Assalamualaikum sidang pembaca, apa khabar? Alhamdulillah, puja dan puji syukur terhaturkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia serta hidayahNya kepada kita. Nikmat berupa kesehatan, panjang umur sehingga sampai saat ini kita mampu berkarya (menulis artikel religius) membacanya kemudian mengamalkannya.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling agung yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya beserta para Sahabatnya.
Sidang pembaca, lewat kesempatan ini perkenankan penulis menyampaikan sesuai judul artikel ini tersebut diatas. Semoga bermanfaat, menyejukkan, menjadi sebagai tambahan ilmu dan yang utama mendapat tempat disetiap relung hati pembaca.
Saudaraku sesama muslim, muslimat. Maut adalah sesuatu perkataan yang paling ditakuti oleh hampir setiap manusia. Setiap orang, juga binatang takut mati (kecuali beberapa manusia yang sudah putus asa dalam kehidupan ini yang ingin segera mati). Wajar sekali kalau manusia takut mati, sebab mati berarti berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan segala yang disayangi atau dicintai. Berpisah dengan anak dan istri serta kekasih. Berpisah dengan bapak atau ibu, berpisah dengan harta dan pangkat, berpisah dengan segala isinya.
Semua orang takut mati, tetapi ada yang ketakutannya berlebihan sekali tetapi ada juga yang takutnya kepada kematian sedikit saja, malah ada yang tidak takut sama sekali terhadap mati bahkan sangat berani mati dan ingin mati.
# Ketakutan kepada kematian adalah karena dua hal:
Pertama: Karena kurang atau tidak adanya pengetahuan kita tentang mati, keadaan mati, dan keadaan selepas mati adalah gelap. Semua orang takut menempuh tempat yang gelap dan tidak diketahui.
Kedua: Karena dosa dan kesalahan yang sudah bertumpuk dan tidak bertaubat, sehingga mendengar kata mati sudah terbayang adzab dan siksa yang diperolehnya akibat dosa dan kesalahannya itu.
Tetapi bagi orang yang cukup pengetahuan dan keyakinannya terhadap hidup sesudah mati dan merasa dirinya tak pernah melakukan dosa dan kesalahan maka baginya tak ada ketakutan terhadap kematian malah ingin sekali untuk mati. Tetapi agama Islam melarang orang ingin cepat mati, agar dapat hidup melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Dan kalau ingin hidup lama adalah dengan tujuan agar dapat semakin banyak melakukan kebaikan bukan pula untuk dapat lebih banyak menumpuk harta dan kekayaan atau keturunan. Ada beberapa petunjuk dari Rasulullah SAW untuk selalu dzikrul maut (ingat akan mati) antara lain:
1. Perintah memperbanyak mengingat mati:
# Sesuai sabda Rasul:
(Artinya):” Perbanyaklah mengingat -ingat sesuatu yang melenyapkan dan menjadikanya segala macam kelezatan (kematian)” (HR:Turmidzi)
2. Mengingat kematian dapat melebur dosa dan zuhud.
# Nabi SAW bersabda
(Artinya):” Perbanyaklah mengingat kematian sebab yang demikian itu akan menghapus dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan didunia.” (HR:Ibnu Abbiddunya)
3. Kematian sebagai penasihat pada diri sendiri.
# Rasulullah SAW bersabda:
(Artinya):” Cukuplah kematian itu sebagai nasehat. (HR:Thabrani dan Baihaqi)
4. Orang cerdik ialah orang banyak mengingat maut
# Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW
(Artinya):” Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi kealam baka dengan membawa kemuliaan dunia dan akherat.” (HR:Ibnu Majah dan Abiddunya)
Sidang pembaca selain 4 (empat) macam petunjuk Rasulullah SAW kepada kita agar selalu zikrul maut (ingat akan mati) tersebut diatas adalah sangat relevan agar kita selalu ingat kepada kematian. Apabila kita melakukan beberapa perkara seperti berikut:
1. Menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut. Betapa dahsyatnya dan menakutkan lebih-lebih kalau berdosa. Keadaan sakaratul maut ini digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam Hadistnya:
# Bersabda Rasulullah SAW:
(Artinya):” Sakitnya sakaratul maut itu kira-kira tiga ratus sakitnya pukulan pedang.” (HR:Abidunnya)
2. Melakukan ziarah kubur, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
# Nabi SAW bersabda:
(Artinya):” Lakukanlah ziarah kubur karena ia mengingatkan mati.” (HR:Muslim)
3. Merasakan diri selalu diawasi Allah SWT dimana saja kita berada. Oleh karenanya dengan demikian senantiasalah kita terpanggil untuk berbuat (beramal) yang baik.
