“ KECINTAAN KITA KEPADA ORANG-ORANG FAKIR ADALAH TERMASUK AKHLAK PARA RASUL.”

Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma shalli wassalim Sayyidina Muhammad. Pertama-tama marilah kita mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, Tuhan seru sekalian alam. Dia pencipta langit dan bumi, Dia penguasa tunggal dihari pembalasan nanti, Dia itu maha Dzat, yaitu Allah SWT.
Dengan sebab izinNya, perkenanNya, dengan sebab kehendakNya sajalah tulisan (artikel) religius ini ada dihadapan anda. Saya yakin, haqul yakin, tanpa izin, tanpa perkenan, tanpa kehendakNya tulisan (artikel) sesuai judul tersebut diatas tidak akan pernah dapat sampai dihadapan anda sidang pembaca. Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya kalau sekali lagi saya menghimbau mari kita mengucapkan puja dan puji syukur kehadiratNya, kehadirat sang maha pencipta, yaitu Allah SWT Kemudian shalawat serta salam kita mohonkan semoga tercurah kepada junjungan kita, junjungan umat,nabi termulia, rasul paling agung, yaitu baginda Nabi besar Muhammad SAW beserta keluargnya beserta para Sahabatnya.
Saudaraku sebuah pertanyaan: Apa arti fakir itu?
# Imam Al-Ghazali, pengarang kitab: Mutiara Ihya Ulumuddin mengatakan:” Fakir adalah perkataan dari ketiadaan apa yang menjadi kebutuhannya. Adapun ketiadaan apa yang tidak menjadi kebutuhannya maka tidak menjadi kebutuhannya maka tidak dinamakan fakir.” (Demikian Imam Al-Ghazali)

# Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Fakir itu lebih pantas bagi orang mukmin daripada tali kekang yang baik dipipi kuda.”
(HR:Tabrani)

*Keterangan: Hadist ini dari Syaddad bin Aus dan Al-Baihaqi dari Saad bin Mas`ud dengan isnad lemah.

# Rasulullah SAW juga bersabda:
(Artinya):” Fakir itu adalah tercela dan jelek menurut manusia dan baik menurut Allah pada hari Kiamat (untuk keselamatannya didunia dan akherat) (HR:Dailami)

* Keterangan: Hadist ini dari Anas ra dan isnadnya lemah

Sidang pembaca dalam buku Terjemah Tanqihul Qaul Oleh: Syaiks Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi halaman 164 ada di terangkan: Bahwa dalam satu khabar disebutkan:” Para Nabi yang terakhir masuk Syurga adalah Nabi Sulaiman bin Daud as. Karena kedudukan kerajaannya. Adapun Sahabat-Sahabatku yang paling terakhir masuk Syurga adalah Abdurrahman bin auf ra karena kekayaannya.” (Dikutip dari buku terjemah Tanqihul Qaul)

# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya)” Mencintai orang fakir adalah termasuk budi pekerti para Nabi dan benci orang-orang fakir termasuk perilaku para Fir`aun.”  (Al-Hadist)

# Al-Fara`inah kata jamak dari Fir`aun. Para Fir`aun itu ada tiga yaitu:

1. Sinan, yaitu Fir`aun Nabi Ibrahim Al-Khalil
2. Rayyan bin Al-Walid, yaitu Fir`aun Nabi Yusuf
3. Al-Walid bin Mash`ah, yaitu Fir`aun Nabi Musa
(Demikin sebagaimana disebutkan dalam Mishbah)

# Dan bersabda Nabi Muhammad SAW:
(Artinya):” Segala sesuatu itu ada kuncinya, adapun kunci Syurga adalah mencintai orang-orang miskin dan fakir karena kesabarannya. Mereka adalah sarasehan Allah pada hari Kiamat
(HR:Abu Bakar bin La`al)

Keterangan: Hadist ini dari Umar Ibnu Khattab ra

Saudaraku, sesama muslim-muslimat sidang pembaca yang terhormat. Sekarang kita perhatikan sebuah Hadist yang datangnya dari Imran bin Hashin sebagai berikut:
# Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Sesungguhnya Allah SWT mencintai HambaNya mukmin yang fakir yang memelihara keharaman dan menjadi kepala rumah tangga.” (HR:Ibnu-Majah)

Pembaca, orang mukmin yang memelihara keharaman maksudnya meninggalkan sesuatu yang haram dan tidak mau meminta minta kepada manusia, menjadi kepala rumah tangga maksudnya mempunyai istri dan anak-anaknya. Al-Manawi berkata, bahwa dalam Hadist ini memberitahu kalau orang fakir itu disunnahkan menampakkan menjauhkan diri dari yang haram dan tidak mau mengeluh.

Orang fakir itu ada dua, yaitu fakir yang diberi pahala dan fakir yang disiksa. Adapun tanda yang pertama mentaati Tuhannya serta bersyukur kepada Allah atas kefakirannya, sedangkan yang kedua itu jelek kelakuannya, durhaka, selalu mengeluh dan biasa marah-marah. Oleh karenanya yang dicintai oleh Allah adalah orang fakir yang pertama, sedangkan yang kedua tidak. Demikian faedah yang dikemukakan Al-Azizi.

# Dan Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Kefakiran itu adalah amanat, maka siapa yang menyembunyikannya ia adalah ibadah. Dan siapa yang menampakkannya maka ia benar-benar mengalungkan kefakiran itu kepada saudarnya yang Islam.” (HR:Asakir)

* Dikatakan oleh Al-Azizi bahwa dalam Hadist ini disunahkan menyembunyikan kefakiran selagi tidak dalam keadaan terpaksa.

# Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Kebahagiaan (Syurga) itu disediakan bagi orang-orang fakir dan lemah dari umatku.” (Al-Hadist)

# Bersabda Rasulullah SAW:
(Artinya):” Kefakiran itu adalah satu kemuliaan dari kemuliaan Allah.” (Al-Hadist)

# Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Keutamaan orang fakir atas orang kaya itu adalah seperti keutamaanku atas seluruh makhluk Allah SWT.” (Al-Hadist)

* Diriwayatkan dari Sahabat Ali Karamallahu Wajhah, dari Nabi SAW bahwasanya yang lebih dicintai Allah Ta`ala adalah orang fakir yang merasa cukup dengan rezekinya dan ridho dari pemberian Allah Ta`ala.

# Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Tidak ada sesuatu yang Allah memberikannya yang utamanya menyamai kefakiran. (Al-Hadist)

Allah SWT telah mewahyukan kepada Ismail As:” Mohonkanlah kepadaKu ketika terpecah hati-hati mereka.” Ia bertanya:” Siapa mereka itu?” Dia berfirman:” Yaitu: Orang-orang fakir yang jujur-jujur. Dan Nabi Muhammad SAW bersabda: “ Tidak ada salah seorang yang lebih utama dari orang fakir apabila ia ridho.”
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Akhir dari tulisan (religius) ini ingin saya menyampaikan perkataan dari seorang besar, Yahya bin Mu`adz yang berkata:” Kecintaanmu kepada orang-orang fakir termasuk akhlak para Rasul dan kamu memilih duduk-duduk bersama dengan mereka termasuk tanda-tanda orang-orang shaleh dan larimu dari berteman dengan mereka termasuk tanda orang-orang munafik.” (Demikian Yahya bin Mu`adz)
Sampai disini saya akhiri tulisan ini, semoga bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabaratuh.

# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buu: Terjemah TANQIHUL QAUL Oleh: Syaiks Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi.#

# Artikel religius ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com.#
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.