. Yang harus dihilangkan, yang harus disingkirkan jauh-jauh dari diri kita. Karena marah itu adalah sebuah sifat-sifat yang buruk dan itulah sebabnya Nabi SAW berulangkali mengatakan (menjawab) dengan kata-kata:” Janganlah anda marah.”  


Marah disini yang dilarang Nabi SAW itu maksudnya marah yang disebabkan hanyalah mengikuti kehendak nafsu saja yang latar belakangnya adalah mengikuti kehendak syetan. Dengan kenyataan ini. Tidaklah berarti menutup kemungkinan untuk diperbolehkan marah dalam hal-hal yang yang berhubungan dengan hak Allah SWT apabila dilanggar dan dirusaknya.

# Kita tengok beberapa Hadist setentang setentang kemarahan Rasulullah SAW karena melihat larangan (Hak-hak) Allah dilanggar dan dirusaknya sebagai berikut:
* Dari Aisyah ra, ia berkata:” Rasulullah SAW datang dari bepergian, sedangkan dirumah saya terpasang  tabir yang ada lukisannya. Setelah Rasulullah SAW melihatnya, berubahlah wajah beliau sambil menurunkan tabir, Nabi SAW bersabda:” Wahai Aisyah, paling beratnya siksa Allah pada hari Kiamat adalah bagi siapa yang menyamai ciptaanNya.. (HR:Bukhari dan Muslim)


# Dan Hadist serupa yang sanadnya datang (juga) dari Aisyah ra hanya redaksi sedikit berbeda seperti berikut:

*(Artinya):” Bahwa pernah Rasulullah SAW datang dari suatu perjalanan dan ruang rumah bagian depan saya tutup dengan tabir (kelambu) yang bergambar patung. Lalu Rasulullah SAW melihatnya maka dikoyaknyalah tabir tersebut dan berubahlah warna wajahnya seraya bersabda:” Hai Aisyah orang yang berat siksaannya disisi Allah besok dihari Kiamat adalah orang-orang yang memperserupakan dengan ciptaan Allah.  (HR:Bukhari dan Muslim)

# Kemudian sebuah Hadist dari Aisyah ra ia berkata:” Orang-orang quraisy sedang berunding tentang keadaan seorang perempuan yang harus dipotong tangannya karea mencuri. Mereka berkata:” Siapa yang harus menyampaikan masalah ini kepada Rasulullah SAW?” Mereka menjawab:” Tiada lagi yang pantas selain Usamah bin Zaid kekasih Rasulullah. Usamahpun menyampaikan hal itu kepada beliau lalu Nabi SAW bertanya:” Akankah kalian melindungi orang yang terkena salah satu dari hukuman Allah Ta`ala?” Beliau berdiri dan berpidato:” Sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa, jika orang terpandang diantara mereka mencuri mereka membiarkan.

Tetapi bila yang mencuri orang lemah, mereka melaksanakan hukuman. Demi Allah seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya. (HR:Bukhari dan muslim.

Saudaraku, beberapa Hadist Mutafaqun Alaih tersebut diatas memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW juga bisa marah. Tetapi kemarahan beliau (Nabi SAW) adalah disebabkan (karena) hak-hak Allah dilanggar dan dirusaknya. Kemarahan Rasulullah disini karena Allah semata dan bukanlah kemarahan karena mengikuti kehendak nafsu. Akan tetapi marah untuk pendidikan da bimbingan umat. Tetapi jangan lupa kita dilarang marah yaitu marah yang karena menuruti hawa nafsu apalagi kemarahan yang latar belakangnya adalah mengikuti kehendak syetan. Ingat pesan Rasul:” Janganlah kita marah.”
Sidang pembaca, adalah suatu kenyataan bahwa sering terjadi kerusakan-kerusakan yang dilakukan oleh manusia, penyebabnya adalah nafsu marah yang tidak terkendalikan. Muttaqin yang bijaksana tentu tahu bahwa sifat pemarah bukanlah perangai terpuji. Karena orang yang muttaqin ialah orang yang mampu menahan rasa marahnya.
# Didalam Al-Qur`an disebutkan:” Wal kaazhimiinal ghaizha.”
(Artinya):” Dan orang-orang yang dapat menahan marahnya.” (QS:Al-Imran:134)


