Assalamualaikum wr.wb. Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma Shalli Wassalim Sayyidina Muhammad. Saudaraku sidang pembaca. Selamat berjumpa kembali (lewat tulisan) dengan al-fakir. Tulisan (religius) sesuai judul tersebut diatas adalah bagian kedua. Pada bagian ini akan disampaikan setentang keutamaan menyedikitkan tertawa. Namun, sebelum dimulai pembahasan materi mari kita mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, karuniaNya kepada kita sekalian yang dengan sebab pemberian nikmatNya inilah kita sampai dengan saat ini istiqomah dan dapat hidup lebih berarti. Shalawat serta salam kita mohonkan semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
# Sidang pembaca dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Banyak tertawa itu mematikan hati.” (Al-Hadits)
Hal itu dikarenakan tertawa menunjukkan lupa mengingat akherat. Demikian sebagaimana disebutkan dalam kitab Ihya Ulumuddin Oleh:Al-Ghazali.
# Dalam kitab Ihya Ulumuddin disebutkan suatu ketika Nabi SAW bersabda kepada Shahaib ia sedang sakit mata dan ia sedang makan korma:” Apa engkau memakan korma sedangkan engkau sakit mata?” Ia menjawab:” Saya memakan hanyalah dengan belahan yang lain wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah SAW tersenyum sementara perawi berkata:” Sehingga ia memandang kepokok pohon korma.” (Al-Hadist)
# Hadist dari Anas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Tertawa didalam masjid menjadi gelapnya kubur (karena dapat mematikan hati dan melupakan berdzikir kepada Tuhan.” (HR::Dailami)
# Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Siapa tertawa dengan terbahak-bahak maka ia benar-benar meluahkan satu luahan dari akal.” (Al-Hadits)
# Dalam kitab Al-Mustathraf disebutkan dari Ali:” Tiadalah seorang yang sendau gurau dengan satu pergurauan, melainkan Allah meluahkan satu luahan dari akalnya.” (Dikutip dari: Tanqihul Qaul.)
# Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya:” Siapa banyak tertawa didunia maka ia banyak menangis diakherat kelak.” (Al-Hadits)
# Berkata Yusuf bin Asbath:” Al-Hasan selama tiga puluh tahun tidak pernah ketawa.” Dan dikatakan:” Atha`As-Sulami selama empat puluh tahun tidak pernah tertawa (tidak pernah bersenda gurau.”) (Dikutip dari:Tanqihul Haul.)
# Dan Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Siapa tertawa dengan terbahak-bahak maka Allah melaknatinya dan siapa banyak tertawa maka ia berhak masuk Neraka.” (Al-Hadist)
# Dalam riwayat Hanad Bin As-Siri dari Hasan Al-Bashri:” Tertawa itu ada dua yaitu tertawa yang dicintai Allah dan tertawa yang sangat dibenci Allah. Adapun tertawa yang dicintai Allah adalah seorang nampak gigi-giginya pada muka saudaranya karena mengucapkan janjinya dan rindu untuk melihatnya. Sedangkan tertawa yang sangat dibenci Allah Ta`ala adalah seorang yang berkata dengan ucapan kasar dan bathil untuk ditertawakan.
Dan pengertian tertawa ada dua macam adalah tertawa yang diberi pahala oleh Allah dan tertawa yang dibenci Allah yaitu orang yang tertawa itu diancam siksaan oleh Allah jika dikehendaki. Adapun tertawa yang mendapatkan pahala Allah ialah tertawanya seorang manusia yang nampak gigi-giginya dan ia tersenyum pada muka saudaranya dalam urusan agama karena membicarakan pertemuannya dan karena rindu melihatnya.
Sedangkan tertawa yang dibenci Allah Ta`ala adalah tertawa yang disebabkan dari perkataan seorang yang berbicara dengan ucapan yang rusak agar ia tertawa dan ditertawakan orang lain, lantaran itu ia jatuh pada taraf terendah diNeraka Jahanam kelak pada hari Kiamat selama tujuh puluh tahun.
# Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Siapa yang banyak tertawanya maka ia banyak kesalahannya.” (Al-Hadist)
# Dan bersabda Rasulullah SAW:
(Artinya):” Siapa yang banyak tertawanya maka para manusia meremehkannya.” (Al-Hadist)
# Sementara Hadist dari Alnawiyah bin Haidah dengan sanad yang kuat bahwa Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Celakalah bagi yang bicara lalu ia mendustai pembicaraannya agar suatu kaum mentertawakannya, celakalah baginya, celakalah baginya. Diulanginya itu karena sangat membawa kehancuran.” (HR:Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, dan Al-Hakim)
# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Siapa berbicara dengan satu ucapan agar ditertawakan teman-teman duduknya, maka Allah Ta`ala menyiksanya di Neraka.” (Al-Hadist)
# Imam Al-Ghazali pengarang kitab populer: Mutiara Ihya Ulumuddin berkata:” Yang dimaksud dalam Hadist itu karena menyakitkan orang bukan semata mata tertawa yang diperbolehkan.”
( Dikutip dari: Tanqihul Haul)
# Bersabda Rasulullah SAW dalam sebuah Hadist dari:Abu Hurairah ra sebagai berikut:
(Artinya):” Bahwasanya seorang lelaki yang berbicara dengan satu ucapan dimana ia tidak tahu kalau ucapannya itu jelek, maka dengan sebab itu ia diterbangkan tujuh puluh musim di Neraka.” (Al-Hadist)
* Maksudnya bahwa seorang manusia yang berbicara dengan satu ucapan ia tidak menyangka kalau ucapan itu berdosa yang daripadanya, mentertawakan suatu kaum,maka dengan sebab itu ia jatuh diNeraka Jahanam tujuh puluh tahun.
# Dan Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya):” Tertawanya para Nabi adalah tersenyum dan tertawanya syetan adalah menggelikik (terbahak-bahak)” (Al-Hadist)
* Tersenyum maksudnya adalah tertawa yang terbuka giginya tetapi tidak terdengar suaranya. (Demikian dalam Ihya)
* Sementara Al-Azizi mengemukakan bahwa tersenyum adalah permulaan tertawa dan tertawa adalah terbukanya dengan sukacita sehingga nampak gigi-giginya karena merasa senang. Maka jika tertertawanya itu didengar orang disekitarnya adalah mengeligik (terbahak-bahak) dan jika tidak maka itu tertawa. Kemudian jika tanpa suara maka ia adalah tersenyum. (Demikian Al-Azizi)
Saudaraku sidang pembaca yang terhormat. Akhir dari tulisan (religius) ini ingin saya sampaikan dua atsar setentang menyedikitkan tertawa sebagai berikut:
# Daari Ahnaf berkata:” Memperbanyak tertawa itu menghilangkan kewibawaan dan memperbanyak senda gurau itu dapat menghilangkan keperwiraan.” (Dikutip dari Tanqihul Haul)
# Umar ra berkata:” Siapa banyak tertawanya maka ia sedikit kewibawaannya dan siapa yang senda gurau maka ia remeh karenanya. Siapa yang memperbanyak sesuatu maka ia diketahui dengannya, siapa yang banyak perkataannya maka banyak kesalahannya dan siapa banyak kesalahan maka sedikit pula keperwiraannya dan siapa yang sedikit keperwiraannya maka matilah hatinya.” (Dikutip dari Tanqihul Haul)
Sampai disini saya akhiri tulisan (religius) judul sesuai tersebut diatas Bagian Kedua. Semoga bermanfaat, terima kasih atas segala perhatian mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah, dikesempatan lain tentu saja dengan judul tulisan saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Terjemah Tanqihul Haul Oleh:Syaikh Muhammad Nawawi Bin Umar Al-Jawi.#
…
# Tulisan (religius) ini dapat anda temukan pada website:www:Hajisunaryo.com#
…