# Nabi Muhammad SAW bersabda:
(Artinya:” Seutama-utama iman seseorang itu ialah bahwa ia mengetahui dengan sungguh-sungguh bahwa Allah SWT itu ada bersama dengannya dimanapun ia berada.” (HR:Ubadah bin Shamit)
4. Sadarilah bahwa perasaan kita sering disaksikan oleh anggota badan kita sendiri, yakni oleh lidah, tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan hati. Hal ini difahamkan Allah dalam Al-Qur`an Surat An-Nur ayat dua puluh empat yang bermaksud:
(Artinya):” Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menyaksikan atas mereka terhadap apa yang dahulu mereke kerjakan.” (QS:An-Nur:24)
5. Begitu pula agar disadari bahwa perasaan kita selalu disaksikan, dilihat dan diikuti oleh siang dan malam, bumi tempat kita berpijak, langit serta malaikat Raqib dan Atid dan malaikat-malaikat lainnya. Allah SWT berfirman:
(Artinya):” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusai dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadi lehernya sendiri. Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain sebelah kiri tiada sesuatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS:Al-Qaf:16-18)
# Dan FirmanNya:
(Artinya):” Bagi manusia ada malaikat -malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS:Ar-Ra`d:11)
Keterangan:Malaikat ini disebut malaikat Hafazhad.
Seorang ulama pernah berkata:” Selain Allah sesuatu yang paling sering dilupakan manusia adalah kematian.” Padahal kematian menjadi sebuah fenimena nyata yang selalu disaksikan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Kematian keluarga, tetangga atau orang -orang yang tidak kita kenal yang dapat diketahui dari berita-berita kematian diberbagai media masa, selalu terjadi setiap saat.
Karena tidak disadari maka kematian datangnya tampak selalu mendadak. Banyak terjadi, manusia yang dicabut nyawanya dalam keadaan sedang bergembira ria. Kemanapun kita berlari dan dimanapun kita berada, mati akan datang merenggut. Ini adalah suatu kepastian, dan kita hanya menunggu giliran.
Saudaraku, Rasul memberikan rumusan yang lain. Yaitu bahwa manusia cerdas ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Dengan mengingat mati, kehidupannya didunai dikelola, tidak hanya sebagai kesenangan tetapi juga menjadi ladang beramal baik sebanyak-banyaknya.
Dengan mengelola keseimbangan hidup diperolehlah kemuliaan dunia dan keselamatan diakherat. Karena menyadari dan sangat menyadari perjalanan diakherat yang jauh dan abadi tentu membutuhkan bekal yang jauh lebih banyak lagi dibandingkan didunia. Karena itu kecerdikan yang sering dipahami manusia akan bermakna jika diiringi kecerdikan memikirkan nasib diakherat.
Akhir dari tulisan (religius) ini kembali saya sampaikan sebuah Hadist riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam Abidunnya berikut ini:
(Artinya):” Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia dan akherat.” (HR:Ibnu Majah dan Abiddunnya)
Terima kasih atas segala perhatian mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jumpa lagi kita insya Allah dikesempatan lain tentu saja dengan tulisan (religius) saya yang lain. Waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
…
# Bahan bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Kenikmatan Alam Kubur Oleh: Abdurrahman Busyairi Penerbit:Lintas Media#
…
# Artikel(Religus) ini dapat anda temukan pada website:Hajisunaryo.com#