# Sementara didalam sebuah Hadist  shahih diterangkan kemampuan mengendalikan diri ketika sedang marah adalah sifat yang terpuji. Rasulullah SAW pernah bertanya:” Siapakah yang kamu hitung pahlawan itu?” Jawab Sahabat:” Orang yang tidak dapat dikalahkan oleh orang lain.” Rasul menegaskan:” Laisa bidzaalika, wa laakinnahuladzi yamliku nafsahu indal ghadlabi.” (Bukan begitu, tetapi (yang pahlawan) ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah) (HR.Muslim)

# Kemudian Hadist dari Sulaiman bin Shuradaahshahabi, ujarnya:

(Artinya):” Aku duduk bersama Rasulullah SAW dan dua orang laki-laki sedang saling memaki dengan marahnya, maka bersabda Rasulullah SAW:” Sesungguhnya aku mengetahui kalimat yang jika diucapkan  oleh laki-laki itu akan hilanglah marahnya. Yaitu jika ia mengucapkan” A`uudzu billahi minasy syaithannirrajim, akan hilanglah kemarahannya itu.” (HR:Bukhari dan Muslim)

# Dan Hadist dari Aisyah ra ujarnya:
(Artinya):” Nabi SAW masuk ketempat saya sedang saya marah, maka beliau memegang sudut sendi hidung saya dan menggonyohnya sambil berkata:” Hai Uwaisy (Aisyah kecil) ucapkanlah:” Allahummagh firli dzanbii wa adzib ghaizha qolbii wa ajirni minasysyaithan.”  (HR:Ibnu Sunny)

# Dan Hadist dari Athiyyah bin Urwah As Sa`di, katanya Rasulullah SAW telah bersabda:

(Artinya):” Sesungguhnya marah itu dari syetan dan sesungguhnya syetan dijadikan dari api  dan api dapat dipadamkan dengan air, maka apabila marah seseorang kamu hendaklah ia berwudhu.” (HR:Abu Daud)

Saudaraku sidang pembaca yang terhormat dalam sebuah kitab diterangkan bahwa seseorang (kita) apabila dihina oleh seseorang dan kita dapat menahan marah padahal kita mampu (dapat) membalas penghinaan yang ditujukan kepada diri kita itu. Namun kita menahan marah semata karena Allah. Maka dihari pembalasan nanti (Kiamat) Allah SWT akan menyetop adzabNya kepada kita. Subhanallah!
Dan diriwayat itu menyebutkan apabila kita (seseorang) itu tetap marah dan menyalurkan kemarahannya itu seolah ia mengatakan:” Ya Allah silahkan adzab aku.” Nauzubillah minzalik!
Saudaraku kita berlindung kepada Allah SWT semoga kita diberi kekuatan sehingga kita dapat bersabar serta mampu menahan amarah  seperti dikatakan diatas kemampuan mengendalikan diri ketika kita sedang marah  adalah sifat terpuji sekaligus Allah ridha bahkan diakherat kelak ketika seseorang (kita) oleh Allah SWT sedang diazab Allah menstop adzabNya. Subhanallah!Allahu Akbar
Sampai disini saya sudahi dulu tulisan (religius) saya ini semoga bermanfaat dan terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan (artikel) religius saya yang lain. Wa afwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: JALAN MENUJU SYORGA.Oleh:Mizan Asrori ZM, Buku: RIYADHUS SHALIHIN Oleh:Imam Nawawi, dan buku: DZIKIR DAN DO`A RASULULLAH SAW Jilid 1 Oleh: T.A LATHIEF ROUSYIY#

# Tulisan (artikel) religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com#

Last Updated on Monday, 24 March 2014 04:28

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.